Tadabbur Al-Qur’an Surat Ali-Imran 35-36 I Beginilah Seharusnya Cita-cita Para Orangtua untuk Anaknya

Pada pembahasan tadabbur sebelumnya surat Ali-Imran ayat 35, KH Bachtiar Nasir mengutarakan tentang keajaiban doa Hannah Binti Faqudz. Istri Imran itu bercita-cita menitipkan anaknya kepada Zat yang Maha Besar di tempat dimana nama-Nya di besarkan, yaitu Baitul Maqdis. Hannah telah berkomitmen jika dianugrahi keturunan tidak akan menjerumuskan anaknya ke lembah kemusyrikan.

KH Bachtiar menjelaskan bahwa pelajaran penting dari penjelasan di atas bahwa orang tua harus mempunyai cita-cita yan tinggi dan visi besar dalam mendidik anak, kemudian mendoakan kebaikan untuknya, sebagaimana Hannah yang berdoa dan bernazar jika dikaruniai anak ia akan menyerahkan kepada Allah untuk mengabdi di Baitul Maqdis. Hannah bercita-cita tinggi karena memilihkan jalan hidup yang terbaik untuk anaknya. Sebab pada masa itu, menjadi penjaga Baitul Maqdis adalah pekerjaan yang sangat mulia dan dan populer.

Penjaga rumah Allah juga telah dijamin kehidupannya. Hal itu termaktub dalam surah At-Taubah ayat 18:

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Pelajaran kedua yang bisa diambil dari cita-cita Ibunda Maryam adalah, didiklah anak-anak kita untuk bisa hidup di zamannya, bukan mendidik mereka hidup di zaman kita. Banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk menekuni satu bidang yang sebenarnya tidak sesuai dengan potensinya, sehingga sama saja membunuh masa depan anak tanpa didasari.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari perjalanan istri Imran ini adalah, apa pun yang ditetapkan oleh Allah itulah yang terbaik. Allah maha mengetahui apa yang pas untuk hamba-Nya. Sebagaimana Hannah, ketika bermimpi dianugrahi anak laki-laki agar bisa dijadikan pelayan Baitul Maqdis, tapi Allah malah memberinya anak perempuan. Sehingga Ibunda Maryam mengutarakan kepasrahannya kepada Allah yang termaktub dalam surat Ali-Imran ayat 36.

 

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

 

Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”.

 

  • Tafasir Jalalain

(Tatkala ia melahirkan anaknya) ternyata bayi itu perempuan sedangkan ia mengharapkan anak lelaki karena yang biasa dibaktikan itu hanyalah anak laki-laki (maka katanya) menyatakan penyesalan, “Wahai (Tuhanku! Sesungguhnya aku melahirkan anak perempuan.” dan Allah lebih tahu) mengetahui (apa yang dilahirkannya) firman Allah swt. yang merupakan interupsi bagi berita ini; menurut satu qiraat dengan ta baris di depan: wadha`tu (“dan anak laki-laki tidaklah) seperti yang dimintanya itu (serupa dengan anak wanita) yang diberikan Tuhannya, sedangkan maksudnya untuk membaktikannya guna berkhidmat kepada agama. Sebagaimana diketahui, anak wanita tidaklah tepat untuk keperluan itu disebabkan fisiknya lemah, auratnya, masa haid yang dialaminya dan lain-lain. (Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam, kulindungkan dia serta anak-cucunya kepada-Mu dari setan yang terkutuk”) atau terusir. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Tidak seorang bayi pun yang dilahirkan melainkan ia disentuh setan sewaktu ia dilahirkan itu sehingga ia menangis dengan suara keras kecuali Maryam dan putranya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

  • Tadabbur Ayat

Pada zaman Imran, yang paling pantas untuk menjadi pelayan Baitul Maqdis adalah laki-laki, sehingga Hannah pun bercita-cita agar dikaruniai anak dari kaum Adam. Akan tetapi, Maryam bukan wanita biasa, hal ini murni rekayasa Allah untuk menegaskan dan mengangkat derajat wanita. Kemuliaan Maryam itu karena doa ibunya, Hannah Binti Faqudz istri Imran.

