Ramadhan, Momentum Membangun Keluarga Qur’ani (2)

KH BACHATIAR NASIR

(Pimpinan AQL Islamic Center)

PENDIDIKAN qalbu harus terus ditanamkan ke dalam keluarga. Apa jadinya jika ayah tidak punya konsep untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan hakiki dalam rumah tangga? Tentu hanya menambah keruh suasana. Padahal, ayah harus mengendalikan suasana rumah dengan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, ayah telah memberi makan kepada jasad dan ruh keluarga. Namun, bagaimana jika ayah sendiri yang tidak hidup qalbunya? Tidak mungkin mampu menghidupkan qalbu istri dan anak-anaknya.

Kemudian masalah fashion, pakaian yang paling dibutuhkan oleh qalbu adalah pakaian takwa.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. al-A’raf: 26)

Dalam masalah fashion seorang ayah harus lebih berhati-hati kepada anak perempuannya. Fashion qalbu yang paling dibutuhkan untuk kehidupan anak perempuan adalah al-hayah (malu). Belikan pakaian rasa malu kepada anak perempuan, karena semakin kuat dan kokoh rasa malu dalam hati seorang anak perempuan maka ia akan semakin cantik dan –Insya Allah- akan dipertemukan dengan jodoh yang akan membahagiakan ayahnya. Anak perempuan galau karena tidak dibelikan fashion qalbu dan tidak dididik menjadi wanita cantik oleh ayahnya, maka jangan heran jika dipertemukan dengan jodoh yang bisa menjadi musuh bagi ayah. Hal inilah yang menjadi kehancuran pertama bagi seorang ayah, ketika anak perempuannya tidak berada dalam kendalinya.

Jika ingin memberikan pakaian tambahan kepada anak-anakmu agar bertambah cantik dan tampan maka ajaklah mereka untuk selalu mengagumkan Allah SWT. dandanlah mereka dengan memperbanyak tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid.

Dalam kehidupan ini ada tiga jenis tipe ayah. Pertama, ayah yang merasa sok benar. Ayah yang merasa sok benar di rumah biasanya menggunakan kekerasan di dalam rumah tangganya. Tipe pemimpin rumah tangga seperti inilah yang tidak akan membawa anak dan istrinya kepada kehidupan yang hakiki. Banyak anak-anak yang sering mengeluh dan tidak mau ke mesjid untuk shalat berjamaah karena ada bapak-bapak yang memerintah dengan cara sok benar.

Kedua, tipe ayah yang mengetahui bahwa dirinya salah sehingga sering mengaku salah kemudian minta maaf (ayah lembut).

Dalam kehidupan yang paling sering disuruh minta maaf adalah anak ke ayah, padahal yang paling bertanggung jawab untuk meminta maaf adalah ayah kepada anaknya. Tapi banyak sekali ayah yang sombong dan takut meminta maaf kepada anaknya.

Contoh, ayah yang paling kejam menurut Imam al-Ghazali adalah ayah yang tidak membesarkan anak sejak kecil dengan agama. Banyak ayah yang kerja keras mencari nafkah untuk anaknya, tapi tidak sadar kalau isi kepalanya dirampok oleh liberalisme, sekularisme, dan komunisme. Seorang ayah harus menjadi rektor bagi anaknya agar ia tidak dirampok kepala dan hatinya oleh dosen yang liberal. Barangsiapa yang bertambah ilmu tapi tidak bertambah hidayah maka dia bertambah jauh dari Allah SWT dan ayah-lah yang menjadi penjahat pertama yang membuat anak jauh dari Allah SWT.

Didiklah anak-anak sebagaimana Nabi Ya’qub AS. Ketika kematian mendatanginya ia memanggil anak-anaknya kemudian bertanya tentang siapa yang mereka sembah sepeninggalnya.

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. al-Baqarah: 133)
Ketiga, ayah ketika dia tau dirinya benar dan pasangannya yang salah, tetapi yang pertama disalahkan adalah dirinya sendiri. Karena separuh kesalahan anak dan istri adalah separuh kesalahan ayah sebagai pembimbing.
Tipe ayah seperti inilah yang menjadi tipe ayah teladan. Karena selalu mengoreksi dirinya terlebih dahulu sebelum mengoreksi anak atau istrinya.
Kewajiban seorang ayah adalah menanamkan kehidupan qalbi kepada anak-anaknya. Agar anak lebih menikmati kuliner zikir daripada kuliner kikil, agar film yang menjadi hobi anak bukan film action, drama, horor atau apapun bentuknya. Film yang diajarkan adalah, bagaimana agar surga begitu visual sehingga ketika anak itu membaca ayat tentan surgawi ia terpacu untuk berbuat baik karena seakan-akan semerbak harum surgawi ada di depan mata. Ayah juga harus mengajari film yang bisa membuat anak melihat neraka ketika membaca ayat-ayat tentang larangan sehingga ia takut untuk bermaksiat kepada Allah SWT.
Satu saja yang menjadi kata kunci, jangan cuma membesarkan badanya tapi besarkan kehidupan qalbianya.
Kemudian cintakan anak untuk membaca selawat minimal 10 kali di awal pagi dan pada waktu petang. Karena itu akan menjadi suplemen untuk mendidik anak yang shalih dan menjadi anak-anak yang meneladani Rasulullah SAW.

Sebagai suami, istri butuh empat tipe suami. Pertama, istri itu butuh suami untuk dicintai. Kedua, istri butuh suami yang mencintainya. Ketiga, istri juga butuh suami yang bisa memprotek untuk menjadi pelindung baginya. Dan keempat, istri butuh suami yang mendidik termasuk memeliharanya.

Jika empat hal ini tidak ada pada suami, maka bisa saja hubungan dengan suami hanya sebatas maslahat saja. Jika istri tidak mendapati suaminya sebagai orang yang bisa dia cintai, maka dia akan mencari orang yang bisa dia cintai. Jika istri demikian, biasanya karena dia tidak mendapatkan cinta dari sang suami. Refleksi cinta terlihat dari cara suami menjadi pelindung bagi istrinya. (selesai) *muhajir

Sebarkan Kebaikan!