Tadabbur Al-Muddatsir (1), Berilah Peringatan

POIN penting dalam surat ini adalah memuliakan Nabi Muhammad SAW karena beliau yang dipilih oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah kepada umat manusia melalui wahyu. Dalam surat ini terkandung pula hiburan bagi Rasulullah ketika mendapatkan musibah. Di sisi lain, digambarkan juga bagaimana tantangan yang dihadapi Rasulullah ketika menghadapi kuffar Quraisy. Khususnya, pemeran utama kisah dalam surat al-Muddatsir yaitu Walid bin Mughirah sehingga Allah SWT menurunkan Surat al-Muddatsir sebagai hiburan bagi Nabi di tengah tantangan sihadapinya.

Begitupun umat islam indonesia ini bisa menjadi penghibur di tengan marginalisasi dan kriminaisasi. Dalam berdakwah pasti ada tantangannya. Tantangan terbesar Rasulullah disini adalah ketika menghadapi sosok yang dikagumi, disegani, dan dipercaya oleh penduduk Mekkah. Juga memiliki kecerdasan dalam sastra dan didukung pasukan yang banyak.

Selain menjadi hiburan, ayat ini menajdi ancaman bagi musuh-musuh Allah SWT dengan berbagai macam siksaan. Bahwa siapa saja yang menistakan agama Islam, Allah sendiri yang akan bertindak dengan segala kehendak yakni berupa rekayasa-Nya.

Surah al-Muddatsir dibuka dengan sebuah seruan yang membuat kita tertarik dengan seruan lembut ini: Yaa ayyuhal muddatsir, kun fa andzir.

“Waha orang-orang yang berseimut, bangun dan berilah peringatan.”

Al-Qurthubi berkata: ketika adzan berkumandang, engkau masih berkemul selimut padahal Allah sedang memanggilmu. Jadi, jangan kalah dengan ayam berkokok sebelum adzan.

Kemudian perintah pertama setelah bangun dari selimut adalah fa andzir “Berilah peringatan”. Peringatan adalah nasihat yang disertai sedikit ancaman. Setelah turunnya ayat pertama dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW, masyarakat Mekkah pada masa itu membutuhkan sedikit “pecutan”. Sehingga Allah SWT memerintahkan Nabi untuk memberi peringatan kepada masyarkat melalui wahyu yang diturunkan kepada beliau.

Kenapa peringatan? Karena yang dibutuhkan pada saat itu bukan Amar ma’ruf tapi nahi munkar.

Pada sisi agama ada dua metodologi yang digunakan dalam menyampaikan pesan, pertama; menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik (Amar ma’ruf). Kedua; melarang kemunkaran dengan cara tidak menimbulkan kemunkaran yang lebih besar (Nahi munkar).

Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW dengan metode yang kedua (Ketika awal-awal dakwah Rasulullah kepada masyarakat Mekkah). Sebagai contoh gaya penyampaian “Shalat yang baik dan benar ya sebagaimana shalatnya Nabi!” Ini contoh dakwah yang pertama yaitu amar ma’ruf.

Jenis dakwah kedua yaitu inkarul munkar atau mengingkari kemungkaran. Contohnya, Anda mengatakan kepada saudara atau orang lain. “Berhentilah berbuat riba karena itu haram. Dosa terkecilnya saja seperti anak menzinahi ibu kandung, jadi ketika berinteraksi dengan riba itu haram, maka tinggalkanlah”.

Kun fa andzir yaitu memberikan nasihat disertai sedikit ancaman. Dalam ayat ini, Rasulullah diperintahkan untu bangkit dari selimutnya kemudian diperintahkan memberi peringatan kepada kaumnya untuk meninggalkan kekufuran dan memurnikan peribadatan hanya kepada Allah SWT. Fa andzir di sini, ungkapan dengan “fa” menunjukkan adanya kesegeraan, “Bangun dan segera berilah peringatan”. *Muhajir

Narasumber/ Materi : KH Bachtiar Nasir

Sebarkan Kebaikan!