Tadabbur

Tadabbur Al Qur’an Kamis Malam |  Solusi Bagi Kaum Yang Berselisih

 

Dalam menanggapi perselisihan hidup sudah seharusnya dikembalikan kepada Allah. Karena, seandainya tidak ada penyelesaian dalam kitab dan tidak ada solusi dari sunnah Rasul maka tidak mungkin Allah perintahkan kita untuk kembali kepada-Nya.

 

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

 

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah: 213)

  • Tafsir Jalalain

(Adalah manusia itu umat yang satu) yang bersatu dalam keimanan lalu mereka bertikai paham sehingga sebagian mereka beriman dan sebagian lainnya kafir (Maka Allah pun mengutus para nabi) kepada mereka (membawa berita gembira) bahwa orang yang beriman akan masuk surga (dan peringatan) bahwa orang-orang kafir akan masuk neraka, (dan menurunkan bersama mereka Kitab), dengan arti kitab-kitab (dengan benar) berkaitan dengan ‘menurunkan’ (agar ia memberi keputusan dengan kitab itu (di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan) mengenai agama (Dan tidaklah berselisih tentangnya) mengenai agama itu (kecuali orang-orang yang diberi Kitab), maka berimanlah sebagian dan kafir sebagian (setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata) yang membuktikan ketauhidan. ‘Min’ berkaitan dengan ‘ikhtalafa’, dan bersama kalimat yang sesudahnya, ia didahulukan dari istitsna’ dalam makna (karena kedengkian) dari orang-orang kafir (sesama mereka. Maka Allah menunjuki orang-orang yang beriman mengenai yang mereka perselisihkan itu kepada) sebagai penjelasan (kebenaran dengan izin-Nya) artinya kehendak-Nya. (Dan Allah menunjuki siapa yang disukai-Nya), artinya untuk ditunjuki (ke jalan yang lurus) atau jalan yang benar.

 

  • Keterangan singkat ayat

Pada awalnya, manusia adalah umat yang satu di dalam petunjuk Allah SWT. Para Nabi dan Rasul kemudian diutus setelah timbul perselisihan di tengah kaum yang tadinya bersatu itu. Nabi dalam mengatasi perbedaan mempunyai peranan yang sangat penting karena mereka diberi tugas sekaligus fungsi mereka diutus untuk menyelesaikan perselisihan. Fungsi Nabi itu antara lain; membawa berita gembira, memberi peringatan, dan Allah menurunkan kepada kitab yang benar bersama mereka.

Imam as-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ada dua kemungkinan maksud dari umat yang satu disini yaitu, bersatu dalam petunjuk kemudian berselisih dan bersatu dalam kesesatan lalu ada yang mendapat petunjuk kemudian terjadi perselisihan di antara mereka. Ketikan Nabi Nuh AS diutus kepada kaumnya, pada saat itu manusia masih dalam persatuan dan perselisihan terjadi 10 abad setelah Nuh.

Tafsir Mubasysyirin (مُبَشِّرِينَ) adalah membawa berita gembira kepada siapa saja yang taat kepada Allah, bahwa akan ada balasan dari ketaatan mereka dalam bentuk rezeki, kekuatan badan dan kekuatan jiwa, kehidupan yang baik, dan mendapatkan ridha Allah SWT (surga). Mundzirin (مُنْذِرِينَ) adalah barang siapa yang bermaksiat kepada Allah maka dia akan dijauhkan dari rezeki, dilemahkan dan dihinakan, kehidupan yang sempit, dan mendapat murka Allah SWT (neraka). Sedangkan tafsir (وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ) adalah, karena al-Qur’an dan kitab yang diturunkan kepada para Nabi berisi informasi yang benar, perintah berbuat keadilan dan berlaku adil, semua isi kitab itu adalah kebenaran dan kebenaran yang ada di dalamnya mampu menyelesaikan semua persoalan dan perselisihan, baik persoalan fundamental maupun cabang.

