Refleksi Banjir Ala Al-Qur’an

BANJIR kembali melanda wilayah Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sebagaimana dilansir news.detik.com pada awal tahun 2017 berpotensi meningkat lebih tinggi. Fenomena yang terus berulang ini semestinya menjadi bahan refleksi diri baik bagi rakyat maupun pejabat.

Setidaknya, hukum kausalitas sangat relevan dalam membincang kasus banjir ini. Tidak mungkin ada akibat kalau tidak ada sebabnya. Pribahasa Indonesia mengatakan: Kalau tiada angin bertiup, takkan pokok bergoyang (Pamuntjak, 2004: 23). Menariknya, ketika membahas sebab-sebab kerusakan atau bencana, secara tegas al-Qur`an mengatakan bahwa hal itu karena ulah tangan manusia sendiri (QS. Ar-Rum [30] : 41).

Ungkapan Al-Qur`an ini benar-benar teruji.  Berkaca pada sejarah umat terdahulu, ada dua kasus yang diangkat Al-Qur`an.  Pertama, banjir di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam. Sedangkan yang kedua, adalah banjir yang mendera kaum Saba di negeri Yaman. Dua peristiwa ini perlu diuangkap sebab-sebabnya di sini supaya bisa dijadikan refleksi dan evaluasi diri bagi siapa saja yang sedang mengalami musibah yang sama.

Banjir Zaman Nabi Nuh

Banjir di masa Nabi Nuh ‘alaihis salam digambarkan Al-Qur`an dengan sangat terang:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut [29] : 14).

Banjir zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam yang diistilahkan dengan kata thuufaan ini disebabkan ulah tangan kaumnya sendiri. Selama 950 tahun beliau mengingatkan mereka agar tidak kufur, syirik kepada Allah subhanahu wata’ala, tapi kebanyakan dari mereka menolak bahkan menentang dan memperolok-oloknya. Pada ayat tersebut, sebab inti yang dilakukan kaumnya adalah kedzaliman. Bukan kezaliman biasa, tapi kedzaliman besar, yaitu: syirik kepada Allah subhanahu wata’ala.

Bila dirinci, kedzaliman yang meraka lakukan meliputi dua hal. Pertama, merasa nyaman dengan kemusyirikan. Kedua,  menentang dan menolak ajakan Nabi Nuh ‘alaihis salam. Maka sudah sepantasnya, mereka mendapat bencana besar seperti itu.

Banjir Zaman Kaum Saba

Banjir yang terjadi di zaman kaum Saba’ tidak kalah hebat. Al-Qur`an mengulasnya dengan sangat jelas:

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (QS. Saba [34] : 16).

Bila dicermati dari ayat 15 sampai ayat 18 dari Surah Saba, negeri yang digambarkan Al-Qur`an sebagai baldatun thayyibatun warabbun ghafur (negeri yang nyaman dan terampuni dosanya atau dalam bahasa Jawa: gemah ripah loh jinawi, adil makmur kerta tata raharja) ini bisa didera banjir lantaran karena beberapa sebab. Pertama,  tidak bersyukur terhadap nikmat Allah. Kedua, berpaling dari peringatan Allah subhanahu wata’ala yang dibawa Rasul-Nya. Ketiga, adalah kekufuran.

Akibat tiga faktor inilah, berbagai kenimakmatan yang mereka dapatkan akhirnya sirna. Bendungan Ma`rib yang begitu kokoh akhirnya jebol, yang menyebabkan sailal ‘arim (banjir besar) yang melibas habis kebun-kebun mereka. Bahkan, semuanya diganti dengan yang buruk-buruk. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir al-Qur`an al-‘Adzim, VI/507), menjelaskan bendungan itu jebol lantaran juradz (tikus) yang dikirim Allah subhanahu wata’ala untuk menggerogoti bendungan yang menjadi simbol kepongan mereka.

Dari kedua peristiwa banjir tersebut, ada 5 faktor penting yang menyebabkan banjir. Pertama, kesyirikan. Kedua, menentang kebenaran di mana keduanya masuk dalam kategori kedzaliman. Ketiga, tidak mau bersyukur. Keempat, berpaling dari peringat Allah subhanahu wata’ala. Kelima, kufur kepada Allah subahanhu wata’ala.

Dari kelima sebab tersebut, fenomena banjir yang terjadi saat ini, setidaknya bisa dijadikan refleksi, bahkan evaluasi diri. Jangan ada lagi kesombongan dari pejabat, misalnya: menantang banjir. Demikian pula masyarakat lebih pandai lagi bersyukur dan tidak mendzalimi diri dengan tidak mencemari lingkungan sekitarnya. Kejadian ini semestinya tidak akan terulang lagi, kalau pejabat dan masyarakat mau mengevaluasi diri.

Sebagai penutup, hadits yang Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wasallam berikut, bisa dijadikan pelajaran:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata, “Seorang Mukmin tidak terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari, Muslim). Intinya, bila tidak ingin banjir kembali datang, maka jangan sampai melakukan kesalahan-kesalahan yang berulang. Wallahu a’lam.

 

Sebarkan Kebaikan!