Revitalisasi Keislaman Dibutuhkan Pasca-aksi 212

PEKANBARU (AQLNEWS) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) KH Bachtiar Nasir mengisi acara Kuliah Umum dengan tema Keislaman, Kebangsaan, dan Kebhinnekaan di Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Kamis (6/4/17). Dalam ceramahnya, KH Bachtiar Nasir menyatakan, umat Islam di Indonesia butuh revitalisasi keislaman di semua lini.

Mulai dari semua elemen masyarakat hingga ke tingkat eksekutif, legislatif, dan yudikatif membutuhkan revitalisasi keislaman untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang berkemajuan. ” Aksi 411-212 adalah given, yaitu nikmat normatif dari Allah SWT. Bagaimana membawa nikmat normatif itu untuk direalisasikan? Jawabannya adalah revitalisasi keislaman,” kata Pimpinan AQL Islamic Center ini.

Menurut dia, ada tiga struktur sosial Islam untuk mewujudkan revitalisasi keislaman di Indonesia.  Pertama adalah tunduk pada fatwa ulama, kedua menjadikan ulama sebagai figur keteladanan umat, dan ketiga membangun lembaga keilmuan dan keagamaan.

“Islam tak terkalahkan kalau umat tunduk pada fatwa ulama. Nah inilah keseriusan kita dalam mengawal fatwa MUI hingga berdirilah GNPF,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, hadir juga sebagai pembicara, Koordinator Tim Advokat GNPF MUI Dr Kapitra Ampera dan Panglima Aksi GNPF MUI Munarman SH. Kuliah umum ini dipandu oleh tokoh setempat Dr H Mustafa Umar Lc, MA.

Menurut Munarman, keislaman harus direalisasikan sebagai panduan dan jalan hidup bagi umat Islam berdasarkan kebenaran yang mutlak yaitu al-Qur’an. Adapun kebangsaan dan kebhinnekaan merupakan realitas sosial. Kebhinnekaan yang dilatarbelakangi dari etnis tidak bisa dielakkan. Etnis adalah takdir Allah SWT, karena seseorang tidak mugkin memilih akan dilahirkan di mana dan etnis apa.

“Hanya karena ada yang terus menggesek dan menggosok agar bangsa ini terpecah,” katanya.

Karenanya, kata dia, masalah perbedaan tidak perlu ditonjolkan karena tujuannya hanya memecah bangsa. Memang ada kelompok tertentu ingin memecah bangsa ini dengan mengangkat kebhinnekaan sebagai wacana pemecah belah. Bahkan, ada yang ingin menjauhkan ajaran Islam dari umat. Buktinya, ternyata banyak juga generasi muda yang tidak meyakini lagi kebenaran agamanya. “Banyak umat Islam yang atheis dan sekuler karena tidak meyakini Islam dan al-Quran. Kalau tidak percaya Quran, sia-sia,” katanya.

Sementara Kapitra Ampera mengatakan, setelah Aksi 212 ada kebanggan menjadi orang Islam. Karenanya, benih persaudaraan dan persatuan umat ini seharusnya dijaga, bukan dihalang-halangi.   “Dengan Aksi 212, umat Islam telah merajut kebersamaan dan persatuan serta bangga menjadi saudara sesama muslim,” katanya. *azh

Sebarkan Kebaikan!