Solusi Stres dan Depresi dalam Alquran

Dua penyakit kejiwaan yang kerap menyerang seseorang akibat beratnya beban hidup adalah stres dan depresi. Jika keduanya dibiarkan, tentu tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Bahkan terhadap orang yang dicintainya sendiri atau orang dekatnya sekalipun. Fakta ini menimpa banyak orang padahal obatnya ada dalam Alquran.

Tentu para ahli di bidang ini sudah banyak mengeluarkan tips serta solusi mengatasi stres dan depresi berikut pengobatan dan terapinya. Namun dalam Alquran, obat stres atau depresi bisa diatasi sendiri.

KH Bachtiar Nasir, pimpinan AQL Islamic Center, saat memberikan materi pada Pesantren Kilat Pasangan Suami Istri di Grand Sahid Hotel, Jakarta, menyatakan, ada dua sifat manusia yang menyebabkan dia stres dan depresi. Keduanya disebabkan oleh rasa takut dan sedih.

Dalam Alquran menyebutkan, ciri-ciri wali Allah itu adalah tidak ada kesedihan maupun ketakutan dalam diri mereka kecuali kepada Allah. Kenapa? Karena beriman dan bertaqwa kepada Allah. Firman Allah:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah, sesungguhnya para kekasih Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus [10]: 62).

Inilah terapi paling mujarab dari penyakit stres dan depresi. Secara kejiwaan dalam Al-Quran, penyebab stres adalah khauf yaitu takut (fear). Kedua, penyebab depresi adalah hazan yaitu sedih atau cemas (anxiety).

Orang takut itu biasanya selalu dihantui dalam diri atau pikirannya tentang sesuatu yang membuat dia mudah menyerah, penuh dengan ketidakpastian, sehingga takut melangkah dan memgambil tindakan. Padahal ketakutan itu dia ciptakan sendiri dalam dirinya. Hal itulah yang menimbulkan stres. Karena stres, ia merasa masa depannya kelam, tidak punya visi, dan berdiam diri dalam ketidakpastian. Terapi yang paling baik agar seseorang tidak kehilangan visi dan masa depannya adalah tawakkal kepada Allah. Jadi orang yang selalu bertawakkal dalam hidupnya sudah pasti tidak akan menderita stres dan tidak pernah takut dengan masa depannya.

Adapun terapi agar seseorang dapat terhindar dari depresi yaitu menjauhi sikap sedih, cemas, atau hazan. Biasanya, orang itu sedih akibat masa lalu yang buruk menimpanya. Seperi terkena musibah, kecelakaan, ditinggal orang yang disayanginya, dan lainnya. Disini sangat jelas bahwa penyebab kesedihan adalah masa lalu. Sebaliknya penyebab ketakutan adalah masa depan.

Lalu, apa terapi bagi seorang muslim agar tidak larut dalam kesedihan hingga menimbulkan depresi? Tak salah lagi, obatnya adalah sabar dan shalat. Dalam Surat Al-Baqarah [2:153], Allah menyerukan agar kita senantiasa menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Perintah ayat di atas merupakan solusi agar kita mengatasi segala kesulitan dan problematika yang datang silih berganti. Allah memerintahkan kita memohon pertolongan kepada-Nya dengan mengedepankan sikap sabar dan menjaga shalat dengan istiqamah. Kedua hal ini merupakan sarana meminta tolong yang terbaik ketika menghadapi berbagai kesulitan. Rasulullah SAW memberi contoh dalam mengamalkan ayat ini. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dijelaskan bahwa, “Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila menghadapi suatu persoalan, beliau segera mengerjakan shalat.”

Itulah dua terapi diri bagi seorang muslim dalam mengatasi stres dan depresi. Obat stres karena takut pada masa depannya adalah tawakkal kepada Allah dan obat depresi karena sedih akibat masa lalunya adalah sabar dan shalat. Itu solusi dalam Alquran.

Jika keduanya diabaikan tanpa ia tawakkal kepada Allah, sabar, dan shalat, maka perpaduan antara stres dan depresi nantinya akan mengakibatkan psychosomatic.

Orang tawakkal itu selalu kembali kepada Allah karena hanya Allah yang maha mematikan dan menghidupkan. Jika ia anak buah, pekerja, atau karyawan, dia tidak perlu menjilat kepada atasannya, atau mencari muka, dan lain-lain. Itulah prinsip orang yang tawakkal.

Begitu juga yang biasa terjadi pada paranoid. Penyakit jiwa ini dimulai dari kekhawatiran dan kecemasan dalam dirinya yang tidak penting. Curiga saja bawaannya. Lalu berfantasi seolah ada yang memburu atau akan membunuh dia. Nah penyakit ini muncul jarena tidak paham dengan Asma Allah, sabarnya kurang, tawakkalnya kurang, akhirnya paranoid. Lebih kencang lagi jika sudah dipengaruhi oleh jin.

Apa yang dilihat seperti pada hakikatnya, bisa saja karena jin berubah wujud. Jadi ilusi itu berkembang karena ada bisikan jin. Sementara, jika setan sudah mengambil mata hati manusia, sangat mudah mengambil mata kepalanya.

Imam Al Ghazali punya teori begini. Jiwa yang sudah dipenuhi hawa nafsu atau amarah, jika ia memandang sesuatu, tidak sesuai lagi dengan hakikatnya. Yang salah jadi benar, yang benar jadi salah.

Sebuah kisah dahsyatnya tawakkal kepada Allah, terjadi pada seorang mujahidah sejati, Zainab al-Ghazali, di dalam penjara. Aktivis wanita Mesir yang dikenal sebagai pejuang bagi rakyat Mesir ini mendapatkan perlawanan dari pemimpin Mesir yang berusaha menghancurkannya di masa pemerintahan Jamal Abdul Naser.

Gerakan dakwah yang dilakukan Zainab al-Ghazali cepat meluas ke seluruh Mesir, setiap pekan ia memberi ceramah di Masjid Ibnu Tulun. Selain itu, Zainab Al-Ghazali juga aktif menulis di majalah-majalah Islam. Zainab bergerak dengan organisasi Ikhwanul Muslimin dan saling mendukung dengan Iman Hassan al-Banna. Tahun 1949 Hassan al-Banna ditembak mati, Zainab al-Ghazali memimpin Ikhwanul Muslimin bersama para pejuang lainnya.

Terjadilah perintah penangkapan Zainab al-Ghazali di rumahnya dengan tuduhan mengancam pemerintahan dan konstitusi negara. Selama masa tahanan, dia mendapat perlakuan tidak manusiawi, dikurung dan disiksa. Tubuhnya dicambuk dengan cemeti, kaki dan tangannya diikat, ia disekap dalam penjara gelap yang penuh dengan tikus.

Tak hanya itu, dalam penjara, ia dijemput anjing yang memang dibuat lapar agar melahap Zaenab. Namun, ketika anjing itu dimasukkan, malah bermanja-manja di kaki Zaenab dengan mengibas-ibaskan ekornya.

Kenapa realita itu berbalik? Karena ada keyakinan dan tawakkal kepada Allah semata, sehingga menimbulkan energi positif yang membuat anjing-anjing itu malah bermanja-manja. “Zaenab hanya berkata, anda (anjing) adalah hamba Allah sementara saya adalah pejuang Allah.”


*azh

Sebarkan Kebaikan!