Solusi Setiap Masalah

JAKARTA (AQLNEWS) – Siapa yang tidak punya masalah dalam kehidupan ini? pertanyaan ini tidak perlu dijawab, karena semua manusia pasti mempunyai masalah dalam hidupnya.

Pimpinan ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center KH Bachtiar Nasir di tengah tausiahya dalam acara Tabligh Akbar di Masjid Nururrohmah, Pamedangan, Jakarta,  menjelaskan sebuah solusi bagi semua permasalahan dalam kehidupan ini, Rabu malam, (4/10/17)

Dalam konteks kehidupan dunia, jika ingin muhasabah diri tentang berbagai macam problematika yang menimpa diri, keluarga, masyarakat, Negara, dan konflik kemanusiaan yang tengah melanda dunia saat ini, maka yang pertama kali harus dikoreksi adalah shalat. Apakah ibadah ini sudah didirikan secara merata atau hanya dijadikan mainan?

Ketika rezeki seakan sulit didapat, maka perhatikan shalat. Sudah lama menikah tapi tidak kunjung punya keturunan, maka perbaikilah shalat. Karena ada rumus dalam al-Qur’an yang sudah pasti kebenarannya, siapa yang menyia-nyiakan shalat maka ia pasti dituntun oleh hawa nafsu dan tentu akan mendapatkan kesesatan, baik di dunia maupun di akhirat.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam: 59)

Surat Maryam ayat ke-59 ini menggambarkan bahwa kaum yang menyia-nyiakan shalat adalah kaum buruk. Stigma buruk itu muncul karena telah dituntun oleh syahwat sehingga terlempar dan terjebak di lembah kesesatan tanpa ia sadari.

Dalam hal ini, Nabi Ibrahim alaihis salam menjadi contoh terbaik. Ketika ia mendapat misi besar dari Tuhannya untuk menyebarkan tauhid ke seluruh penjuru bumi, otomatis ia harus meninggalkan anak dan istrinya. Tentu, meninggalkan keluarga adalah sebuah tantangan besar dan menjadi masalah pribadi karena harus berperang melawan hawa nafsu. Perang melawan hawa nafsu adalah puncak perlawanan bagi semua masalah dalam kehidupan ini.

Saat Ibrahim akan meninggalkan keluarganya, apakah dia membangunkan untuk mereka istana? Tidak. Justru sebaliknya, Hajar dan Ismail kecil ditinggalkan di lembah yang sangat tandus, tidak ada air, apalagi tumbuh-tumbuhan. Tapi simaklah doa Nabi Ibrahim alaihis salam ingin melangkahkan kakinya di jalan Allah.

 “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Setidaknya ada dua pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah Ibrahim ini. pertama, menjadikan shalat sebagai prioritas dalam hidup dan mengutamakan shalat serta mendahulukan shalat dari semua lika-liku kehidupan dunia. Kedua, Ibrahim alaihis salam memilihkan rumah untuk keluarganya di dekat masjid.

Di tengah lembah yang tak berair dan tandus, Ibrahim alaihis salam hanya meminta agar dijadikan teladan dalam hal shalat dan diberikan keturunan yang mencintai shalat. Dia tidak meminta istana di lembah itu dan tidak meminta dilimpahkan air dan tumbuhan.

Karena shalat yang diprioritaskan, Allah kemudian mengirimkan air zam-zam, sebuah mata air yang muncul begitu saja dan bahkan menabrak logika manusia. Meskipun ada ikhtiar yang dilakukan Hajar walaupun dalam tanda kutip sia-sia, karena air itu tidak muncul di safa atau pun di marwah, namun air zam-zam itu keluar dari tempat shalat.

Belajar dari kisah Nabi Ibrahim AS, betapa pun sibuknya seorang ayah mengurus pendidikan anak sampai di sekolahkan di luar negeri sampai di luar bumi sekali pun, jika tidak menanamkan agar memprioritaskan shalat dalam hidupnya, maka ilmunya itu tidak akan berguna di dunia maupun di akhirat. Ayah adalah penanggung jawab paling inti terhadap pendidikan ruhani seorang anak.

Kemudian ibrah kedua dari kisah Nabi Ibrahim alaihis salam adalah ketika memilihkan tempat tinggal bagi keluarganya, dia memilih di dekat masjid dengan harapan mereka dekat dan mudah mendirikan shalat. Simaklah doanya yang termaktub dalam surat Ibrahim ayat 37.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,” (QS. Ibrahim: 37)

Ibrahim alaihis salam tidak mempersoalkan berada di tempat tandus, mudah terkena banjir, mudah kebakaran, lingkungan yang tidak kondusif untuk memperbaiki ekonomi, dan lain sebagainya. Dia hanya yakin siapa yang dekat Allah maka akan mendapatkan kemudahan dalam hidupnya, termasuk rezeki. Shalat dan rezeki mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga hanya pegiat shalat yang mampu merasakan rezeki yang sesungguhnya. Rezeki tidak perlu berupa harta yang melimpah, rumah yang mewah, tanah yang luas, dan lingkungan yang aman, tapi rezeki yang paling tinggi nilainya adalah jika hati mampu tentram karena mengingat Allah subhana wa ta’aala.

Allah subhana wa ta’aala sudah mewasiatkan kepada al-Masih, “dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup” (QS. Maryam: 31)

Melalui surat Maryam ayat 31, al-Qur’an menjelaskan bahwa yang terfikir oleh Ibunda Maryam terhadap Isa al-Masih adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat bukan materi semata. Maka, apa pun masalahmu, adukanlah dalam sujudmu.

Sebarkan Kebaikan!