Refleksi Kemerdekaan di Bulan Ramadhan

AHMAD Mansur Surya Negara dalam buku Api Sejarah 2 (2014: 319) mencatat bahwa Ramadhan dalam perkembangan peristiwa sejarah di Indonesia sebagai the great time (titik waktu terbaik dalam perubahan sejarah yang besar). Bagaimana tidak, perjuangan ulama dan santri baik pasca dan pra kemerdekaan begitu sengit pada saat bulan agung ini.

Jauh sebelum kemerdekaan misalnya, Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) bersama menantunya Fatahillah, misalnya berhasil melakukan perlawanan dan merebut Jayakarta pada 22 Ramadhan 993 H atau 22 Juni 1527 dari tangan Portugis.

Pasca kemerdekaan, di Sumatera Selatan, pada waktu Agresi militer I Belanda, pada hari ketiga bulan puasa,  seusai sahur sekitar pukul 04.00 pagi umat Islam berjuangan melawan penjajah. (Dinas Sejarah, Kodam II Bukit Barisan, 1984: 310). Ulama dan rakyat Aceh pun juga memimpin perlawanan pada bulan Ramadhan 1366 H bertepatan dengan 19 Juli 1947 (Pramoedya, 2001: 228). Tentara Siliwangi di pertempuran Cijoho melawan Belanda dengan sengit di hari kedua bulan Ramadhan (Badan Pembina Corps Siliwangi Jakarta Raya, 1991: 186).

Begitu juga momentum kemerdekaan Indonesia terjadi di bulan Ramadhan. Maka tidak heran jika dalam pembukaan UUD 1945, alenia ketiga berbunyi: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” (Suparman, 2012: 60).

            Kata-kata “berkat rahmat Allah”, bila dianalisis secara historis, maka akan mengantarkan kita kepada peristiwa kemerdekaan Indonesia yang diplokamirkan pada Jum’at Legi, 9 Ramadhan 1364.

Menurut literatur Islam, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan adalah rahmat, karena itulah pemilihan kata rahmat pada pembukaan ini tidak bisa dilepas dari sepuluh awal bulan Ramadhan yang dalam hadits dinilai sebagai momen berlimpahnya rahmat Allah SWT:

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“(Bulan Ramadhan) adalah bulan yang (sepuluh) awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari apin neraka.” (HR. Baihaqi, Ibnu Huzaimah).

Mengenai kemerdekaan Indonesia di bulan Ramadhan, ada beberapa fakta menarik yang menyertainya: Pertama, proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan. Kedua, mengenai pemilihan angka 17, Soekarno menjelaskan kepada Cindy Adams bahwa angka 17 adalah angka keramat karena al-Qur`an turun pada 17 Ramadhan dan Soekarno sendiri shalat wajib dalam sehari 17 rakaat. (Widyosiswoyo, Sejarah Kebudayaan Indonesia, 200).

Ketiga, teks Proklamasi sendiri dibuat pada bulan Ramadhan 1364 dan diketik oleh Sayuti Melik dan ditandatangani dua proklamator pada saat makan sahur di rumah Laksamana Maeda. Keempat, naskah diproklamasikan pada saat sedang berpuasa.

Kelima, ideologi Pancasila disepakati pada 18 Agustus 1945 bertepatan dengan 10 Ramadhan 1364. Di antara ulama yang turut berjasa dalam proses ini adalah KH. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Teuku Muhammad Hasan.

Jadi, Ramadhan –dengan berbagai peristiwa yang mengiringinya- benar-benar mengingatkan peristiwa bersejarah berupa kemerdekaan Indonesia. Ramadhan menjadi momentum kemerdekaan. Setiap 9 Ramadhan, paling tidak menjadi refleksi dan rasa syukur bagi bangsa Indonesia, utamanya umat Islam bahwa semua itu terwujud atas rahmat Allah SWT dan perjuangan yang gigih pada bulan Ramadhan. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

 

 

Sebarkan Kebaikan!