Sirah

Taat Tanpa Telat

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku,” (HR. Bukhari) begitu terjemahan sabda nabi yang diteruskan secara gradual hingga generasi ketiga (sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in). Maka tidak berlebihan jika generasi sahabat dijadikan sebagai teladan bagi umat Islam yang mau melahirkan generasi terbaik sebagaimana mereka. Al-Qur`an menggambarkan generasi terbaik ini sebagai as-sabiqun al-awaalun (generasi terdahulu), dan di lain kesempatan menggaransi mereka dengan ungkapan radhiyallahu ‘anhum wa radhu ‘anh (Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah).

Dengan demikian, hayat dan perjuangan hidup mereka akan senantiasa menjadi pelajaran bagi orang-orang yang hidup sesudahnya. Di antara sikap mengagumkan yang dapat diambil hikmahnya dari sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW adalah masalah ketaatan. Allah dan Rasulullah SAW dalam pandangan mereka melebihi siapapun. Nabi pun sampai menandaskan bahwa indikotor keimanan paripurna ialah jika menjadikan Allah dan Rasulu-Nya lebih dicintai daripada yang lain. Mereka pun tanpa ragu mencerminkan sikap taat ini dengan tulus tanpa tendensius.

Ketika Rasul menyampaikan syariat dari Allah misalnya, respon mereka terlihat begitu cepat, tanpa telat. Alkisah, Anas bin Malik dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menceritakan kisah yang berkaitan dengan ini. Sahabat yang merupakan pelayan nabi ini suatu saat sedang bermukim di suatu kampung, tapatnya di rumah Abu Thalhah. Waktu itu Anas bagian yang menuangkan minuman keras kepada paman-pamannya.

Dalam kondisi demikian, tiba-tiba ada pengumuman dari seseorang yang mengatakan bahwa khamar telah diharamkan secara mutlak.  Abu Thalhah pun segera memerintahkan Anas agar membuangnya. Minuman-minuman keras yang berada di tempat asalnya segera ditumpahkan hingga mengalir banyak di jalanan Madinah. Akhirnya, mereka pun dengan taat tanpa telat membersihkan diri dari kebiasaan minum khamar.

Pada hadits riwayat Bukhari, ada keterangan menarik mengenai kisah tersebut. Bahwa, ketika ada orang yang memberi tahu kabar pengharaman khamer, mereka yang sedang minum khamar sama sekali tidak bertanya, membantah, mengklarifikasi bahkan mencecarnya, malah yang ditampilkan mereka adalah ketundukan dan ketaatan penuh tanpa syarat. Jika itu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak adan kata tunda. Yang ada bagi mereka adalah sami’na wa atha’na (kami dengar dan taat).

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close