Tadabbur

Tadabbur Asma’ul Husna I Al-Hafiizh

Dalam hidup ini, banyak hal yang mengancam kehidupan kita. Kalau bukan karena penjagaan Allah, maka kita tidak akan pernah selamat di muka bumi ini.

  • Muhasabah

Segala puja dan puja hanya bagi Allah, karena Dia telah menyelamatkan ideologi kita tentang-Nya, Tuhan tidak punya anak, Tuhan tidak punya partner dalam hal kekuasaan, dan tidak membutuhkan bantuan di bumi untuk mengatur alam. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.

Dalam banyak hal kita seringkali menganiyaya diri sendiri. Kita mengejar ilmu yang justru membuat jauh dari Allah. Dia memberikan kepada kita kekuatan dan kekuasaan, tapi justru keduanya kita gunakan untuk melawah kepada-Nya. Ya Allah betapa bodohnya kita ini. Engkau yang tidak pernah membutukan kami, kami yang setiap saat membutuhkan kami, Engkau yang setiap saat memenuhi hak-hak kami, tapi kami seringkali lalai dalam memenuhi hak-Mu ya Allah.

Maha suci Engkau ya Allah, sesungguhnya kami selama ini yang sering menganiyaya diri kami senidri. Kami memohon ampun kepada-Mu dan terimalah taubat kami. Engkaulah yang menciptakan kami, dan Engkaulah yang menjaga kami, tetapi kami seingkali tidak terjaga tentan-Mu. Tapi seringkali kami tidak menjaga batasa-batasa-Mu. Seringkali  kami tidak menjaga apa yang Engkau larang.

Tidak ada yang paling penting kami cari selain rahmat-Mu. Makanan adalah rahmat, air yang kami minum adalah rahmat, dan kami tidak bisa hidup tanpa rahmat-Mu. Ya Allah berikan kami rahmat terbsar-Mu, yaitu arrahmanu allamal qur’an. Ajarkan kepada kami bahwa Engkau adalah ar-Rahman. Inspirasikan kepada kami untuk menjadikan-Mu ar-Rahman dan ajarkan kepada kami ar-Rahman dan ajarkan kepada kami Al-Qur’an.

Maha suci Engkau ya Allah. Begitu banyak rahmat dan kasih sayang, tetapi kepada mahluk kami mencari kasih sayang, kepada mahluk kami mencari kebutuhan-kebutuhan, padahal yang kami butuhkan adalah bersal dari-Mu yang Allah. Semua yang bisa memenuhi kebutuhan hanya Engkau. Tapi seringkali kami berlaku bodoh dengan melupakan-Mu.

Ilmu yang paling besar yang harus kami cari adalah ilmu ma’rifat (ilmu mengenal-Mu). Sejauh mana pun kami mencari ilmu dan seberapa pun kami bayar, kalau tidak mendekatkan kepada-Mu, jika tidak menambah takut, maka bukan ilmu namanya. Karena orang berilmu itu adalah yang paling takut kepada Allah dan yang paling khusyu dalam beribadah.

Kenalkan kepada kami tentang-Mu lewat nama-Mu. Ajarkan kepada kami tentang-Mu lewat nama-Mu. Mampukan kami menyikapi diri-Mu dengan benar lewat sifat-sifat-Mu. Ya Allah mampukan juga kami untuk ridha dengan semua ketetapan dan perbuatan-perbuatan-Mu. Karena seringkali kami mencari ilmu yang tidak membuat kami dekat kepada-Mu dan tidak membuat kami semakin takut kepada-Mu.

Ada sebuah kaidah yang harus kita terapkan pada diri kita, “Bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia akan mengajarkan ilmu-Nya kepadamu”.

Banyak di antara kita selama ini yang menuntut ilmu dengan tidak memulai dari takwa, lansung ilmu, hal itu tidak mungkin terjadi. Silahkan kuliah dan mengambil title yang paling tinggi, tapi itu hanyalah sebuah sematan, belum tentu itu adalah ilmu. Ilmu itu datang setelah takwa.

Jika hanya ilmu tidak mendekatkan diri kepada Allah, maka percayalah itu bukan ilmu. Kita hanya semakin jauh dari yang kita anggap ilmu itu. Kita akan semakin sesat dan semakin jauh dari hidayah Allah. Maka bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia akan mengajarimu ilmu-Nya.

