Sifat Penuh Berkah Sang Manusia Pilihan

Kaum sekuler dan liberal salah dalam memahami konsep ideologi Abrahamik atau Ibrahimisme. Dalam pandangan mereka yahudi dan nasrani adalah agama, padahal jika diteliti dalam al-Qur’an tidak pernah disebutkan jika ada agama yahudi dan agama nasrani. Sama halnya klasifikasi agama samawi dan agama ardhi keduanya hanya buah produk pikiran manusia yang tidak bersandar pada al-Qur’an dan hadist. Namun, hal yang paling berbahaya lagi adalah pemahaman yang mengatakan bahwa kita sama-sama agama abrahamik, jadi tidak usah saling usik dan tidak perlu menganggap yang bukan muslim itu adalah kafir. Sehingga, kemudiam kita mendapati seorang ayah yang menikahkan anaknya yang muslimah dengan lelaki yahudi dengan alasan sama-sama agama abrahamik. Tentu hal ini adalah pencampur adukan antara yang haq dan yang bathil.

Untuk lebih memahami apa sebenarnya ibrahimisme itu dan siapa itu Nabi Ibrahim alaihis salam. Di dalam al-Qur’an telah digambarkan bagaimana konsep taslim (penyerahan diri) Nabi Ibrahim alaihis salam yang kemudian diadopsi oleh Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam. Allah subhana wa ta’aala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa: 65)

Secara ideologi umat islam jika terjadi perselisihan sesama muslim maka sudah ada rujukan yang jelas dan valid. Allah sudah mengutus kepada kita para Nabi untuk menyelesaikan konflik perselisihan di antara manusia dalam persoalan agama. Jika orang itu benar beriman maka dia tidak punya ganjalan dalam hati untuk memutuskan berdasarkan putusan hukum yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa putusan Allah dan Rasul-Nya menjadi prioritas utama manusia, apa pun perintah dan larangan dalam al-Qur’an kita harus taat dan menerima dengan ikhlas. Akan tetapi, al-Qur’an menggambarkan penyebab utama seseorang jika tidak mau mengambil keputusan melalui al-Qur’an dan mengembalikan semua permasalahannya kepada al-Qur’an. al-Qur’an menjelaskan bahwa keenggangan itu terjadi biasanya karena dengki yang berdasarkan kepentingan duniawi.

Konsep berserah diri ala Nabi Ibrahim alaihis salam adalah syarat yang harus ditaati oleh umat Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam. Sehingga tidak boleh sedikit pun ada ganjalan dalam hati untuk tidak menaatinya, karena hal itu sudah diputuskan dan dipilihkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di dalam ayat lain dijelaskan perihal berserah diri, kalau yang pertama tadi terkait masalah hukum maka selanjutnya masalah penerapan tawakkal dalam kehidupan sehari-hari.

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.(QS. Al-Ahzab: 22)

Ini adalah contoh orang-orang yang betul-betul menjadi pengikut Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam yang menerapkan contoh berserah diri ala Nabi Ibrahim alaihis salam. Dalam banyak kasus menunjukkan bahwa orang yang sungguh-sungguh berserah diri kepada Allah tidak akan pernah gentar menghadapi musuh dan tidak ada rasa takut sedikit pun di dalam jiwa. Jika telah berhadapan dengan musuh mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Kalah di medan perang bukan persoalan karena kita kalah secara terhormat di hadapan Allah dan jika kita mati kita akan mati mulia. Orang beriman ketika menghadapi kekuatan apa pun justru keimanan mereka makin bertambah dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah subhana wa ta’aala. Ini adalah contoh konkrit orang yang lurus dalam berserah diri atau memperbaiki keislaman.

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ ۗ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali-Imran: 95)

Ayat ini menggambarkan bahwa para pengikut Nabi Muhammad yang mengadopsi konsep tasli Nabi Ibrahim adalah orang yang akidahnya tidak ada kecanduan sedikit pun kesesatan, di setiap keputusan ia sepenuhnya berserah diri kepada Allah walau harus mengorbankan harta dan nyawa. Begitulah ciri-ciri pengikut abramik yang sesungguhnya.

