ArtikelSirahTadabburTausiyah
Trending

Solusi Qur’an dalam Berpolitik

Fenomena tarik-menarik suara umat dan suara ulama untuk kepentingan politik praktis sangat menarik untuk dicermati, disikapi, lalu diambil keputusan bijak yang sesuai dengan syariat. Allah Swt. berfirman surat An-Nisa ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Ayat tersebut diawali dengan seruan kepada orang beriman. Sebab hanya orang beriman yang mampu mengemban amanah dalam ayat di atas. Orang beriman mampu mengambil hikmah dibalik setiap peristiwa. Cara pandang mereka tidak tertuju pada kengerian suatu peristiwa, tapi pesan apa yang hendak Allah sampaikan lewat peristiwa itu. Misalnya dalam peristiwa Lombok, orang beriman akan melihatnya sebagai pesan agar manusia kembali kepada-Nya, bukan sekedar fenomena alam.

Di tengah godaan syahwat duniawi, syahwat ingin berkuasa, atau takut kehilangan eksistensi ada hikmah besar yang hanya mampu dilihat oleh orang beriman. Sebab mereka tidak terfokus pada kengerian yang terjadi di negeri ini, tapi mereka yakin akan ada rahmat Allah yang akan diturunkan di Indonesia.

Cara pandang orang beriman sangat diperlukan dalam menghadapi persimpangan politik yang terjadi di negeri ini. Agama, ulama, dan lembaga keulamaan sudah sampai pada titik nadir untuk tidak dipercayai jika salah dalam menyikapinya. Maka kita perlu mengambil hikmah dari ayat di atas agar tidak tersesat dalam mengambil keputusan.

Selanjutnya dalam ayat di atas Allah Swt. berfirman;

“Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”

Kata minkum dalam ayat ini, umumnya para ulama menafsrikannya min dinikum (pemimpin yang seagama dnengan kalian). Hal kedua yang harus diperhatikan dalam ayat ini adalah kalimat ulil amri (pemimpin), tidak menggunakan kata wa athi’. Artinya, tidak ada ketaatan kepada pemimpin jika ia tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kata kuncinya adalah tidak ada ketaatan kepada pemimpin yang mengajak bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah prinsip yang harus dipegang kuat oleh umat Islam, apalagi saat ini kita sedang menghadapi pesta demokrasi. Umat Islam dituntut untuk selalu berhati-hati dan tetap bertanya kepada ahlinya dalam mengambil keputusan. Jangan mudah tergiur dengan syahwat uang, kekuasaan, politik, atau jabatan.

Kendati demikian kita wajib taat kepada pemimpin yang beriman kepada Allah dan mengajak kita untuk beramal shalih. Allah juga memberikan solusi kepada kita jika terjadi perbedaan pendapat dengan pemimpin.

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),

Jika terjadi perselisihan dengan para pemimpin maka kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan kembali pada kemauan masing-masing. Hal ini adalah mekanisme pengambilan keputusan yang diajarkan oleh Qur’an. Dengan demikian Allah akan turunkan taufikanya, sehingga akan terjadi sinkronisasi keputusan kita dengan keputusan pemimpin, dan pasti akhirnya baik.

Mekanisme seperti ini adalah cara orang beriman. Selalu mengembalikan semua persoalan kepada Qur’an dan Sunnah. *Ditulis dari Khutbah Jumat KH Bachtiar Nasir di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 31/8/2018. 

*Muhajir

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close