ArtikelGaleri FotoNews
Trending

Sebuah Pesan dari Palu

Palu, Berkah Berjamaah. Cahaya lampu dari sebagian daerah yang telah menyala jatuh tak merata di sudut-sudut jalan yang patah, membuat jalanan terselimuti aura temaram dan menyihir. Pukul 22.05 WITA, Ahad, (7/10)  bumi kembali berbicara saat langit diberkahi mendung. Pertanda hujan.

Sayup-sayup ambulance lalu lalang membawa korban mengingatkan kita akan mati. Tak perlu berbangga dengan kekayaan dan jabatan tinggi. Sebab hanya orang bertakwa yang mendapat derajat tinggi di sisiNya. Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi esok.

Kita dan semua mahluk hidup tinggal menunggu keputusan sakral. Esok siapa lagi yang akan menempuh perjalan sunyi menuju alam hisab.

 ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Lukman: 34)

Ratna, pegawai sipil kota Palu, dirinya mengaku diserang trauma. Sekedar berjalan jauh dari tenda yang dia dirikan seadanya tak mampu. “Saya berjalan keluar saja takut, trauma lihat bangunan runtuh. Kita tidak tau kapan mati.” Begitu ungkapnya saat ngobrol dengan salah satu team AQL Peduli dan Berkah Berjamaah di bawah cahaya lampu seadanya.

Ketika ditanya keadaanya saat gempa terjadi, ia memilih berteduh di terik sepi. Pucat. Tergambar trauma begitu dalam. “Tadi saja, waktu ambil air buru-buru pulang, ingat anak.” Lirihnya.

Kertas pengumuman kehilangan istri dan anak juga banyak kita temui. Sebut saja sebuah kertas yang menempel di salah satu Pom Bensin Kota Palu. Hesty Hastuti (30) dan anaknya bernama Charissa Naura Azzahra. Keduanya berada di Gateball Anjungan Pantai Talise, salah satu lokasi tsunami yang memakan banyak korban. Namum demikianlah, warta yang diterima berbuah tanya tanpa jawaban

Memang, beragam cerita tercipta dibalik tenda-tenda pengungsi. Semakin ditelusuri, memori akan dipenuhi kisah sedih. Sedih atas darah yang mengalir di bawah reruntuhan, seperti tercatat BNPB, 2.632 korban mengalami luka berat. Lunglai atas jasad yang masih terjabak di bawah lumpur, runtuhan, dan tsunami.

Hingga Ahad, (7/10) telat tercatat 1.753 korban meninggal dunia. Korban meninggal paling banyak ada di Palu, Sulteng, dengan jumlah 1.519 orang. Pencarian korban akan terus dilakukan hingga 11 Oktober nanti. Setelah itu pencarian tetap dilanjutkan namun jumlah personel dan peralatan dikurangi.

Dari semua korban meninggal dunia hanya 923 jenazah yang dimakamkan oleh keluarganya. 753 jenazah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Paboya, 35 jenazah di TPU Pantoloan, 35 jenazah di Donggala, delapan jenazah di Biromaru, dan satu jenazah di Pasangkayu.

“Semoga Palu dan yang terkena musibah cepat pulih. Supaya bisa kembali beraktifitas seperti biasanya.” Harap Ratna.

Seumpama fajar yang datang tak mengutuk waktu. Kita hanya perlu memahami itu, lalu berjalanan sebagaimana air memberi keindahan pada pantai. Tawakkal kepadaNya, memperbanyak amal shalih, semoga akhir perjalan kita di dunia berbuah khusnul khatimah.

________

Ditunggu donasi terbaik untuk Palu dan Donggala. Bantu sodara kita. Salurkan melalui :

Bank Syariah Mandiri (kode : 451) 7555250007
a/n Yayasan Pusat Peradaban Islam

Do’a dan kepedulian kita sangat berarti
agar mereka kuat dan sabar menjalani musibah ini.

lnformasi dan konflrmasi : +6281292847019

#BerkahBerjamaah
#AQLPeduli
#AQLMedia

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close