Sya’ban “Geladi Bersih” Sebelum Ramadhan

PADA bulan Sya’ban (2 H), ada empat syari`at Allah yang turun di Madinah. Pertama, pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka`bah. Kedua, kewajiban puasa Ramadhan. Ketiga, kewajiban zakat. Keempat, kewajiban jihad dalam arti perang secara fisik (al-Khudhari, Nûr al-Yaqîn,, 96). Keempat hal ini, menggambarkan Sya’ban sebagai momentum untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadhan. Ibarat pentas (di hadapan Allah), bulan Sya’ban adalah masa geladi bersih agar bisa maksimal beramal di bulan Ramadhan.

Peristiwa perubahan arah kiblat di bulan Sya`ban ini,  sebagai bekal untuk menguji keimanan dan keikhlasan umat Islam kala itu. Pasalnya, tanpa keduanya dalam menjalankan syari`at Allah, maka mereka tidak akan kuat menghadapi gunjingan Yahudi yang menganggap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tak punya pendirian akibat perubahan kiblat ini.

Keimanan dan keikhlasan ini memang sangat urgen. Orang yang menjalankan ibadah Ramadhan hanya karena pamrih kepada manusia, maka tidak mendapatkan apa-apa, kecuali pamrihnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Ramadhan sangat mewanti-wanti pentingnya keimanan dan keikhlasan ini. Sebagai contoh, dalam ibadah qiyâmul lail  di bulan Ramadhan beliau mengingatkan, “Barangsiapa yang menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramdhan dengan penuh keimana dan hanya mengharap (ikhlas) pada-Nya, maka dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, Muslim).

Di sisi lain, sejatinya, perintah perubahan kiblat pada bulan Sya`ban itu mengajarkan pelajaran berharga pada sahabat akan pentingnya loyalitas kepada Allah. Ketika Allah sudah memerintahkan sesuatu, maka harus diterima tanpa reserve di dalamnya (QS. Al-Ahzab [33]: 36). Orang yang memasuki Ramadhan tanpa bekal loyalitas yang tinggi, maka akan sangat berat dalam menjalaninya.

Pada bulan Sya’ban ini juga, para sahabat sudah diberi tahu terlebih dahulu kewajiban puasa Ramadhan. Pemberitahuan ini tentunya akan memberi waktu bagi mereka untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, terutama dalam hal spiritualitas.

Puasa pada prinsipnya adalah mengandung subtansi pengendalian diri, dan ini erat kaitannya dengan spiritualitas seseorang. Orang yang memiliki spiritualitas bagus sebelum menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, maka ketika memasukinya akan dengan mudah melaksanakan ibadah di dalamnya.

            Nabi Muhammad sendiri dalam salah satu riwayat dikatakan, pada bulan Sya`ban beliau sangat rajin berpuasa. Aisyah bercerita: “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim). Dengan membiasakan diri berpuasa di bulan Sya`ban, spiritual beliau terjaga dengan baik, sehingga ketika Ramadhan datang, tidak akan mengalami kesulitan.

Bekal finansial juga penting dipersiapkan di bulan Sya’ban untuk menghadapi Ramadhan. Ini terinspirasi dari peristiwa kewajiban zakat yang disampaikan Allah pertama kali di bulan Sya`ban. Sudah menjadi maklum bahwa zakat membutuhkan kemampuan finansial. Demikian juga amalan-amalan lain di bulan Ramdhan seperti sedekah, sahur, buka, dan memberi buka puasa kepada orang-orang berpuasa tentu membutuhkan persiapan finansial yang memadai.

Bekal finansial yang cukup tentu saja akan menunjang kesuksesan amal di bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri adalah orang yang sangat dermawan. Kedermawanan kebanyakan membutuhkan kemampuan materil. Maka tidak mengherankan jika kedermawanan beliau sangat bertambah ketika di bulan Ramdhan.

Ibnu Abbas menceritakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, Muslim).

Sisi lain yang tidak kalah penting dalam bulan Sya’ban adalah persiapan fisik. Di bulan Sya`ban tahun 2 Hijriah itu, jihad dalam pengertian perang sudah diwajibkan. Jihad perang tentu saja membutuhkan kekuatan fisik yang optimal. Setelah ada kewajiban jihad ini, pada tanggal 17 Ramadhan mereka mendapat kemenangan di perang Badar Kubra dengan sangat gemilang. Bisa dibayangkan –tentunya setelah bantuan Allah- bagaimana persiapan fisik mereka sebelum Ramadhan, sehingga dalam Ramadhan pun mereka tetap kuat melakukan jihad.

Jadi, melalui peristiwa  sirah nabawiah pada 2 Sya`ban, tahun 2 Hijriah, menunjukkan Sya’ban sebagai momentum gladi bersih. Di antara yang perlu dipersiapkan pada bulan ini untuk menyambut Ramadhan adalah; iman dan ikhlas, loyalitas, spiritual, finansial, dan fisik yang optimal.. Wallahu a`lam.

*Amoe Hirata

 

Sebarkan Kebaikan!