Siapakah Bangsa Jin Itu?

Jin adalah satu dari sekian banyak mahluk Allah Subhanahu wa Ta’aala yang berasal dari alam yang berbeda dari manusia dan malaikat. Jin juga memiliki kecerdasan dan dibebani beban syariat. Hal itu berawal ketika Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus sehingga jin memiliki kemampuan untuk memilih jalan yang lurus dan jalan yang buruk. Dalam surat al-Jinn juga dijelaskan bahwa Rasulullah diutus kepada manusia dan jin.

Sama halnya ketika ulama mempunyai ilmu yang tinggi serta keimanan yang tinggi kepada Allah Subhanahu wa Ta’aala dan mengajak manusia kepada-Nya pasti akan ada jin yang belajar kepadanya, tentu dengan cara yang tidak bisa dijangkau oleh kebanyakan orang. Sehingga dalam surat al-Jinn dijelaskan para jin berkata bahwa dikalangan jin itu ada yang beriman dan ada juga yang durhaka.

  • Nama Jinn

Jin disebut dengan kata جَنَّ (menjadi gelap) dalam Surat al-An ‘am ayat 76 karena mereka tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Ada semacam tabir sehingga dia tidak bisa dilihat oleh manusia. جَنَّ itu berarti malam gelap yang artinya gelap yang menelan siang sehingga tidak bisa melihat benda-benda di depan kita dengan kasat mata. Percaya terhadap keberadaan jin adalah bagian dari iman karena kita diwajibkan untuk beriman kepada mahluk ghaib. Sehingga Allah berfirman tentang jinn di dalam surat al-A’raf ayat 27

ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.

  • Asal-usul Jinn

Kemudian asal usul jin itu tertera dalam al-Qur’an dan hadis mereka diciptakan dari api seperti firman Allah di dalam surat al-hijr ayat 27,

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.

Dan di dalam surat ar-Rahman ayat 15 Allah berfirman,

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

dan Dia menciptakan jin dari nyala api.

Kata مَارِجٍ مِنْ نَارٍ jin itu diciptakan dari ujung kobaran api dan juga bermakna api murni. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallohu anha dari Nabi shallallohu alaihi wa sallam bersabda:

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian. (Shahih Muslim 2996-60)

Akan tetapi, ada satu hal yang harus kita fahami bahwa cahaya itu tidak sama partikel yang kita ketahui dan bukan pula api dengan partikel yang kita ketahui. Kemudian jin itu lebih dulu diciptakan dari manusia berdasarkan surat al-hijr ayat 27.

  • Nama-nama Jinn

Jin menurut ahli kalam dan ahli bahasa memiliki beberapa tingkatan.

  1. Al-Jan

Jenis yang pertama ini adalah pengertian jin secara umum, yaitu jenis jin yang berpotensi seperti layaknya manusia. Jin ada yang laki-laki dan adapula yang perempuan, ada jin yang muslim dan adapula yang non muslim, jin juga membutuhkan makan, minum, tidur, bersenggama dan sebagainya. Walhasil jin pada kategori Jan tidak banyak berbeda dengan manusia pada kategori al-insan.

  1. Al-A’mir

Biasanya di suatu tempat, di kamar mandi, di rumah atau di manapun ada suara atau bunyian yang menirukan perbuatan manusia. Seperti halnya ada suara orang wudhu atau orang mandi, padahal dikamar mandi tersebut tidak ada siapa-siapa. Hal ini boleh jadi adalah perbuatan jin pada kategori al-a’mir. Jenis jin ini suka menirukan perbuatan atau kebiasaan manusia, dengan maksud menakut-nakuti.

Al-A’mir juga terkadang mengikuti orang yang sedang membaca, bernyanyi dan sebagainya atau mengikuti orang yang sedang shalat dibelakangnya. Meskipun demikian kita tidak usah takut, karena bisa saja dia tidak jahat, hanya karena ingin menjadi mak’mum atau ingin belajar membaca atau menyanyi.

  1. Al-Ifrit

Ifrit adalah jenis jin yang berpotensi sebagai pembantu ataupun khadam bagi manusia. Dalam hal ini ada ifrit yang muslim dan baik, yang tentunya bisa menjadi khodam pada manusia yang muslim dan baik pula. Adapula ifrit yang berprilaku jahat dan kafir yang dimanfaatkan oleh para tukang sihir dan dukun.

  1. Al-Arwah

Jenis jin yang keempat inilah yang sering dan biasa menggoda manusia, terkadang al-arwah menjelma dirinya sebagai orang tua kita yang telah meninggal atau sebagai dedemit dan sebagainya. Sehingga dapat mengelabuhi sebagian masyarakat kita dan menakut-nakuti mereka yang mempercayainya. Sebenarnya jenis jin al-arwah ini termasuk golongan jin yang sangat kuat dan sangat nakal. Disebutkan paling kuat karena mereka dapat menjelma dirinya menjadi apa saja dengan mengerahkan kekuatan ilmu yang dimilikinya dan disebut nakal karena sering menggoda dan menakut-nakuti manusia. Jika diibaratkan manusia, maka jenis jin dari golongan Al-arwah semacam preman yang suka usil terhadap masyarakat setempat.