Seringkali kita tidak memosisikan Allah sebagaimana mestinya. Mengagungkan Allah sebagaimana mestinya. Tidak menghamba kepada Allah sebagaimana seharusnya. Ilmu itu bersegera mengerjakan perintah-Nya dan berani meninggalkan larangan-Nya.

  • Tadabbur Allah Al-Hafizh

Secara kosakata, ada dua kata yang berdekatan baik lafaz mau pun makna, yaitu al-Haafizh dan Al-Hafiizh. Ada perbedaan spesifik di antara keduanya, tapi secara garis besar keduanya berdekatan makna, yaitu Allah yang Maha Menjaga dan Allah yang Maha Memelihara.

Yang terkandung dalam asma Allah ini adalah, terkait dengan Allah dan terkait dengan manusia. Al-Haafizh atau Al-Hafiizh jika terkait dengan Allah maka maksudnya adalah penjagaan-Nya kepada semua mahluk dengan semua pengetahuan-Nya dan dengan segenap kekuasaan-Nya. Jika itu terkait dengan manusia, maka biasanya itu terkait dengan nabi dan rasul.

Jika kata haafizh artinya menjaga dan memelihara maka hafiizh lebih spesifik lagi penjagaan-Nya. Dari sini kita akan pelajari bagaimana penjagaan Allah terhadap jagad raya dan bagaimana bentuk penjagaan Allah kepada orang-orang beriman. semoga kita bisa mendapatkan imu faktor-faktor mendapatkan penjagaan Allah Swt.

Dalam kehidupan ini, banyak hal yang mengancam kehidupan kita. Kalau bukan karena penjagaan Allah, maka kita tidak akan pernah selamat di muka bumi ini.

Kita ini berada di dalam selimut-selimut cahaya, kita ini berada di bawah naungan langit, kita juga berpijak di atas bumi yang keras, bumi yang semua difasilitasi dari langit adalah bentuk penjagaan dan pemeliharaan Allah kepada hamba-Nya. Hanya orang-orang yang senantiasa menjaga ketakwaan, dan menjaga hubungan dengan Allah Swt. yang bisa merasakan penjagaan-Nya. Otak yang tumpul, qalbu yang keras, dan perhatian yang lalai tidak mungkin bisa mendeteksi keberadaan Allah Al-haafizh sekaligus sebagai Al-Hafiizh.

Secara sains, manusia mengetahui bahwa awal penciptaan jagad raya berawal dari big bang. Padahal sebelum big bang itu masih ada detak waktu yang panjang dan peristiwa-peristiwa besar yang tidak pernah diketahui oleh manusia. sebagaimana yang digambarkan oleh Allah Swt., permulaan segala sesuatu bukan big bang tetapi al-Qalam (pena). Mahluk yang bernama pena itu diperintahkan oleh Allah untuk menulis semua ketetapan-Nya. Setelah ditulis maka terciptalah, hanya dengan dua huruf, yaitu KUN.

Allah ciptakan semuanya dengan planning dan perancangan yang sangat detil melwati sebuah proses yang sangat luar biasa, dan kemudian semua terjadi sesuai dengan kehendaknya. Semua persitiwa yang menimpa kita persis seperti yang diinginkan oleh Allah. Tidak satu pun persitiwa yang menimpa kita keluar dari akurasi yang telah ditetapkan-Nya.

Ada banyak ancaman disekeliling kita, seperti, andai terjadi perang nuklir maka hancurlah dunia ini, tapi Allah yang Maha Berkehendak. Dunia tidak akan kiamat berdasarkan perkiraan manusia. Dunia tidak akan kiamat oleh ledakan-ledakan nuklir dari kejahatan manusia. Dunia ini akan berakhir seperti yang Allah kehendaki. Kiamat hanya akan terjadi seperti yang Allah telah tetapkan. Semua telah diatur dalam penjagaan dan pemeliharaan Allah Swt.

Allah menjelaskan di dalam al-Qur’an bahwa Allah itu al-Haafizh (Yang Maha Menjaga) dan al-Hafiizh (Yang Maha Memelihara).

Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. (QS. As-Saba’: 21)

Iblis tidak bisa mengkafirkan manusia satu pun, karena Allah Maha Menjaga dan Maha Memelihara. Kalau pun ada manusia yang kafirakibat salah satu usaha iblis, itu pun takdir Allah Swt. Lalu apa tujuannya? Maka jawabannya adalah untuk membedakan siapa yang beriman tentang adanya kehidupan akhirat dan orang yang ragu tentang itu.