Dalam menanggapi perselisihan hidup sudah seharusnya dikembalikan kepada Allah. Karena, seandainya tidak ada penyelesaian dalam kitab dan tidak ada solusi dari sunnah Rasul maka tidak mungkin Allah perintahkan kita untuk kembali kepada-Nya. Kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi adalah hakim untuk menyelesaikan apa yang diperselisihkan oleh umat yang berselisih.

Menanggapi persoalan di Indonesia yang marak dengan perbedaan pendapat, maka ayat ini menginformasikan solusinya, kembalikan kepada al-Qur’an karena di dalamnya terdapat solusi lansung dari Allah SWT. Sebenarnya umat Islam Indonesia sudah kembali ke al-Qur’an hanya saja masih ada segelintir orang yang mengedapankan ego dan mendewakan keinginan sehingga persatuan sulit untuk dicapai.

(وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ) Allah menjelaskan bahwa orang yang berselisih itu justru orang yang sudah didatangkan kepada mereka kitab dan mereka telah memahaminya. Penyebab utama dari perselisihan itu adalah, karena mereka tidak mau mengambil keterangan nyata darinya dan mereka saling mendengki. Ditengah perselisihan yang terjadi, Allah memberi petunjuk orang beriman kepada kebenaran. Allah yang maha kuasa dan maha berkehendak akan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Di ujung ayat dijelaskan bahwa hidayah itu adalah hak prerogatif Allah kepada hamba-Nya. Hanya Allah yang maha berkehendak dan mampu mengistiqamakan seseorang di atas jalan yang lurus.

Dalam ayat ini, sifat Allah yang sangat menonjol adalah sifat maha berkehendak. Seseorang berada di atas jalan yang lurus karena kehendak-Nya maka menjadi kewajiban untuk selalu bersyukur. Jika suatu hari kita berada di atas jalan yang benar, maka bersabar dan istiqamahlah di atas jalan-Nya dan jangan merasa karena amal kita sehingga berada di situ, tapi hal itu terjadi karena maha berkehendak Allah SWT.

Pesan-pesan penting dari ayat ini adalah sebagai berikut;

  1. Pada awalnya manusia bersatu, ada dua kemungkinan yaitu bersatu dalam petunjuk kemudian berselisih dan bersatu dalam kesesatan lalu ada yang mendapat petunjuk kemudian terjadi perselisihan di antara mereka
  2. Setelah terjadi perselisihan Allah mengutus para Nabi
  3. Tiga peran fungsi Nabi yaitu memberi kabar gembira kepada orang yang taat kepada Allah, memberi peringatan kepada pelaku maksiat, dan bersamanya kitab yang benar sebagai pedoman
  4. Ada orang dengki yang tidak pernah mau mengambil solusi dari sumber yang haq (kitab)
  5. Ada orang yagn mendapatkan petunjuk dengan izin Allah SWT
  6. Allah maha berkehendak menentukan manusia berada di atas jalan yang lurus.

 

  • Tadabbur ayat

Imam fakhrur Rozi mengomentari ayat ini bahwa sebelum ayat ini dijelaskan tentang kenapa manusia sangat gampang melakukan kekufuran.penyebab kekufuran mereka adalah terlalu cinta dunia. Dalam ayat ini digambarkan bahwa perilaku manusia yang cinta dunia tidak hanya berlaku pada masa sekarang, tapi penyakit itu sudah ada sejak masa lalu. Sehingga perselisihan di antara manusia karena dengki dan hal itu terjadi terkait urusan dunia.

Perdebatan yang sering terjadi dalam forum para tokoh adalah persatuan Islam dunia. Ada kelompok yang merasa dirinya paling benar dan suka menyalah-nyalahkan kelompok lain dengan. Cara menyalah-nyalahkan itu keliatan benar karena mempelintir ayat-ayat al-Qur’an. Hal itu juga yang sedang terjadi di Indonesia. Tidak ada yang ingin men-Arab-kan Indonesia apalagi menciptakan konflik seperti di Suriah, tapi ada sekelompok manusia yang ingin agar Indonesia ini seperti Suriah karena ada kepentingan keduniaan di balik itu. Semakin perselisihan itu menyala, ‘mereka’ semakin senang karena untung banyak, sebab ada maslahat-maslahat duniawi yang telah didapatkan.

