Internasional
Trending

Seorang Ibu di Gaza Mengobati Luka anaknya dengan Luka

GAZA – (AQLNEWS)  Kata-kata kesabaran “tak berdaya” untuk menggambarkan rasa sakit yang dideritanya. Salah satu dari mereka telah menjadi syuhada, sedang yang tersisa menyimpan luka, luka sedang hingga serius. Air mata telah padam karena tangis akibat luka kelima putranya.

Keluarga “Issawi”. Ummu Rauf yang merangkap jadi kepala keluarga, ia melewati hari-hari dengan sedih yang tak usai. Melihat luka putra-putranya mencipta sebuah sungai mengalir di hatinya. Terdiam dalam pedih, walau dokter telah melakukan pengangkatan usus dari salah satu putranya, tapi yang lain? Pecahan peluru menembus paru-paru dan menghancurkan tulang-tulang putranya yang lain. Sedih? Sangat! Rintih menjadi santapan wajar akibat rasa sakit yang tak berkesudahan.

Keluarga penyabar ini, hampir tak ada luka yang sembuh sampai luka lainnya terjadi. Atef Issawi, kakinya tak lagi bisa bergerak, setelah mengalami sembilan kali luka akibat hantaman peluru penjaha Israel di perbatasan Jalur Gaza. Hari-harinya kini, beraktivitas dengan menggunakan kursi roda.

Meski Cacat Tetap Ikut Aksi

Putus asa? kata itu telah “mati” bagi Atef Issawi. Dengan kondisinya, melakukan Aksi untuk memperjuangan hak-haknya sebagai korban terjajah tak pernah kendor. Walu dengan kursi roda, kenapa tidak? Sebelumnya telah ia lakukan, bergerak ringan di sepanjang pagar kawat perbatasan dengan batang platinum yang terpasang di kakinya

“Saya datang hari ini untuk berpartisipasi. Akan tetapi kali ini saya datang dengan kursi roda. Saya mengalami luka tembak sembilan kali. Saya masih terus menuntut hak pengungsi Palestina untuk kembali (ke tanah yang diduduki penjajah Israel) dan menuntut pembebasan blokade Jalur Gaza. Perasaan saya tetap bersama dengan para tawanan, korban yang terluka serta keluarga para syuhada meskipun cacat saya bertambah,” Ungkap ia suatu ketika kepada wartawan lokal.

Dirinya mengalami luka tembak pertama kali pada tahun 2007 silam. Disusul empat luka berturut-turut yang dialaminya pada tahun 2015, cedera pada tahun 2016 dan beberapa kali dalam Aksi Kepulangan Akbar tahun 2018.

“Cedera terakhir adalah terjadi pada Oktober 2018 lalu. Dalam kejadian terakhir ini menyebabkan kerusakan saraf, kelumpuhan pada anggota badan, dan menjadikan saya duduk di atas kursi roda karena tidak bisa bergerak.”

Dengan nada tantangan, dia menyatakan bahwa dirinya dan keluarganya akan terus melakukan aksi protes damai, meskipun tubuhnya diterpa luka. Dengan suara sedikit melemah, dia meminta Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas agar memberinya kesempatan untuk perawatan lukanya.

Lumpuh dan Miskin

Batangan platinum yang telah dipasang beberapa kali di kaki Atef akibat pecahan peluru eksplosif yang bersarang di kakinya. Namun peluru terakhir yang mengenai kaki membuat kondisinya semakin memburuk dan mengakibatkan kelumpuhan kaki dan lengan kanannya.

Issawi adalah salah satu saksi di sidang pengadilan militer penjajah “Israel”, yang digelar dua tahun lalu untuk memberikan kesaksian atas pembunuhan seorang bocah Palestina Abdul Rahman Dabbagh (yang dibunuh oleh seorang tentara Israel dengan menembakkan bom api langsung di kepalanya). Dia terkenal sebagai orang yang memiliki banyak informasi detail tentang cerita para korban yang terluka dan gugur menjadi syuhada dalam aksi-aksi damai, karena dia selalu ikut ambil bagian dalam Aksi Kepulangan Akbar di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza yang digelar sejak akhir Maret 2018 lalu.

Keinginan yang paling diharapkan dari ibu yang berduka, Ummu Rauf, adalah agar Atef dan saudara-saudaranya mendapatkan perawatan yang semestinya. Dia mengatakan, “Saya terluka pada September 2018. Saya terkena tembak peluru pasukan penjajah Israel di leher saya saat saya ikut berpartisipasi dalam aksi kepulangan akbar. Kehidupan kami menjadi sangat sulit. Setiap hari saya harus merawat lima anak yang terluka, tetapi saya terus melakukannya. Dan saya terus ikut dalam aksi-aksi damai. Saya berharap anak-anak saya mendapatkan perawatan dan pengobatan.”

Sementara Mazen, adiknya yang paling kecil, berharap agar saudaranya Atef bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang diperlukan karena dia adalah korban terluka yang paling serius.

Sumber: Spirit of Aqsa

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close