Shalahudin Sang Penyayang

SHALAHUDDIN Al-Ayyubi (1138-1193), yang dikenal dalam dunia Barat dengan sebutan Saladin, adalah sosok legendaris yang sangat dihormati baik oleh kawan maupun lawan. Hanya saja, yang sering diingat adalah sosoknya yang gagah berani di medan tempur, pakar strategi perang, panglima muslim kenamaan pada Perang Salib yang mendapat kesuksesan gemilang sehingga bisa merebut kembali Al-Quds, Palestina.

Jika melihat Shalahuddin sebatas itu, maka yang terlihat adalah sisi garang. Padahal, pahlawan besar muslim ini adalah pribadi yang penyayang. Bukan saja kepada sesama muslim, tapi juga kepada yang lain. Alkisah, saat Ricard Lion Heart jatuh sakit di daerah Jaffa, tanpa sepengetahuannya, Shalahuddin memberikan bantuan. Menariknya, saat para dokter menganjurkan panglima perang Salib ini untuk memakan buah-buahan, beberapa utusan Ricard meminta kepada Shalahuddin.

Shalahudiin sama sekali tidak menampakkan permusuhan kepada lawan perangnya ini. Bahkan, ketika orang penting dalam Perang Salib itu suka buah pir dan plum, maka Shalahuddin sendiri yang menyediakannya. Perbuatan demikian, tidak akan dilakukan oleh orang yang berhati garang.

Mendapat perlakuan yang begitu mengesankan dari Shalahuddin, akhirnya Ricard berkata kepada utusannya, “Sampaikan salamku kepada sultan dan katakan kepada baginda, ‘Demi Tuhan, hendaklah beliau menerima permintaanku untuk berdamai karena semuai ini perlu berakhir dengan segera, Negeri di seberang lautan sudah hancur. Justeru, peperangan ini sama sekali tidak akan mendatangkan faedah. Sama ada untuk kami atau pun kamu,’” (Sami, 2005: 127) Perdamaian pun ditandatangani pada 1 September 1192.

Apa cukup di situ sifat penyayangnya? Nyatanya tidak. Ketika Jerusalem direbut pada tahun 1187, Shalahuddin tidak dendam. Justru rasa kasih dan sayang yang lebih dominan. Mereka tidak diperbudak dan tak dipaksa masuk Islam, justru sebagaian besar dibebaskan dan diberikan kebebasan memeluk agama yang diyakini. Bandingkan dengan Pasukan Salib ketika merebut Jerusalem pada 1099, umat Islam dibantai dengan sangat kejam, tidak tercermin sama sekali rasa kasih dan sayang dari hati mereka (Carole, 2000:75)

Bila kepada nonmuslim saja demikian, maka dengan sesama muslim pun jauh lebih besar. Sebagai bukti, ketika Shalahuddin wafat, dalam simpanannya hanya tersisa 40 dirham dan satu gram dinar (Shallabi, 2008: 238). Kekayaan yang dimiliki Shalahuddin hampir habis untuk kepentingan agama dan sosial. Hatinya dipenuhi rasa kasih sayang. Bagaimana tidak, bukankah Islam membawa rahmat bagi seantero alam (QS. Al-Anbiya [21]: 107)? Perang adalah sarana terakhir ketika cara-cara persuasif ditentang, itu pun dengan syarat ketat serta tetap dalam bingkai kasih sayang. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

 

Sebarkan Kebaikan!