Tadabbur Asma’ul Husna I al-Kariim (Allah Yang Maha Pemurah)

KEBANYAKAN manusia ketika marah akan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dan mengungkit kesalahan orang yang dimarahinya. Beda halnya dengan Allah al-Kariim, sekalipun murka Dia tidak menukil kesalahan hamba tersebut. Ini adalah salah bukti kemuliaan-Nya. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.(QS. al-Infithar: 6).

Allah al-Kariim selalu membimbing hamba-Nya untuk bertaubat betapa pun besar kesalahannya. Bahkan dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Dia akan mengganti dosa-dosa hamba dengan kebaikan jika ia bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Allah al-Kariim sangat memuliakan manusia. Dia menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna. Manusia juga ditunjuk sebagai Khalifah di muka bumi. Tidak hanya itu, Allah al-Kariim juga mengaruniakan keseimbangan dalam tubuh manusia. Alis yang seimbang, mata yang seimbang, gigi yang tidak tumbuh bagaikan rambut, kaki yang tidak panjang sebelah, dan banyak keseimbangan lainnya. Makanya Allah menegaskan dalam surat Al Infithar ayat 6 di atas, apa yang membuat kita lalai dari mengingat Allah.

Disamping menyandang al-Karim Allah Swt. mensifati diri-Nya dengan al-Akram (Yang Paling Mulia) yang tidak ada yang lebih mulia dari-Nya. Allah Swt. berfirman;

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.” (QS. al-Alaq :3-4).

Ibnu Qayyim menjelaskan terkait ayat di atas, “Allah Swt. Mengulang perintah membaca seraya menyurati dirinya dengan al-Akram (bentuk superlative dari karam), yakni memiliki kebaikan yang sangat banyak, tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia dari-Nya, segala kebaikan ada di tangan-Nya, semua kenikmatan diatur oleh-Nya, kesempurnaan dan kemuliaan seluruhnya milik Allah, Dia al-Akram (Yang Paling Mulia) yang sebenarnya.” (miftahu daris sa’adah)

Di ayat lain Allah Swt. Berfirman, “Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia” (QS. ar-Rahman: 78).

MAKNA AL-KARIIM

Mengenai makna al-Kariim Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Majmuul Fatawa, “Lafazh karam merupakan Lafazh yang mencakup kebaikan-kebaikan dan pujian-pujian. Karam tidak hanya dimaksudkan sebagai pemberian akan tetapi pemberian dalam arti yang sempurna, dan orang yang berlaku baik kepada yang lainnya termasuk kesempurnaan kebaikan. Al-Karam berarti kebaikan yang banyak dan kemudahan dalam melaksanakannya.”

Halimy menambahkan, “Makna dari al-Kariim adalah sesuatu yang memberikan banyak manfaat, seperti ada perkataan Syaatun kariimatun yakni kambing yang memiliki air susu banyak yang melimpah ruah.” (al-Minhaj di Syuabil iman)

MAKNA AL-KARIM BAGI ALLAH

Ibnu Qayyim berkata, “al-Kariim adalah al-bahiyy (Yang Mahaindah), yang banyak kebaikannya, yang agung dalam memberikan manfaat, Dia yang paling indah dan paling mulia dari segala sesuatu. Allah menyifati dirinya dengan karam (kemuliaan), menyifati kitab dan ‘arasy-Nya dengan sifat tersebut. (at-Tibyaan di Aqsaamil Qur’an)

Menurut Abu Wasim az-Zujaji dalam bukunya “Isyiqaq Asmaillah” al-Kariim berarti al-Jawwad (Maha Dermawan), ash-Shaffuh (Yang Maha Pemaaf). Inilah tiga pengertian al-Kariim menurut ucapan orang Arab. Semuanya bisa disifatkan kepada Allah Swt.

MAKNA AL-AKRAM BAGI ALLAH

Ibnu Taimiyah berkata, “Allah Swt. Menjelaskan bahwa Dia adalah al-Akram dengan Shihab tafdhil (superlative). Ini menunjukkan bahwa hanya Allah yang paling mulia dan dermawan.” Beliau melanjutkan, “Ini juga menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih mulia lagi dari-Nya dan Dia tidak memiliki kekurangan sedikit pun.” (majmu’ al-Fatawa)

Ibnu Qayyim, “al-Akram adalah bentuk wazan af’al dari kata karam, yakni kebaikan yang sangat banyak. Tidak ada yang lebih utama kebaikannya dari Allah Swt., Karena semua kebaikan berada di tangan-Nya, semua kenikmatan Dia yang mengatur-Nya, kesempurnaan dan kemuliaan semuanya milik-Nya. Dia-lah al-Akram yang sebenarnya.” (Miftahul Daris Sa’adah).

PERBEDAAN AL-KARIIM DAN AL-AKRAM

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa al-Akram adalah sifat Dzat dan al-Kariim adalah sifat fi’il (perbuatan). Keduanya berasal dari satu kata yaitu al-Karam. Al-Karim dan al-Akram bermuara pada satu makna yaitu kemuliaan dan kedermawanan Allah Swt.. (al-Asna di syarhi asmaillahil Husna)

Hal terpenting ketika mempelajari Asma Allah adalah bukan sekedar mengetahui saja, tapi bagaimana asma-Nya itu mengejawantah menjadi sifat kita. Artinya, berusaha meniru bagaimana Allah berbuat baik kepada mahluk-Nya. Dalam kemarahan tetap ramah dan sopan serta tidak mencela. Memaafkan sebelum orang yang menyakiti kita meminta maaf, dan banyak lagi sifat mulia Allah yang seharusnya kita contoh. *Majelis Tadabbur Asmaul Husna, Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 10 Maret 2018.

Sebarkan Kebaikan!