Ketika Hannah mengetahui bahwa anaknya adalah perempuan ia lansung berdoa kepada Allah sebagai bentuk curhatnya karena anaknya bukan laki-laki seprti. Ia mengutarakan kepasrahannya kepada Allah atas cita yang tidak sesuai dengan kenyataan. Curhatan Hannah itu bukan berarti dia menyesal dan tidak menerima ketetapan Allah. Sebagai manusia biasa perasaan demikian adalah hal yang wajar ketika apa yang diinginkan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Poin penting dari ayat ini:

  1. Pelayan Baitul Maqdis pada zaman Imran adalah laki-laki, karena secara fisik laki-laki lebih bisa berbuat banyak daripada perempuan. Para pelayan Baitul Maqdis sebelum baligh masih bisa pulang ke rumahnya, tapi jika sudah baligh dan setuju maka dia terikat. Tapi terikat dalam pengertian tidak seperti pendeta yang tidak boleh menikah. Para pelayan Baitul Masjid tetap diberi hak-hak fitrahnya sebagai mahluk biologis.
  2. Allah menegaskan bahwa Dia Mahamengetahui dan ketetapan-Nyalah yang terbaik. Setelah Hannah memohon kepada Allah untuk dikaruniakan anak laki-laki, tapi ternyata harapannya tidak sesuai dengan yang diberikan.
  3. Memang anak Hannah adalah perempuan, tapi Maryam bukan wanita biasa. Maryam artinya hamba “Abidan”, pelayan rumah ibdah.
  4. Setelah Hannah memberi nama kepada anak perempuannya, dia memohonkan perlindungan Allah dari setan. Setan terbagi dua, setan yang dijauhkan dari rahmat dan dilaknat, dan setan yang dilempar karena durhaka.

Pesan penting dari ayat ini adalah ketika Hannah melahirkan Maryam. Dari kejadian itu Allah hendak mengangkat derajat wanita dan menegaskan bahwa Dia Maha Tahu. Hal itu terbukti ketika Maryam membuat mirhab sendiri untuk berdua-duaan dengan Allah dan dari rahim Maryam pula lahir Nabi Isa alaihi as-salam, anak keajaiban zaman yang lahir tanpa perantara Ayah. Hal ini adalah murni rekayasa Allah yang berangkat dari doa dan nazar istri Imran.

Sebagai penutup, visi besar harus ditanamkan agar anak kita menjadi penegak kebenaran. Orang tua masa kini, hal yang diperhatikan ketika ingin memperbaiki keturunan hanya dari segi fisik. Jadikan anak-anak itu bukan hanya anak biologis tapi jadi anak ideologis, jangan hanya berikan dia asupan biologis tapi berikan juga asupan ideologis. Jika orang tua tidak bisa mendidik anaknya layaknya Hannah Binti Faqudz, maka carikan guru yang pas dan memiliki kapasitas untuk mencetak generasi Maryam dan Isa Al-Masih.

Asupan yang pertama kali harus ditanamkan kepada anak-anak adalah perkenalkan dia kepada Allah agar ia cinta kepada-Nya, sehingga dedikasi dan cita-citanya hanya untuk-Nya. Setelah memperkenalkan Allah, perkenalkan ia kitabullah sebagai jembatan untuk mengenal-Nya. Lalu setelah itu, perkenalkan ia sirah nabawiyah agar tidak mengidola kepada tokoh yang salah. Paling minimal adalah bacakan setiap hari buat anak satu ayat atau hadis, sehingga ia terbiasa dengan Al-Qur’an dan hadis sehingga hal itu menjadi orientasnya dalam belajar.*Tadabbur Kamis Pagi oleh KH Bachtiar Nasir, 2 November 2017.

Sebarkan Kebaikan!