Sebanarnya adanya yang mukmin dan kafir bermula dari keyakinan dan keraguan terhadap akhirat. Ini adalah salah satu sudut ayat yang menjelaskan penyebab kekafiran dan keimanan. Bukan karena iblis karena Allah Maha Menjaga dan Memelihara. Kalau ada manusia yang sudah dijaga tapi ragu dengan hari akhirat maka itu adalah penyebab kekafiran.

Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. (QS. Hud : 57)

Rasululullah Muhammad diutus hanya untuk menyampaikan amanah, yaitu risalah pesan-pesan ilahi. Jika kamu tidak mau, maka Allah bisa mengganti kita dengan mahluk yang lain.

  • Makna Al-Hafiizh

al-Hafiizh adalah salah satu asma Allah. Kata dasarnya adalah hifzh, yang berarti menjaga segala sesuatu agar tidak berubah. Kata dasar dari al-Hafiizh dan semua derivasinya menunjuk kepada makna memelihara dan menjaga. Al-Hafiizh merupakan bentuk mubalaghah dari al-Haafizh. (Mausuah wa lahul asmaaul husna).

Ibnu Manzhur mengatakan, “al-Hafiizh termasuk sifat Allah. Tak satu partikel atom pun terlepas dari pengawasan dan pemeliharaan-Nya. Allah telah memelihara makhluk dan hamba-Nya atas apa yang telah mereka lakukan, buruk atau baik. Dan Dia juga memelihara langit dan bumi dengan segala kuasa-Nya.” Menurut al-Khathabi, “al-Hafiiizh seperti al-Qadiir dan al-‘Aliim. Allah menjaga langit dan bumi beserta segala isinya agar bertahan hingga waktu yang telah ditentukan, tidak rusak dan tidak hancur.

Imam as-Sa’di berkata : “Allah al-Hafiizh adalah Yang menjaga apa yang diciptakan oleh-Nya, mengetahui segala sesuatu yang Dia ciptakan, menjaga para wali-Nya agar tidak jatuh ke dalam dosa dan kehancuran, lembut dengan mereka baik di dalam pergerakan mereka maupun ketika diam, dan Allah menghitung semua amalan hamba-hamba-Nya dan membalasnya.” (Taisirul karimir Rahman).

Sedangkan Syaikh al-Qahthani menjelaskan bahwa makna al-Hafiizh memiliki dua makna :

  1. Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya; yang baik atau yang buruk, yang taat dan yang maksiat. Karena ilmu Allah meliputi semua hal baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Allah telah menulis semuanya di Lauhil mahfuuzh dan Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk mencatat semua amalan  hamba-hamba-Nya.
  2. Allah menjaga hamba-hamba-Nya dari segala keburukan. Penjagaan Allah al-Hafiizh ada yang sifatnya umum dan khusus. Yang umum seperti penjagaan Allah kepada semua makhluk dengan mempermudah apa yang membuat mereka terjaga, menjaga jalan mereka, mereka dapat berjalan menuju hidayah-Nya dan kemaslahatan-kemaslahatan mereka dengan petunjuk dan hidayah-Nya. Sedangkan yang khusus adalah Penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala kepada para wali-Nya (kekasih-Nya), apa yang membahayakan bagi keimanan mereka atau dari hal-hal yang dapat mengguncang keyakinan dan keimanan mereka seperti syubhat, fitnah, dan syahwat. Allah juga akan menjaga mereka dari  musuh-musuhnya.
  • Beberapa Bentuk Penjagaan Allah al-Hafiizh
  1. Allah menjaga makhluk dari kerusakan dan kehancuran

Dengan ilmu dan kekuasaan-Nya, Allah menjaga alam agar tidak rusak dan hancur hingga datang nanti saatnya. Dan itu tidak memberatkannya. Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah (al-Fathir : 41)

  1. Allah menjaga al-Qur’an dari pengubahan dan pergantian.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴾

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (al-Hijr : 9)

  1. Allah menjaga (menghitung, mencatat, dan memberi balasan)

atas perbuatan hamba.

