Kunci Sukses Para Orangtua Mendidik Anak di Era Digital

ORANGTUA bukan hanya sebagai guru pertama bagi anak-anak mereka. Lebih dari itu, orangtua juga harus menjadi profesor sekaligus rektor dalam pendidikan kepada anak-anak baik di rumah maupun di luar. Dari didikan dan sentuhan orangtualah, seorang anak akan menapak tangga-tangga kesuksesan dalam hidupnya.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6)

Jika kita naik pesawat pramugari mengintuksirkan agar mengenakan masker terlebih dahulu sebelum mengenakan kepada anak. Artinya, menjaga diri sendiri dari api neraka lebih diutamakan kemudian menjaga keluarga. Dimulai dari ayah maka akan mudah mengajarkan kepada anak dan istri. Ayah sebagai pemimpin keluarga harus menjadi teladan bagi anak dan istrinya. Misalnya, tentang film dan fun (gaya hidup) terhadap anak. Seorang ayah tidak bisa memaksa anak untuk menjadi seperti yang dia lakukan pada masa kecilnya. Anak zaman sekarang itu mempunyai dunianya sendiri, maka didiklah melalui dunianya bukan dunia ayah.

Dalam masalah fun. Biasanya jika ayah bertemu dengan anaknya maka pertama kali ditanyakan adalah hafalan dan pelajaran. Setelah itu anak akan merasa segan untuk bertemu dengan ayahnya sendiri, karena yang terfikir oleh anak adalah hafalan dan pelajaran itu, yang menurutnya masih berat. Belajar dan menghafal bagi anak itu memiliki dunia sendiri. Ayah yang kreatif dalam mendidik pasti melakukan pendekatan mulai dari yang disenangi oleh anaknya, tidak memaksakan kehendaknya. Misalnya, menanyakan klub bola kesenangannya, dia suka main apa, dan mainan favoritnya apa.

Anak-anak itu memiliki funnya sendiri. Misalnya,jika anak-anak ke mesjid pasti mereka akan seperti burung walek (ribut), tapi jangan bentak mereka dengan kasar, lakukanlah pendekatan melalui cara-cara fun, kemudian arahkan mereka agar benar di tempat yang benar, sehingga mereka betah di masjid. Banyak anak muda sekarang yang tidak betah di masjid hanya bermula dari masalah sepele seperti itu, ketika waktu kecilnya ia sering mendapatkan monster di masjid yang sering memarahinya. Masuklah ke alam fikiran dan alam jiwa anak-anak, lalu kita bentuk selerah fun-nya untuk mencintai kebenaran.

Anak zaman sekarang belajar dengan fun masa kini. Banyak anak zaman sekarang ketika dibacakan kitab kuning, mereka bosan dan tidak mau datang lagi. Hadits-hadits perlu dibacakan, tetapi harus diberikan narasi yang sesuai dengan fikiran dan jiwa mereka, agar hadits itu tidak membosankan. Misal, mengajari mereka hadits atau ayat yang bercerita tentang alam. Maka putarkan kepada mereka film yang bercerita tentang penciptaan alam, apa itu teori big-bang, lapisan atmosfir, sungai dalam laut, dan lain-lain sebagainya. Sehingga anak-anak itu betah dalam belajar dan tentu tidak menghilangkan dunia mereka dalam belajar.

Dengan demikian anak akan mengerti bahwa ada alternatif film yang edukatif fun intertraining. Maka sejak kecil mereka akan terbiasa dengan hal yang baik. Tentu mereka akan memiliki cara pandang berbeda terhadap film-film, jika mereka di beri you tube, yang mereka cari adalah ilmu, diberi tontonan tidak bermoral secara naluri mereka akan menolak, karena sejak kecil dididik dengan kreatifitas orang tuanya.

Ayah bisa melakukan percepatan dengan gaya pendidikan yang fun. Contoh, pelajaran matahari di sekolah, jika anak hanya diajari lewat buku, maka persepsi mereka terhadap matahari jauh berbeda dengan matahari yang asli. Percepatan belajar anak bisa 100 kali disbanding temannya yang hanya mengetahui matahari lewat buku pelajaran di sekolah, apalagi kalau bukunya hanya fotocopy. Boleh jadi temanya yang kuat menghafal nilainya bagus tapi, secara pengalaman anak kita mendapatkan data sains yang ril yang belum tentu didapatkan temanya yang kuat menghafal itu. Endingnya, anak-anak tinggal dibawa kepada pemahaman agama dan mengenalkan anak lewat ciptaan-Nya, maka lambat laung karakter mereka akan terbentuk sesuai yang ayah inginkan. Mendidik Anak dengan cara fun di era digital ini.

Sebarkan Kebaikan!