Solusi Berawal Dari Shalat

Menanggapi berbagai macam masalah yang menimpa kita pada saat ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, perlu rasanya ada solusi yang sangat solutif agar kebahagiaan dan kedamaian mampu dirasakan oleh semua orang.

Mengenai hal itu, al-Qur’an hadir untuk menjawabnya. Di dalamnya terdapat sebuah amalan yang jika dilaksanakan jalan keluar akan dibukakan dengan mudah oleh penguasa alam semesta. Amalan itu adalah shalat, lewat shalat seseorang mampu menemukan jalan keluar bagi solusinya, masalah apa pun itu. Tidak ada masalah yang besar bagi orang yang selalu menggunakan jidatnya untuk bersujud dan menghmba kepada Allah SWT.

Di dalam al-Qur’an dan Hadis terdapat banyak penjelasan tentang kedudukan ibadah shalat, termasuk menjelaskan fungsi dan keutamaannya, baik secara eksplisit maupun implisit. Abdullah bin Mas’ud RA pernah meriwayatkan sebuah hadis yang berisi keterangan bahwa yang pertama kali dihisab di hari kiamat kelak adalah shalat.

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ، وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat. Sedangkan yang diputuskan pertama kali di antara manusia adalah (yang berkaitan dengan) darah.” (HR. An-Nasa’i no. 3991. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

Orang beriman yang berjiwa visioner pasti selalu berfikir bagaimana ia menyiapkan perjumpaan dengan Allah, bagaimana menjawab pertanyaan-Nya, dan perbuatan mana yang akan dinilai. Sehingga yang pertama kali yang dikoreksi dari bangun sampai tidur kembali adalah shalat, apakah sudah benar dan ikhlas agar bisa di terima oleh Allah SWT. Karena shalat menjadi ibadah yang pertama kali dihisab maka otomatis ia menjadi kunci utama diterimanya ibadah baik lainnya.

Dalam konteks kehidupan dunia, jika ingin muhasabah diri tentang berbagai macam problematika yang menimpa diri, keluarga, masyarakat, Negara, dan konflik kemanusiaan yang tengah melanda dunia saat ini, maka yang pertama kali harus dikoreksi adalah shalat. Apakah ibadah ini sudah didirikan secara merata atau hanya dijadikan mainan?

Rezeki seakan sulit didapat, maka perhatikan shalat. Sudah lama menikah tapi tidak kunjung punya keturunan maka perbaikilah shalat. Karena ada rumus dalam al-Qur’an yang sudah pasti kebenarannya, siapa yang menyia-nyiakan shalat maka ia pasti dituntun oleh hawa nafsu dan tentu akan mendapatkan kesesatan, baik di dunia maupun di akhirat.

 

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS. Maryam: 59)

Surat Maryam ayat ke-59 menggambarkan bahwa orang yang menyia-nyiakan shalat adalah orang yang buruk dan kaum yang menyia-nyiakan shalat adalah kaum buruk. Stigma buruk itu muncul karena telah dituntun oleh syahwat sehingga terlempar dan terjebak di lembah kesesatan tanpa ia sadari karena disilaukan oleh gemerlap dunia.

Dalam hal ini, Nabi Ibrahim AS menjadi contoh terbaik. Ketika ia mendapat misi besar dari Tuhannya untuk menyebarkan tauhid ke seluruh penjuru bumi otomatis ia harus meninggalkan anak dan istrinya. Saat akan meninggalkan keluarganya, apakah dia membangunkan untuk mereka istana? Tidak. Justru sebaliknya, Hajar dan Ismail kecil ditinggalkan di lembah yang sangat tandus, tidak ada air, apalagi tumbuh-tumbuhan. Tapi simaklah doa Nabi Ibrahim AS ingin melangkahkan kakinya di jalan Allah.

 

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

 

Ada dua pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah Ibrahim ini. pertama, menjadikan shalat sebagai prioritas dalam hidup dan mengutamakan shalat serta mendahulukan shalat dari semua lika-liku kehidupan dunia.

Di tengah lembah yang tak berair dan tandus, Ibrahim AS hanya meminta agar dijadikan teladan dalam hal shalat dan diberikan keturunan yang mencintai shalat. Dia tidak meminta istana di lembah itu, tidak meminta dilimpahkan air dan tumbuhan.

Karena shalat yang diprioritaskan, Allah kemudian mengirimkan air zam-zam, sebuah mata air yang muncul begitu saja dan bahkan menabrak logika manusia. Meskipun ada ikhtiar yang dilakukan Hajar walaupun dalam kutip sia-sia karena air itu tidak muncul di safa atau pun di marwah, namun air zam-zam itu keluar dari tempat shalat.

Belajar dari kisah Nabi Ibrahim AS, betapa pun sibuknya seorang ayah mengurus pendidikan anak sampai di sekolahkan di luar negeri sampai di luar bumi sekali pun, jika tidak menanamkan agar memprioritaskan shalat dalam hidupnya, maka ilmunya itu tidak akan berguna di dunia maupun di akhirat. Ayah adalah penanggung jawab paling inti terhadap pendidikan ruhani seorang anak.

