Sahabat-Sahabat Surga

SAHABAT-SAHABAT surga, yang dalam al-Qur`an disebut dengan istilah al-ahāb al-jannah, memiliki indikator-indikator unik. Bagi siapa saja yang menghendaki menjadi orang seperti mereka, tentu saja perlu meneladani ciri-ciri khas berikut.

Pertama, mereka beriman dan beramal saleh (QS. al-Baqarah [2] : 82, al-A’raf [7] : 42). Di dalam al-Qur’an iman sering digandengkan dengan amal saleh. Kalau dicermati dengan baik, memang keimanan membutuhkan bukti. Sedangkan amal saleh adalah buah dari keimanan.

Karena itulah, dalam kitab al-intishār fī al-Raddi ‘ala al-Mu’tazilah al-Qadariyah al-Asyrār disebutkan bahwa menurut ahli hadits dan jumhur ulama, keimanan bukan sekadar dalam hati. Bagi mereka,  iman adalah pembenaran dalam hati, pengikraran dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan (Abu Husain Yahya, 1419 H: III, 737).

Dengan demikian, ciri-ciri khas sahabat-sahabat surga ketika di dunia adalah memiliki keimanan yang kuat, disertai dengan amal-amal saleh. Jadi, mereka bukanlah orang yang sekadar bermain wacana keimanan, tetapi berusaha mewujudkannya dalam perbuatan. Iman betul-betul menghunjam dalam hati mereka, kemudian dimanivestasikan dengan amal saleh.

            Uniknya, penyandingan kata iman dan amal saleh ini, dalam al-Qur`an lebih banyak disebut dengan menggunakan kata berbentuk jama’ (plural) yaitu āmanū wa ‘amilu al-alihāt (mereka beriman dan beramal saleh). Ini berarti, para sahabat surga, dalam menegakkan keimanan dan beramal saleh, mereka selalu bersinergi, bersatu-padu, dan bekerjasama. Kolektifitas menjadi keniscayaan dalam menegakkan iman dan amal saleh mereka sesama calon ahli surga.

Kedua, selalu meyakini janji Allah pasti dipenuhi (QS. Al-A’raf [7] : 44). Ciri khas kedua yang tidak kalah penting ialah mereka selalu yakin janji Allah subhanhu wata’ala  pasti benar. Seluruh janji Allah yang terbentang dalam al-Qur`an, dan yang dinarasikan as-Sunnah, tidak pernah diragukan sedikit pun. Malahan, semuanya dijadikan pemicu semangat untuk menjemput janji-Nya.

Kisah perang Khandaq atau Ahzab sebagai afirmasi ciri khas ini. Pada waktu itu ada dua golongan yang sangat kontras dalam memandang dan menyikapi janji Allah subhanahu wata’ala. Orang munafik dan orang yang hatinya berpenyakit menganggap janji Allah subhanahu wata’ala sebagai tipu daya semata (QS. Al-Ahzab [33] : 12). Sedangkan, orang-orang beriman, memandang dan meyakini bahwa janji Allah dan Rasul-Nya benar, bahkan keimanan mereka semakin bertambah. Tak mengherankan, keyakinan yang kuat atas janji Allah ini, berbuah kemenangan.

Ketiga, gemar berbuat ihsan (QS. Yunus [10] : 26). Ciri sahabat surga yang ketiga adalah ihsan. Ihsan menurut Syekh Sya’rawi dalam tafsirnya (1997: IV, 2211) adalah melakukan kebaikan di luar yang diwajibkan. Artinya, kebaikan ekstra yang bukan termasuk kewajibannya. Sebagai contoh: tidak hanya melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, tapi juga menunaikan shalat-shalat sunnah lainnya. Tidak hanya melakukan puasa Ramadhan, tapi juga menunaikan puasa-puasa sunnah lainnya. Inilah yang dinamakan ihsan.

Orang dalam tingkat ihsan, dalam gambaran hadits Bukhari dan Muslim adalah orang yang memiliki kesadaran muraqabah (merasa diawasi Allah) yang sangat tinggi dalam melaksanakan ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Gambarannya, seolah-olah Allah subhanahu wata’ala berada langsung di hadapannya. Jadi kata kunci ihsan ialah selalu melakukan kebaikan ekstra dan memiliki kesadaran kuat bahwa Allah selalu hadir dalam setiap ibadah yang dilaksanakannya.

Keempat, di samping iman dan amal saleh, ia juga merendahkan diri ikhbath kepada Allah subhanahu wata’ala (QS. Hud [11] : 23). Ternyata iman dan amal saleh saja tidak cukup. Sahabat-sahabat surga, di samping beriman dan beramal, mereka juga bersikap ikhbat. Syekh Sa’di dalam Taisīr al-Karīm al-Rahmān (2000: 380) menjelaskan bahwa makna ikhbat adalah: tunduk kepada Allah, terpaku kepada keagungan-Nya, patuh pada kekuasaan-Nya, kembali kepada-Nya dengan cinta, rasa takut, harapan dan menundukkan diri kepada-Nya.

Kelima, pengakuan verbal bahwa Allah sebagai Rabb, kemudian istiqamah dalam menjalankannya (QS. Al-Ahqaf [46] : 13, 14). Secara lisan sahabat-sahabat surga menyatakan keimanannya kepada Rabb. Di samping itu, mereka juga berusaha secara istiqamah, konsisten untuk membuktikannya dalam amal nyata. Dengan keimanan dan istiqamah, menurut ayat ini, para sahabat surga tidak pernah merasa takut dan bersedih hati dalam menjalani hidup.

Berkaitan dengan hal ini, ada riwayat menarik. Ketika Sufyan bin Abdillah al-Tsaqafi bertanya mengenai pernyataan dalam Islam yang tidak akan ditanya kepada orang lain selain nabi, maka beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah.’ Kemudian, istiqamahlah!” (HR. Ahmad).

Intinya, jika kita ingin menjadi sahabat-sahabat surga, sebagaimana yang disebutkan al-Qur`an, maka setidaknya memiliki lima indikator: Pertama, beriman dan beramal saleh. Kedua, selalu yakin akan janji-janji Allah. Ketiga, gemar berbuat ihsan. Keempat, tunduk dan patuh kepada Allah. Kelima, secara verbal menyatakan, “Rabbku adalah Allah” kemudian konsisten membuktikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebarkan Kebaikan!