Orang-orang yang berserah diri tidak akan menjadikan akal sebagai satu-satunya pegangan kebenaran. Karena tidak patut bagi seorang muslim mengambil pilihan lain jika telah ditetapkan baginya suatu aturan oleh Allah dan Rasul-Nya. karena siapa yang mendurhakai Allah maka dia telah sesat.

Mari kita intropeksi diri bahwa dalam urusan agama Islam seringkali kita menyesuaikan hawa nafsu dengan tindakan. Kalau beragama menguntungkan maka kita jalankan tapi jika beragama merugikan kita meninggalkan. Inilah tipologi orang-orang yang paginya beriman sorenya kafir lagi, malamnya beriman paginya kafir lagi.

Orang-orang beriman sesungguhnya adalah orang yang berserah diri dan tidak menggunakan semata-mata akal dalam menjalani hidup. Lihatlah Ibrahim alaihis salam, perih pedih memang harus dijalani, ketika masih berada di Harran yang sebelumnya dari kampung halamannya di daerah Babilonia sebelah utara Iran, saat itu dia berhadapan dengan kaum pagan yang menyembah bintang, bulan, dan matahari sebagai tuhan. Ibrahim tidak ingin ikut-ikut membenarkan secara logika, ia pun melakukan perjalanan spiritual yang telah digambarkan dalam al-Qur’an.

Pada awalnya Ibrahim kagum dengan benda-benda langit yang tinggi lalu mengatakan bahwa itu adalahj tuhan, tapi kemudian kalah besar dengan bulan. Ketika bulan hilang di siang hari dan hanya muncul di malam hari, dia lalu kecewa kemudian berpaling ke matahari karena menganggapnya paling besar dan paling terang cahayanya. Namun, setelah melihat matahari terbenam. Ibrahim kemudian memutuskan untuk tidak mengikuti logika kaumnya.

Ibrahim alaihis salam adalah sosok bapak ideologi atau yang mencontohkan prinsip akidah yang sangat jernih dalam menyerahkan diri kepada Allah subhana wa ta’aala. Sehingga dalam kasus itu Ibrahim berkata seperti yang termaktub dalam surat al-An’am ayat 78.

إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-An’am: 79)

Orang beriman hanya fokus kepada Allah dan Rasul-Nya dan dia tidak akan terpengaruh oleh logika yang penuh denga hawa nafsu. Di sinilah perbedaan mendasar orang-orang mempunyai sifat penuh berkah seperti manusia pilihan yaitu Nabi Ibrahim alaihis salam dan di sini pula kesalahann besar orang Yahudi dan Nasrani.

Orang Nasrani diuji logikanya karena harus menerima akibat tanpa sebab dan tentu hal ini berat, karena logika manusia sangat rendah, hanya mau menerima sebuah akibat jika jelas sebabnya. Orang Nasrani diuji logikanya dengan seorang anak yang lahir tanpa ayah. Anak yang terlahir sebagai akibat dan seorang ayah sebagai sebab.

Sulit pada saat itu menerima seorang Maryam yang terkenal suci melahirkan Isa alaihis salam tanpa ayah. Sehingga timbullah langkah-langkah berfikir yang bertujuan untuk memuaskan hawa nafsu, maka jadilah mereka orang-orang yang musyrik kepada Allah subhana wa ta’aala. Kegagalan orang Nasrani yang kemudian menjadikan tuhan tiga, tuhan anak, tuhan bapak, dan roh kudus. Ini adalah sebuah konsep bertuhan yang pada akhirnya terjemus kepada kemusyrikan karena hanya ingin memuaskan hawa nafsunya.

Demikian halnya dengan orang-orang Yahudi yang menjadikan Uzair sebagai anak tuhan. Kegagalan mereka mencapai akidah bertauhid kepada Allah subhana wa ta’aala. Hal itu terjadi karena masih mengandalkan logika dan hawa nafsu.

