Ramadhan, Momentum Membangun Keluarga Qur’ani (1)

KH BACHTIAR NASIR
(Pimpinan AQL Islamic Center)

SEBUAH harapan bagi para ayah, suami, dan pemimpin rumah tangga bisa menjadi orang tauladan pada bulan Ramadhan ini. Imam al-Ghazali pernah berkata, manfaatkanlah usiamu sejak anakmu masih kecil. Sebab, ketika dia mulai beranjak dewasa maka akalnya mulai sibuk sehingga orang tua sulit untuk memenuhi relung jiwanya.

Hal ini sangat penting, sebagaimana halnya memberikan asupan kepada anak. Imam al-Ghazali juga berkata, mendidik anak seperti mencabut ilalang di sekitar tanaman yang sedang kita tanam agar tumbuh besar dengan asupan pengasuhan orang tuanya. Allah SWT berfirman dalam surat al-Anfal ayat 24:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. al-Anfal: 24)

Yang disebut dengan kehidupan dalam ayat adalah kehidupan yang hakiki bukan kehidupan semu. Kehiudpan hakiki adalah kehidupan qalbi bukan kehidupan semata-mata jasadi. Hal ini menjadi tugas berat bagi ayah untuk menanamkan kepada anaknya. Tugas seorang suami menghidupi istri bukan sekedar kehidupan jasadi tapi lebih memperhatikan penghidupan ruhiyah. Sebagai seorang ayah, jangan hanya berhasil membesarkan fisik seorang anak tapi gagal mendidik jiwa atau alam qalbu anak itu. Misalnya, dari sisi food, fashion, fun, film, dan favorit.

Ayah yang membesarkan badan anak maka food-nya hanya berupa makanan dan tidak memperhatikan halal dan haram. Padahal Rasulullah SAW bersabda, takutlah kepada siksa Allah walau hanya sebutir kurma. Hanya sebutir kurma tidak halal saja yang kau berikan kepada istri dan anakmu, maka itu akan menjadi bencana dalam keluarga. Istri akan susah dikendalikan dengan makanan haram dan anak pun akan kehilangan kendali kita dengan haramnya makanan. Bahkan kendaraan yang dikendarai banyak masalah akibat memakan makanan yang haram. Jika ayah fokus pada bulan Ramadhan membangun kehidupan hakiki bukan kehidupan semu, maka disinilah nanti akan terjadi keseimbangan antara jasad dan ruh.

Ayah yang fokus pada pembangunan kehidupan qalbu anaknya maka dia akan mengajarinya zikrullah dan dia akan mendidik akan indahnya hidup bersama al-Qur’an. Abdullah ibnu Mas’ud, Abdullah ibnu Umar, dan Abdullah ibnu Abbas adalah contoh anak-anak pada masa Rasulullah yang dibesarkan dengan metode yang benar.

Para sahabat pernah berkata, dulu kami di masa Rasulullah sebelum baligh, kami terlebih dahulu diajarkan bagaimana beriman kepada al-Qur’an lalu kami diajarkan membaca dan menghafal al-Qur’an. Karena mempelajari iman sebelum mempelajari al-Qur’an akan menambah iman ketika masuk ke priode pelajaran membaca al-Qur’an. Tujuan mendidik anak membaca dan menghafal al-Qur’an adalah agar imannya bertambah. Metode inilah yang disebut metode penghidupan qalbu atau mengajari anak kepada kehidupan hakiki.

Semua orang mengetahui bahwa makanan yang paling dibutuhkan jasad adalah empat sehat lima sempurna. Bahkan semua orang tau nutrisi yang tepat untuk keluarganya di waktu berbuka puasa dan waktu sahur. Akan tetapi, seringkali ayah tidak memperhatikan nutrisi untuk jiwa keluarganya padahal itu yang paling penting untuk dipenuhi. Makanan yang paling cocok untuk qalbu adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surat al-Ahzab ayat 41-42

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. al-Ahzab: 41-42)

Makanan qalbu itu adalah iman kepada Allah SWT dan memperbanyak zikir kepada-Nya kemudian belajar menikmati indahnya menyebut nama-Nya. Setelah itu difahami maka tentukanlah jadwal-jadwal makan bagi qalbu, misalnya zikir pagi untuk makan pagi dan zikir petang untuk makan sore.

Ketika ayah tidak bisa menjadi pemimpin dalam membangun keluarga Qur’ani maka biasanya akan terjadi pendidikan karakter negatif secara tidak sengaja. Misalnya, menyuruh kakak membangunkan adik dengan cara marah, maka sang kakak juga akan membangunkan adiknya dengan perlakuan yang sama dengan yang dilakukan ayahnya. Coba bayangkan, sang kakak yang baru bangun tidur dengan mood yang tidak bagus langsung dibentak untuk membangunkan adiknya. Si kakak yang tidak dididik dengan keimanan saat itu untuk membangunkan akhirnya membangunkan adiknya dengan kasar. Maka seharusnya sahur sebagai ladang untuk memperbanyak istigfar dan merubah kehidupan rumah tangga menjadi lebih kondusif. Dalam keadaan seperti itu sang ayah harus masuk dan menjadi pemimpin sejati untuk mengajari dan mengajak anggota keluarganya kepada kehidupan hakiki. Misalnya, ayah menasehati bahwa sahur itu bukan sekedar untuk memberi makan kepada jasad tapi yang paling penting adalah memberi makan kepada jiwa, dengan zikir, tasbih, dan istigfar. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!