Syeikh Al Hamudi l Tabayyun, Menyelamatkan Umat dari Badai Fitnah

Oleh : Syeikh Al Hamudi

Penerjemah : Ust. Umar Makka

Tabayyun dan Tatsabbut sangat dibutuhkan umat di zaman penuh fitnah ini. Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu tabayyun, Dia berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

 

“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” (QS. al-Hujurât: 6).

Orang fasik adalah orang yang mengetahui hak Allah atas mereka tapi tidak mau tunduk kepada perintah-Nya. Ayat ini dimulai dengan kata (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا), artinya seruan kepada semua umat Islam agar selalu tabayyun (klarifikasi) terhadap berita yang datang dari orang fasik. Berita apapun itu kita harus hati-hati dan tidak lansung percaya.

Fatabayyanu (فَتَبَيَّنُوا) dibaca demikian dalam qiraat Hafs, tapi dalam qiraat lain dibaca (فتثبتوا). Kedua kalimat ini hanya berbeda pada titik, tapi maknanya sama. Hal itu adalah  penegasan agar kita selalu hati-hati ketika mendengar berita dari orang fasik. Ayat ini juga sangat penting bagi umat Islam apalagi berada di tengah zaman yang penuh fitnah.

Kenapa kita harus tabayyun? agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” (QS. al-Hujurât: 6).

Akibat jika mengabaikan ayat ini adalah mudahnya menjamur tuduhan dan fitnah di tengah umat. Sangat mudah saling mengfitnah sesama saudara muslim. Suatu saat penuduh akan menyesali perbuatannya, entah itu di dunia apalagi di akhirat.

Syeikh Al Hamudi kemudian kengisahkan tentang seorang laki-laki yang hidup pada masa Sultan Murad IV, bahwa suatu malam dia merasakan kekalutan yang sangat, ia ingin tahu apa penyebabnya. Dia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya. Kemudian sang Sultan mengajak pengawalnya untuk berkeliling dengan cara menyamar.

Mereka pun pergi, hingga tibalah mereka disebuah lorong yang sempit. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal. Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.

Sultanpun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan. Mereka bertanya: “Apa yang kau inginkan?.

Sultan menjawab: “Mengapa orang ini meningal tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang mau mengangkat jenazahnya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”

Mereka berkata: “Orang ini Zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina”.

Sultan menimpali: “Tapi . . bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam? Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya”.

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap, “Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah.. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang sholeh”

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget. Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang mengatakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya.

Sang istri menjawab, “Sudah kuduga pasti akan begini. Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu di bawah ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata, “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin”.

Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi”. Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku, “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam”.

Orang-orangpun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.

Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku, “Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu”.

Ia hanya tertawa, dan berkata, “Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya”.

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata, “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, mensholatkannya dan menguburkannya”.

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para ulama, para masyaikh dan seluruh masyarakat. *Khutbah Jum’at Syeikh Al Hamudi di AQL Islamic Center, 30 Maret 2018.

*MN

Sebarkan Kebaikan!