Suka Duka Dai Halmahera

JAKARTA (AQLNEWS) – ADA pemandangan berbeda di Masjid Arrahman AQL (Arrahman Quranic Learning) Islamic Center bakda shalat Ashar (09/10/2017). Beberapa orang  asal Halmahera berikut seorang dai, diminta oleh Uye (salah satu koordinator bidang ekonomi AQL) untuk menceritakan perihal suka-duka dakwah di bumi Halmahera. Di pedalaman pulau terbesar di wilayah Maluku ini kondisinya sangat memprihatinkan. “Bayangkan! Pakaian masih hampir telanjang, primitif, masih banyak yang belum beragama (bahkan setiap saat bisa menjadi sasaran empuk misionaris), nomad, dan tak berpendidikan,” demikian ungkap Uye ketika memoderatori acara dadakan ini.

Perlu diketahui, yang dibawa ke AQL Islamic Center ada beberapa orang muallaf Halmahera dan satu orang dai. Pada kesempatan yang begitu hangat tapi santai ini, ada tiga orang dan satu dai yang disuruh maju untuk berbagi pengalaman. Ketika sang dai ditanya mengenai awal mula bisa berdakwah di sana, ia berujar, “Saya sebenarnya modal nekat saja ustadz,” bagaimana tidak nekat, menurutnya kebanyakan dai hanya mau berdakwah di pesisir, yang secara peradaban lebih maju. Hampir langka dai yang mau masuk ke dalam hutan. Rintangannya tidak ringan: menempuh perjalanan sebuluan, berani menghadapi risiko dipanah, ditombak oleh penduduk sekitar, belum lagi kendala bahasa, dan terutama bekal finansial untuk merangsek ke dalam belantara.

Kebanyakan dai hanya mau berdakwah di pesisir, yang secara peradaban lebih maju. Hampir langka dai yang mau masuk ke dalam hutan. Rintangannya tidak ringan: menempuh perjalanan sebuluan, berani menghadapi risiko dipanah, ditombak oleh penduduk sekitar, belum lagi kendala bahasa, dan terutama bekal finansial untuk merangsek ke dalam belantara.”

“Saya ini ustadz, kalau dakwah ke Halmahera, bisa meninggalkan istri selama dua bulan. Tidak ada akses jalan yang nyaman, listrik, alat komunikasi dan sinyal. Makanya, kalau sudah masuk ke dalamnya seakan sudah kehilang kontak dengan yang lain,” tutur sang dai. Karuan saja amat sedikit dai yang mau mengambil tantang besar ini. Beliau sendiri adalah salah satu dai yang dikirim AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) untuk menembus Halmahera.

Mendengar penuturan sang dai, Uye pun berseloroh kepada para jamaah, “Bayangkan! Ternyata masih ada di Indonesia ini daerah yang belum tersentu dakwah Islam. Bahkan, pakaian, pendidikan, dan tempat tinggal masih sangat di bawah setandar. Makanya, kita perlu bersyukur sudah bisa memeluk Islam, mampu mengaji dan mendapatkan pendidikan yang layak. Yang tidak kalah penting, apa sumbangsih Anda sebagai umat Islam melihat dai dan para muallaf yang sedang berjuang di Halmahera?” AQL sendiri, melalui Laziznya, akan membuat program pendidikan dan dakwah di daerah terpencil ini. Bahkan, siap menyalurkan bantuan umat kepada mereka. Syukur-syukur, kalau nanti bisa dibangun pondok di sana.

AQL Isilamic Center, melalui Laziznya, akan membuat program pendidikan dan dakwah di daerah pedalamanl ini. Bahkan, siap menyalurkan bantuan umat kepada mereka. Syukur-syukur, kalau nanti bisa dibangun pondok di sana.”

Karena prihatin terhadap kondisi ini, Uye lantas bertanya kepada sang dai, “Memang Pemerintah setempat tidak peduli?” “Bukannya tidak peduli, mungkin lebih tepatnya tidak sabar saja. Mereka juga pernah berusaha membangunkan tempat layak, tapi ya begitu, masyarakat pedalaman Halmahera tidak bisa disuruh pindah dengan jumlah besar, mereka sudah merasa nyaman di hutan dengan hidup berpindah-pindah. Kalau dibangunkan, bisa jadi akan kembali ke hutan. Maka sekali lagi, kuncinya adalah kesabaran,” tuturnya.

Kembali kepada cerita sang dai, beliau pernah memiliki pengalaman cukup menegangkan saat berdakwah. Suatu saat dirinya membawa salah satu anak dari orang Halmahera untuk diislamkan. Anaknya sendiri mau, dan ikut bersamanya. Di luar dugaan, ada provokotor yang menghasut sang ayah bahwa ajaran Islam itu jelek, dan nanti kalau anaknya dibiarkan ikut maka akan dihabisi. Sontak saja, bapak ini marah dan mengejar dai dengan tombak. Untungnya, dengan pendekatan persuasif (penjelasan sekaligus memberi barang-barang yang dimiliki dai sebagai pelunak hati),  akhirnya bapak ini sadar dan rela melepas anaknya. Subhanallah. Sekembalinya anak ini, yang nama aslinya Bui lalu diganti Hamzah, malah membawah berkah. Atas izin Allah, seluruh keluarganya masuk Islam.

Para muallaf pun juga punya cerita-cerita menarik. Salah seorang muallaf yang berdiri di depan (anggap saja Husain namanya, untuk mempermudah), bahwa di daerahnya, orang hidup berpindah-pindah (nomaden), tidur kadang di tanah bahkan ada juga yang di pohon. “Kalau tidur di pohon, dan banyak gerak kiri dan kanan, maka bisa jatuh ke tanah,” kenang Husain yang mengundang gelak tawa hadirin. Ketika ditanya mengenai makanan pokok, dia menjawab, “Ya biasanya pisang, kaspe (dari singkong), kalau makanan sudah habis, maka berpindah ke tempat lain, begitu seterusnya.”

Meski kondisi begitu terbelakang, berpendidikan kurang, dan jauh dari peradaban, menurut sang dai ada kelebihan-kelebihan fundamental yang dimiliki oleh penduduk yang tidak mempunya kepala suku dan suka berpindah-pindah ini. “Mereka itu, kalau sudah janji, ditepati. Dan kalau sama pasangan, sangat setia,” gumamnya. Uye pun bertanya balik, “Bagaimana cara nikah di sana?” Salah satu muallaf menjawab, “Ya tidur aja berdua, kalau sudah hamil berarti menjadi istrinya,” Sang dai juga menambahkan, “Ada juga syariat yang mereka lakukan,” “Syariat apa?” desak Uye penasaran. Sang dai menjawab, “Syariat poligami. Banyak yang sudah mengamalkannya,” jawaban yang sekenanya dan polos ini juga membuat derai tawa hadirin pecah.

Dari kisah suka-duka dai dan pengalaman para muallaf ini, setidaknya bisa membuka hati tiap muslim dan menumbuhkan kepedulian, bahwa masih ada –bahkan banyak- daerah yang belum tersentuh dakwah dan tak memperoleh pendidikan yang layak, seperti: Halmahera. Karenanya, kontribusi umat Islam sangatlah diperlukan. Baik dengan menyumbangkan harta, atau tenaga untuk menjadi dai di pedalaman. AQL Islamic Center sendiri sudah siap membantu menyalurkan bantuan ke daerah pedalaman Halmahera. Tinggal kembali kepada kita, maukah peduli terhadap mereka.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!