  1. As-Syaithan

Berbeda dengan al-arwah, as-syaithan adalah jenis jin yang selalu menggoda manusia dari segi keimanan, kerohanian dan kejiwaan. As-syaithan sangat berbahaya dibandingkan  jenis jin lainya, karena as-syaithan merasuk kedalam hati manusia untuk membisikan kekafiran, keingkaran dan kejahatan. Dalam surat an-naas dijelaskan bahwa bukan hanya jin jahat dan ingkar yang termasuk dalam golongan as-syaithan, manusia yang yang berprilaku dzalim dan lalai termasuk dalam kategori ini. Mengenai hal ini ada sebagaian ulama yang berpendapat bahwa setan adalah sebuah sifat jahat dari manusia dan jin. Jadi kesimpulanya adalah setan bukan berupa wujud atau benda, melainkan sebuah sifat atau perbuatan.

  • Golongan Jin

Jin memiliki tiga golongan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam “Jin terdiri atas tiga kelompok: satu kelompok memiliki sayap mereka terbang di udara dengannya, satu kelompok berbentuk ular dan anjing, dan satu kelompok lagi berdiam diri di tempatnya dan melakukan petualangan.” (HR.Thabroni dengan sanad hasan, al-Hakim, dan al-Baihaqi dengan sanad shohih; lihat Shohihul Jami’ 3/85)

  • Tempat Tinggal Jin

Jin banyak berdiam pada tempat-tempat berikut ini:

  1. Di Pasar

Dari Salman r.a. ia berkata: “Bersabda Rasulullah SAW: “Sungguh jika kamu mampu, janganlah engkau menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan terakhir kali keluar darinya, karena sesungguhnya pasar adalah medan peperangan setan dan di dalamnya ia menancapkan bendera.” (HR. Muslim:2451)

  1. Tempat-tempat Buang Hajat

Dari Zaid bin Arqam r.a. dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tempat-tempat buang hajat ini dihadiri oleh setan (dengan tujuan mengganggu). Maka jika salah seorang di antara kalian masuk ke dalamnya, hendaklah mengucapkan: (“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setan laki-laki dan perempuan).” (HR. Abu Daud: 6)

  1. Bersama dengan unta dan di kandang-kandangnya

Dari Abdullah bin Mughofal r.a., ia berkata: “Rasulullah SAW telah melarang kami untuk melakukan sholat di kandang-kandang unta dan tempat-tempat menderumnya, karena ia diciptakan dari setan-setan.” (Shahih Sunan Abu Dawud, No.184/493)

Berkata Ibnu Hibban r.a sebagaimana dalam al-Ihsan (4/602)., mengomentari makna hadits: karena ia diciptakan dari setan-setan: “Maksudnya adalah: “Sesungguhnya setan bersamanya.”

  1. Di Rumah-rumah

Dari Abu Hurairah r.a. behwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah-rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR.Muslim:780-Shahih Muslim:752)

Dalam hadist yang diriwayatkan dari As-Sya’bi ia berkata: “Abdullah bin Mas’ud berkata: “Barangsiapa membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di dalam rumah, maka setan tidak akan memasuki rumah itu malam harinya hingga tiba pagi hari. Kesepuluh ayat tersebut adalah 4 ayat pertama darinya; Ayat Kursi; 2 ayat sesudah Ayat Kursi; dan 3 ayat terakhir dari surah Al-Baqarah.” (HR.Thabrani).

5. Di Lautan

Dari Jabir r.a. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di lautan. Dari sana dia mengirim pasukannya untuk membuat fitnah (mengacau atau membencanai) umat manusia. Maka siapa yang lebih besar membuat bencana, dialah yang lebih besar jasanya (terhormat) di kalangan mereka.” (HR.Muslim: 2813-Shahih Muslim: 2408)

  1. Di Lubang-lubang dan belahan-belahan tanah

Dari Qatadah, dari Abdullah bin Sirjis, bahwa sesungguhnya Nabi SAW melarang seseorang melakukan kencing di lubang. Meraka bertanya kepada Qatadah: “Mengapa dibenci kencing di dalam lubang?” Ia menjawab: “Dikatakan, bahwasanya ia adalah tempat-tempat tinggal jin.” (Abu Daud: 29)

  1. Di padang pasir, Lembah, Lorong, dan tempat-tempat yang ditinggalkan oleh penghuninya.

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Pada suatu malam kami bersama Rasulullah SAW, lalu kami kehilangan beliau lantas kamipun mencari beliau di lembah-lembah dan gang-gang. Kami mengatakan “Rasulullah SAW telah diculik.” Maka kamipun tidur malam dengan sejelek-jelek malam yang suatu kaum bermalam dengannya. Tatkala tiba waktu pagi hari, tiba-tiba beliau datang dari arah Haro’, maka kami mengatakan:”Ya Rasulullah, kami kehilangan anda dan kami mencari anda namun kami tidak menjumpai anda, lantas kami bermalam dengan sejelek-jelek malam yang suatu kaum bermalam dengannya.” (Mendengar ucapan tersebut) maka Rasulullah menjawab: “Datang kepadaku seorang yang mengundang dari kalangan jin, maka akupun pergi bersamanya dan aku membacakan Al-Qur’an kepada mereka.” (HR.Muslim, 1007) *Dinukil dari tadabbur selasa pagi oleh KH Bachtiar Nasir di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta selatan.

Sebarkan Kebaikan!