Pengetahuan Allah tentang ini sangat luas. Dialah yang menghitung amalan-amalan hamba. Untuk menjaga amalan-amalan mereka, Dia telah mewakilkannya kepada para malaikat. Allah berfirman :

كِرامًا كَاتِبِينَ ﴿١١﴾ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ ﴿١٢﴾

yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Infithaar : 11-12)

Al-Khathabi menjelaskan bahwa Allahlah yang menjaga perbuatan para hamba, yang menghitung jumlah ucapan mereka, yang mengetahui niat dan apa yang disembunyikan di dalam qalbu mereka dan yang tersembunyi. (Sya’nud du’a)

  1. Allah menjaga para wali-Nya dari kesesatan dan kemungkinan salah dan dosa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُ: بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang dari kalian hendak tidur, maka hendaklah ia mengibaskan di atas tempat tidurnya dengan kain sarungnya, karena ia tidak tahu apa yang terdapat di atas kasurnya. Lalu mengucapkan doa: bismika rabbii wadha’tu janbii wabika arfa’uhu, in amsakta nafsii farhamhaa, wain arsaltahaa fahfahzh-haa bimaa tahfazhu bihi ‘ibaadakashshaalihiin (Dengan nama-Mu Wahai Tuhanku, aku baringkan punggungku dan atas nama-Mu aku mengangkatnya, dan jika Engkau menahan diriku, maka rahmatilah daku, dan jika Engkau melepaskannya, maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-Mu yang shalih).” (HR. Bukhari)

  1. Allah subhanahu wa ta’ala jika dititipkan sesuatu maka Dia akan menjaga titipan-Nya.

كعَنْ قَزَعَةَ، قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ هَلُمَّ أُوَدِّعْكَ كَمَا وَدَّعَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ» [رواه أبو داود]

dari Qaza’ah, ia berkata; Ibnu Umar berkata kepadaku; kemarilah aku akan mengantarmu sebagaimana Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam mengantarku, kemudian ia mengucapkan; “Astaudi’ullaaha Diinaka Wa Amaanataka Wa Khawaatiima ‘Amalika” (Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu dan akhir dari amalanmu). (HR. Abu Dawud)

  • Buah Keimanan dari Asma Allah al-hafiizh dan al-Haafizh
  1. Dengan mengenal asma Allah aal-Hafiizh, seorang hamba akan tambah keimanannya kepada Allah dan bertambah ketundukannya kepada-Nya sehingga akan membuatnya beribadah kepada-Nya secara total.
  2. Merasakan pengawasan Allah di dalam ucapan dan perbuatan agar sesuai dengan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, karena tidak ada yang tidak diketahui oleh Allah. Dia adalah al-Haafiizh yang menjaga dan menghitung amalan-amalan hamba-hamba-Nya di dalam kitab yang tidak meninggalkan yang kecil maupun yang besar melainkan Dia mencatatnya. Ibnu Qayyim berkata, “muraqabah adalah beribadah kepada Allah dengan asma-Nya : ar-Raqiib (Maha Mengawasi), al-Hafiizh (Maha pemelihara), as-Samii’ (Maha Mendengar), al-‘Aliim (Maha Mengetahui), al-Bashiir (Maha melihat).” (Madarijus salikiin)
  3. Orang yang mengenal asma Allah al-Hafiizh, dia akan menjaga anggota tubuhnya, qalbunya, dan agamanya dari hal yang mendatangkan kemarahan Allah. Dia akan menjauhkan diri dari syahwat, rayuan setan, dan tipuan nafsu.
  4. Mengagungkan Allah dan hanya beribadah kepada-Nya, karena Dialah Pencipta alam semesta dan yang menjaganya. Dialah yang menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap.
  5. Benar dalam bertawakkal kepada-Nya. Karena orang yang terjaga adalah dia yang mendapatkan penjagaan dari Allah al-Hafiizh, dan yang tidak mendapatkan penjagaan-Nya akan hancur dan lenyap.
  6. Membuat usaha-usaha yang mendatangkan penjagaan Allah, di antaranya adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala, melakukan hal-hal yang diridhai Allah, menjauhi hal-hal yang dilarang oleh-Nya, dan menjaga Allah dalam kehormatan-Nya, agama-Nya, dan syariat-Nya. Karena Barangsiapa yang menjaga Allah, maka Allah akan menjaganya.
  7. Ibnu Rajab berkata, “Jagalah batasan-batasan Allah, hak-hak-Nya, perintah-perintah-Nya, dan larangan-larangan-Nya. Menjaga dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, tidak melewati batasan-batasan-Nya, dan tidak melewati batasan apa yang diperintahkan sampai kepada yang dilarang. Dan dalam kategori di atas melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan.”
  8. Bertambah kecintaan kepada Allah, selalu memuji-Nya, dan senantiasa bersyukur kepada-Nya atas penjagaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dari keburukan dan kehancuran.
  9. Orang yang terjaga adalah orang yang mendapatkan penjagaan dari Allah al-Hafiizh.

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close