Tausiyah

Seni dalam Menyikapi Perbedaan

Bukan hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia Islam persoalan utamanya adalah perpecahan. Jika dianalisa dari mulai kasus global, porak-porandanya persatuan di dunia teluk baik di Jazirah Arab atau pun di Afrika Utara, di tambah lagi kasus perpepecahan yang berkecamuk di Syam dan juga menjalar sampai ke Indonesia. Penyebab itu semua itu adalah melihat saudara muslim masih berdasarkan kelompok dan saling tanazu’.

Secara jujur, kondisi Indonesia lebih baik dari pada bangsa lainnya dalam perihal tabligur risalah (menyampaikan risalah dakwah) jika dibandingkan dengan dunia Islam lainnya. Namun kerapkali kita mendapatkan sebaran berita dari medsos yang mengatakan kita di ambang kehancuran. Tidak perlu pesimis karena itu hanya terjadi di dunia maya saja. pada kenyataanya, Indonesia saat ini aman saja dan tidak seperti yang digambarkan para pegiat medsos.

Jika diperhatikan saat ini di Indonesia dan dunia Islam, penyebab perpecahan yang paling banyak memberikan andil adalah tasnif (melihat saudara berdasarkan golongannya) tidak memandang saudaranya berdasarkan laa ilaha illallah. Sering juga kita mengukur keislaman seseorang berdasarkan pakaiannya, ketinggian celana, berjubah atau tidak, dan lain sebagainya. Jika sudah merasa paling Islami lansung menyalahkan saudaranya dan menganggapnya tidak sunnah. Melihat saudara muslim dari sudut pandang kelompok terindikasi besar untuk melahirkan perpecahan.

Allah Ta’aala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 10:

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

 

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat: 10)

Jika sesama muslim, lihatlah bahwa kita sama-sama dalam akidah laa ilaha illallah. Masing-masing kelompok itu saling melengkapi. Jika ke Eropa kita akan melihat betapa besar peran Jamaah tabligh di sana. Juga tidak salah jika ada teman-teman muslim kita yang menjalankan Islam dari sisi politik, karena sangat berbahaya jika di masjid-masjid tidak boleh lagi berbicara politik. Jangan juga mencela saudara kita yang terfokus di rana sufistik, semoga doa-doa mereka untuk saudaranya bisa menjadi penyebab kesejahteraan dan kedamaian. Sebagaimana Rasulullah ketika perang badar, dia memilih satu tempat khusus untuk berdoa meminta pertolongan kepada Allah ta’aala. Begitu juga para pecinta seni juga. Kadang-kadang dengan cara dia mengespresikan Islam dengan seni, orang akan lebih faham. Kita tidak tau siapa yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah karena derajat seseorang itu ditentukan lewat ketakwaanya

Jangan putus asa untuk bersatu. Allah subhanahu wa ta’aala sudah memerintahkan kepada kita untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Allah berfirman:

 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

 

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, (QS. Ali-Imran: 103)

Tali Allah yang dimaksud di sini adalah agama. Lepaskanlah kepentingan pribadi dan kepentingan golongan demi terciptanya persatuan, karena pertolongan Allah akan datang kepada orang yang berjamaah. Perbedaan di antara umat Islam itu pasti ada, karena hal itu sudah menjadi sunnatullah, maka diperintahkan jangan terpecah-belah. Berbeda itu pasti tapi persatuan itu wajib.

Persepsi seseorang dalam menilai objek itu berbeda pola, ada orang eksak dan ada orang sosial. Ada orang yang cenderung melihat sesuatu itu hitam putih. Cara pandang tentara itu hanya dua, perang atau damai, tapi bagi politisi masih ada kompromistik dalam meja perundingan.

Lalu bagaimana seni bertemu di tengah perbedaan itu? Dari cara memandang objek spek kita sudah berbeda apalagi ketika melihat teks ayat, karena ayat itu ada yang muhkam (jelas maksudnya) dan ada yang mutasyabih (maknanya samar) dan kasus setiap orang berbeda walau pun dalam dalil yang sama, maka kemungkinan besar terjadi perpedaan. Tentu yang menghendaki hal ini terjadi adalah Allah subhanahu wa ta’aala.

Wanita sering mengatakan bahwa laki-laki itu tidak punya perasaan, kata-kata itu muncul karena wanita melihat laki-laki bukan dengan logika. Skala seperti ini saja perbedaan bisa terjadi. Berpecah belah itu berbahaya karena pasti gagal dan dipastikan setelah itu kekuatan umat Islam akan hilang. Berpecah belah memang berbahya, tapi ada yang lebih berbahaya, yaitu putus asa untuk bersatu.

Di tengah masalah yang dihadapi umat Islam, musuh-musuh Islam juga tidak akan pernah berhenti untuk menciptakan perpecahan di tengah umat terbaik ini. Akan tetapi, banyak ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa mereka tidak akan pernah mampu memecah belah umat (lihat surt Ash-Shaf ayat 8). Secara individu mungkin saja ada yang terpengaruh, tapi Al-Qur’an sudah memperingatkan bahaya mereka yang keluar dari agama (lihat Al-Baqarah: 217).

Selain angjuran untuk tidak berputus asa untuk bersatu, juga ditekankan jangan berputus asa untuk mempersatukan. Dalam Islam dikenal mushlih dan shalih. Artinya, tidak hanya fokus memperbaiki diri tapi berfikir besar untuk menjadi pemersatu.

Untuk menciptakan persatuan di tengah umat, salah satu yang paling urgent untuk diperhatikan di era digital ini adalah jangan menilai saudara kita dari medsos. Sebab, hoax dan framing di media sangat banyak sehingga terkesan benar tapi sebenarnya menyesatkan.

Penyebab utama terjadinya perpecahan adalah saling tanazu’, yaitu saling mencabut paksa rasa cinta antar sesama yang telah Allah tanamkan, maka perintahnya adalah jangan saling tanazu’. Nikmat persaudaraan yang telah Allah berikan harus kita syukuri. Bisa disimpulkan bahwa dua penyebab utama perpecahan umat adalah, melihat saudara muslim dari sudut pandang kelompok dan saling tanazu’. Untuk itu jika ada perbedaan di antara kita maka no coment tidak usah diserang dan jadilah muslim yang mushlih tidak hanya shalih. Bersatulah jangan berpecah belah. *Khutbah KH Bachtiar Nasir di Masjid Niaga Rahmat, Jakarta Selatan

 

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close