Perbedaan pemikiran sehingga ada kelompok saling judge atas nama agama biasanya terjadi karena ada tendensi dunia dibaliknya. Tapi jika dikembalikan ke agama dan betul-betul ingin mencari kebenaran biasanya gampang untuk kembali kepada petunjuk. Tapi jika tendensi dunia dibalik perbedaan itu maka biasanya pendapatnya tidak mau berubah. Misalnya dalam kasus pencabutan IMB masjid Imam Ahmad bin Hambal karena ada yang menganggap sarat wahabi juga termasuk pembubaran pengajian-pengajian. Jika kita mau telusuri masalah-masalah seperti ini, menurut ar-Razi akar masalahnya adalah cinta dunia. Ada kepentingan dunia di balik itu semua tapi menggunakan narasi-narasi agama. Taruhlah ada perebedaan pendapat, kenapa harus bawah Imam Ahmad? Padahal ini adalah Indonesia yang identik dengan mazhab Syafi’i. jika perbedaan dalam masalah fur’iyah saja maka hal ini bukan perbedaan yang mengarah pada rusaknya agama justru akan meningkatkan kualitas beragama kita.

Karena seandainya kita tidak menggunakan pendapat Imam Ahmad saat musim haji, maka akan membeludak manusia di Minah. Hal ini meringankan orang Indonesia yang memakai pendapat imam Syafi’I yang menginginkan mabit di dalam Minah. Ulama-ulama Imam Ahmad mengatakan bahwa Aziziyah termasuk dalam kategori Minah sehingga para pengikut Imam Ahmad tidak perlu ke Minah. Hal itu tentu memberi keringanan tersendiri bagi jamaah haji yang bermazhabb Syafi’i. untuk itu, jika melihat persoalan masjid Imam Ahmad bin Hambal dari sisi agama dan tidak bercampur kepentingan dunia, maka pasti akan mendapatkan solusi yang bagus. Karena pertikaian terjadi karena ada unsur cinta dunia, merasa diri paling berkuasa, merasa diri paling Indonesia dan lain-lain.

  • Tafsir Dengan Sunnah

Diriwayatkan dari Ubaid bin Ka’b mengenai firman Allah “Manusia itu adalah umat yang satu,” ia berkata, “manusia dahulunya adalah umat yang satu. Karena mereka di hadapkan kepada Adam lalu Allah membentuk fitrah mereka untuk memeluk Islam. dan mereka mengakui ubudiyyah  kepada-Nya. Mereka adalah umat yang satu, muslim seluruhnya. Kemudian mereka berselisih sepeninggal Nabi Adam AS. Kitab itu diturunkan sewaktu mereka berselisih.

Muhammad Sayyid Tantawi dalam tafsirnya menjelaskan, para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan

(كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً) yang menjadi kesepakatan mayoritas ahli tafsir, saat itu manusia bersatu untuk mentauhidkan Allah, bersatu menetapkan penghambaan hanya kepada-Nya, dan bersatu untuk menjalankan aturan-aturan yang haq. Namun, kemudian mereka terpecah belah karena ada yang mendapatkan petunjuk dan ada yang tetap dalam kesesatannya. Oleh karena itu, Allah mengutus para Nabi untuk memberi peringatan kepada mereka dan membawa berita gembira.

(فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّين) Inti dari tadabbur kali ini mengimani rukun iman yang ke emat. Tema besar secara tematik dari ayat ini adalah kebutuhan manusia terhadap kedatangan sang Nabi dan Rasul. Tekanan kedua yang diambil dari ayat ini adalah bahwa Nabi dan Rasul merupakan pembawa solusi di tengah perselisihan di antara kita. Hal ini yang harus menjadi tekanan penting dalam mentadabburi ayat ini. Sehingga keimanan kita kepada sang Rasul semakin kuat dan menjadikan Nabi sebagai problem solver terhadap perselisihan dan pertikaian di antara kita khususnya dalam bidang keagamaan.

(مُبَشِّرِين) Fungsi pertama diutusnya seorang Rasul adalah memberi kabar gembira kepada orang beriman bahwa mereka pasti akan masuk surga.