Kedua, Ibrahim AS dalam memilihkan tempat rumah bagi keluarganya, memilih di dekat masjid dengan harapan mereka dekat dan mudah mendirikan shalat. Simaklah doanya yang termaktub dalam surat Ibrahim ayat 37.

 

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, (QS. Ibrahim: 37)

Orang beriman yang visioner pasti mempunyai kriteria dalam memilih tempat rumah sama dengan kriteria Nabi Ibrahim AS, tentu dengan harapan mudah mengerjakan shalat.

Ibrahim AS tidak mempersoalkan berada di tempat tandus, mudah terkena banjir, mudah kebakaran, lingkungan yang tidak kondusif untuk memperbaiki ekonomi, dan lain sebagainya, karena dia yakin siapa yang dekat Allah maka akan mendapatkan kemudahan dalam hidupnya, termasuk rezeki. Shalat dan rezeki itu mempunyai hubungan yang sangat erat sehingga hanya pegiat shalat yang mampu merasakan rezeki yang sesungguhnya. Rezeki tidak perlu berupa harta yang melimpah, rumah yang mewah, tanah yang luas, dan lingkungan yang aman, tapi rezeki yang paling tinggi nilainya adalah jika hati mampu tentram karena mengingat Allah SWT.

Allah SWT sudah mewasiatkan kepada al-Masih

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; (QS. Maryam: 31)

melalui surat Maryam ayat 31, al-Qur’an menjelaskan bahwa yang terfikir oleh Ibunda Maryam terhadap Isa al-Masih adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat bukan materi semata.

Di era modern ini banyak ayah yang kurang komunikatif dengan anaknya apalagi membimbing untuk mendirikan shalat. Tak jarang kita menemukan ayah yang menitipkan anaknya ke orang lain untuk diajari soal agama, padahal yang paling beranggung jawab tentang pendidikan agama anak adalah ayahnya sendiri. Jika gagal dalam mendidik soal agama terutama shalat maka ia telah gagal membahagiakan anaknya dunia dan akhirat.

Ayah bisu” di era modern ini sangat mudah ditemukan. Dia adalah sosok yang hanya memikirkan makanan, pakaian, dan pendidikan duniawi anaknya dan memprioritaskannya, sehingga ia lupa memberikan asupan ilmu agama. Ayah bisu lebih marah jika anaknya terlambat ke sekolah disbanding terlambat shalat, tentu ini adalah awal bencana dan hancurnya generasi.  

Dalam konteks kekayaan dan kekuasaan atau penguasa yang lebih mengutamakan shalat, maka Nabi Sulaiman AS menjadi ikon. Al-Qur’an menggambarkan bahwa dia adalah penguasa yang paling luas kekuasaannya dan orang kaya yang paling kaya. Al-Qur’an menegaskan bahwa dalam sejarah dunia ini lahir sampai kiamat tidak akan nada satu pun manusia yang mampu mencapai derajat Nabi Sulaiman soal kekayaan dan kekuasaan.

Akan tetapi, suatu hari ia dilalaikan oleh hobinya sehingga terlambat shalat. Nabi Sulaiman adalah pecinta kuda dan sangat hobi dalam bermain kuda. Karena akhirat orientik, dia menyembelih semua kuda-kudanya hanya karena telat shalat.

Orang yang paling hebat adalah orang yang memulai aktivitasnya dengan shalat, karena keberkahan hidup itu bergantung sejauh mana menjaga shalat dalam keadaan apa pun.

Ketika berbicara soal masalah Negara, kita bisa belajar pada masa Nabi Syuaib yang pada masanya hidup kaum Madyan yang mempunyai pemimpin paling korup. Rakyat memang kelihatan biasa-biasa saja, tapi harta karun di negri itu habis karena dilahap oleh para pemimpin hedon dan jauh dari agama.

Pada masa Syuaib AS itu, kejahatan yang marak adalah suka mengurangi timbangan. Maka Allah memberikan solusi untuk menahan reruntuhan moral pada waktu itu dan solusi itu adalah shalat.

 

قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ

“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.”(QS. Hud: 87)

 

Jika anda seorang mukmin yang visioner dan ingin mengevaluasi  diri untuk kehidupan yang lebih baik, maka mulailah dari shalat. Karena shalat yang menjadi barometer di hadapan Allah dan semua perubahan besar dalam sejarah kehidupan manusia dimulai dari shalat.

Darimana mulai agar bisa memprioritaskan shalat? Pertama, pelihara dan perbaiki wudhu walaupun dalam kondisi sulit dan dingin. Kedua, tepat waktu, dan jadikan shalat sebagai barometer. Menunda-nunda shalat karena pekerjaan maka akan semakin disibukkan oleh pekerjaan. Ketiga, shalatlah secara berjamaah agar keberkahan dilimpahkan kepada kita.

Ketika Nabi Musa melakukan perjalanan ke kota Madya untuk melaksanakn sebuah misi perubahan yang sangt besar, dia diperintahkan untuk mengesakan Allah dan hanya menyembah kepada-Nya, kemudian mendirikan shalat untuk mengingat-Nya.

 

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thohah: 14)

 

Artikel ini bisa disimak di https://www.youtube.com/watch?v=fa1f-UVmtcs

Sebarkan Kebaikan!

Sebarkan Kebaikan!