Lihatlah Ibrahim dalam perjalanan hidupnya. Ibrahim berani melawan akal dan hawa nafsunya demi menegakkan tauhid. Dia berani meninggalkan anak dan istrinya di lembah yang sangat tandus. Bahkan pada akhirnya, walau harus menyembelih anak sendiri dan anak yang paling dicintai. Dalam anggapan Ibrahim jika hal itu adalah perintah Allah maka dia ikhlas melakukannya. Itulah konsep penyerahan diri Nabi Ibrahim alaihis salam.

Lalu bagaimana umat Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam  dalam meneladani konsep berserah diri Nabi Ibrahim alaihis salam dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang berbisnis, berpolitik, dan menjadi pegawai, biasanya orang seperti ini sangat rentang akidahnya karena takut kepada atasan sehingga terang-terangan menjalankan sesuatu yang haram.

Di sini pula perbedaan mendasar antar nasionalis yang didasari dengan ideology yang kuat dan nasionalis yang tidak di dasari oleh ideology yang kuat walau pun sama-sama Islam di KTPnya. Ketika membaca buku agama dan Negara yang ditulis oleh M. Natsir, kita akan disugukan sebuah pergumulan ideologi dan pertarungan politik yang sampai hari ini terus bertarung antar kaum nasionalis dan islamis, padahal keduanya sama-sama muslim. M. Natsir menggambarkan apa yang menjadi perbedaan mendasar antara politisi muslim nasionalis dengan politisi muslim yang sesungguhnya.

Politisi muslim sejati tidak pernah copot akar ideologinya, khususnya pegangan mereka terhadap surat al-An’am ayat 161 sampai 163. Sebagai pengagum Ibrahim alaihis salam, dari ayat ini akan tampak perbedaan mendasar mana yang berpegang teguh kepada agama dan mana yang tidak berpegang teguh, siapa yang pancasilais sejati dan siapa yang imitasi dalam berpancasila.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’am: 161-163)

Pengikut Nabi Muhammad sejati yang konsisten ideologi Ibrahim dalam kehidupan, dia tidak pernah lepas dari prinsip mendasar yang tercantum pada ayat di atas. Sekularisme, liberalisme, dan isme-isme lainnya adalah kemusyrikan baru di abad ini. kemusyrikan terus bermetamorfosis dengan caranya yang sangat cerdas. Dalam menghadapi pertarungan ideology ini akan tampak siapa sebenarnya siapa yang Islam sejati dan hanya imitasi. Lain paginya lain sorenya, lain malamnya lain pula paginya. Orang yang konsisten dengan ibrahimisme tidak akan berkesinggungan dengan kemusyrikan apap pun bentuk dan namanya.

Orang-orang yang selalu berisi ideologinya akan selalu berkata, “sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Mereka tidak akan pernah gonta-ganti ideology dan tidak akan pernah gonta-ganti sistem dalam hidupnya, karena mereka akan selalu konsisten di atas jalan Allah subhana wa ta’aala. mereka sangat takut jika mati dengan ideologi yang lain, hidup dan matinya hanya untuk Allah. Orang yang mewarisi sifat penuh berkah sang manusia pilihan tidak akan menggadaikan ideologinya dengan materi, kekuasaan, pangkat, dan karir. Orang yang istiqamah di jalan Allah kadang memang harus kehilangan apa pun yang dia sandang dalam hidupnya ini.

Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. Dari ayat ini ada sebuah prinsip yaitu tidak akan mengedapankan akal dan hawa nafsu karena beragama itu apa yang diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasul-Nya.

Coba perhatikan doa Nabi Ibrahim alaihis salam yang menggambarkan konsep penyerahan diri yang sesungguhnya. Allah subhana wa ta’aala berfirman:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Baqarah: 128)

Dalam beribadah sekali pun Nabi Ibrahim meminta petunjuk dari Allah subhana wa ta’aala karena tidak ingin mengedapankan akal dan hawa nafsunya serta tidak mengikuti tradisi yang akhirnya berbenturan dengan agama. Allahu a’lam bish shawab.

Sebarkan Kebaikan!