Ibnu Abbas berkata, “antara Nuh dan Adam terdapat dua puluh generasi. Mereka semua mengikuti syariat yang benar. Setelah itu mereka berselisih, shingga Allah mengutus para Nabi sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan.” Ibnu Abbas menambahkan, “Demikianlah bacaan ayat ini dalam qira’ah Abdullah. Manusia itu dahulu adalah umat yang satu lalu berselisih.”

(مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ) Jika ingin menjadi penerus Nabi maka kita harus mengikuti cara Nabi dalam berdakwah, tentu dengan metode yang disampaikan oleh ayat ini. metode itu adalah berdakwah dengan memberi kabar gembira, memberi peringatan serta menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman. Tentu tata cara penyampaian harus dipelajari terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kontraversi di tengah masyarakat. Sebagai seorang da’i harus tau kapan memberi peringatan dan kapan memberi kabar gembira dan harus melihat objeknya. Hal ini juga menjadi syarat utama bagi seorang ulama dalm kedudukannya sebagai ahli waris Nabi. Jika seseorang sudah menguasai ketiga ilmu ini maka dia sudah pantas digelari ulama, tapi jika tidak, dia hanya ulama abal-abalan. Fenomena yang banyak berkembang saat ini banyak da’i yang hanya memilih mubasysyirin saja karena mundzirin terlalu berisiko.

Memang tidak ada orang yang bisa sempurna melakukan ketiga-tiganya, maka lakukan yang mampu dilakukan. Di dunia ini banyak dai dengan berbeda karakter, ada yang hanya mampu memberi peringatan ada juga yang cuma bisa memberi kabar gembira. Maka dengan bekerja sama dua karakter dai yang demikian maka akan memperlancar jalannya dakwah. Saling menguatkan karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Tapi, jika mampu maka melakukan ketiga-tiganya tentu jauh lebih baik.

(بِالْحَقِّ) diberikan kitab yang benar. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, “kamilah yang paling terakhir tapi paling pertama di hari kiamat. Kami manusia yang pertama kali masuk surga, meskipun mereka diberi kitab sebelum kami, dan kami diberi kitab sesudah mereka. Allah menunjukkan kepada kami kebenaran yang mereka perselisihkan dengan izin-Nya. Hari ini Allah menunjukkan kami kepada kebenaran, disusul orang-orang Yahudi besok, dan disusul orang-orang Nasrani.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadis ini menggambarkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang terakhir tapi pertama yang masuk surga. Orang yahudi dan Nasrani memang yang pertama kali mendapatkan al-Kitab, tapi Allah menunjukkan kebenaran di dalam al-Qur’an. Artinya, di akhir zaman ini kitab Yahudi dan Nasrani sudah bercampur dengan kebathilan, sehingga tidak bisa lagi dijadikan sebagai pedoman untuk berhujjah. Umat Islam diberikan kitab yang benar sekaligus diberikan petunjuk kepada kebenaran itu sendiri. Dalam hadis ini juga terdapat keterangan bahwa yang pertama kali berpegang kepada al-Qur’an adalah orang Islam.

Selama kita berpegang kepada al-Qur’an maka percayalah kita sedang berpegang kepada kebenaran yang hakiki. Dalam keseharian kita apa pun jabatan seseorang jika tidak ada al-Qur’an di sana, maka dia tetaplah rendah derajatnya. Orang rendahan atau tidak punya kedudukan di tengah masyarakat tapi ia bersama al-Qur’an maka derajatnya tinggi di sisi Allah SWT. karena standarisasi dan barometer kemuliaan itu dilihat bagaimana pola interaksi dengan al-Qur’an.

Umat Islam wajib bersyukur karena telah diberi pegangan kebenaran yaitu al-Qur’an. apa saja masalah yang kita hadapi semua solusinya pasti ada dalam al-Qur’an. Termasuk masalah yang sedang kita hadapi di Negara kita tercinta ini, satu-satunya solusi adalah jika pemerintah kembali kepada al-Qur’an.

“Tidak ada narasi yang paling kuat yang bisa mempersatukan kita kecuali al-Qur’an”

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close