Ramadhan Mengikis Budaya Konsumtif

RAMADHAN yang disebut sebagai bulan “shiyâm dan qiyâm” (bulan puasa dan penegakan shalat malam), pada dasarnya melatih individu atau komunitas untuk menjadi insan yang pandai mengendalikan diri. Bentuk konkretnya, seorang yang di luar bulan Ramadhan terbiasa hidup konsumtif, maka di bulan Ramadhan kebiasaan ini bisa terkikis.

Pada realitanya, meski barang-barang di pasar harganya melonjak tinggi, masyarakat justru menjadi sangat konsumtif. Bahkan, dana yang dikeluarkan pada bulan puasa meningkat tajam dibanding bulan-bulan lainnya. Persiapan sahur, takjil, lebaran, angpau, THR dan lain sebagainya adalah beberapa contoh yang turut berperan dalam menumbuhkan tradisi konsumtif.

Melihat fenomena demikian, seyogyanya kita bercermin kepada Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan. Misalnya kita ambil satu aspek saja: pola makan beliau di bulan Ramadhan. Bila ditilik dari sejarah kehidupan beliau dan hadits-hadits shahih, pola makan sahur dan buka nabi secara umum adalah ala kadarnya seperti beberapa butir kurma, air dan terkadang susu.

Jadi kebutuhan konsumsi pribadi, relatif sedikit. Artinya, untuk diri sendiri dan keluarga, beliau tidak konsumtif. Makan dan minum ala kadarnya. Meski demikian,  beliau sangat giat dalam beribadah. Shalat malam, baca al-Qur’an dan ibadah-ibadah lain meningkat tajam pada bulan ini. Bahkan, kedermewanan beliau dalam bulan penuh berkah ini berlipat ganda.

Uniknya, pola-pola demikian, tetap beliau jalankan di luar bulan Ramadhan. Beberapa riwayat misalnya menyatakan pernah beliau tidak makan sampai tiga hari, kadang sampai perutnya diganjal batu, bahkan kata ‘Aisyah, Rasulullah SAW tidak pernah kenyang hingga beliau meninggal dunia. Artinya, beliau jauh dari kebiasaan konsumtif.

            Pola makan ini seakan mengajarkan nilai agung: Ramadhan melatih individu bahkan komunitas agar pandai mengendalikan diri sehingga tidak menjadi konsumtif. Sebaliknya, bila yang menonjol adalah budaya konsumtif, maka akan berat dalam beramal. Misal saja, jika waktu berbuka nyediakan berbagai macam jenis santapan yang diinginkan syahwat di siang hari, kemudian memakannya hingga kekenyangan, maka bisakah beribadah secara giat dan khusyuk di waktu Tarawih?

Dengan demikian, jika realitas Ramadhan menunjukkan budaya konsumtif, maka perlu ada perubahan revolusioner untuk mengikis budaya ini. Sehingga, Ramadhan bukan sekadar rutinitas yang melahirkan konsumerisme, tapi sarana efektif untuk menciptakan tradisi amal berkualitas yang resonansinya tetap menggema di bulan-bulan lainnya. Wallahu a’lam.

Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!