Ramadhan di Lembah Badar

LEMBAH Badar, 17 Ramadhan 2 Hijriah, menjadi saksi bisu pertempuran dahsyat antara pejuang haq dan bathil. Umat Islam sebelumnya tidak pernah menyangka akan menghadapi takdir Allah yang disebut yaumul-furqân (Hari Pembeda) ini. Ekspedisi militer yang dikirim Rasulullah SAW sebelum pertempuran ini meletus, sebenarnya di antara tujuannya adalah untuk mencegat kafilah dagang Qurays untuk mengambil hak mereka yang dirampas di Makah. Ternyata, Abu Sufyan beserta rombongan bisa meloloskan diri.

Mendengar kabar penghadangan, kaum kafir Qurays tidak terima. Abu Jahal beserta pembesar-pembesar Qurays lain dengan jemawa menabuh genderang perang. Bagi kafir Qurays, ini adalah perang hidup-mati dalam membela keyakinan, tradisi dan kepentingan. Dibawalah seribu orang peserta disertai biduan-biduan wanita untuk menghadapi pertempuran yang sangat fenomenal ini.

Dengan jumlah yang bergitu besar, ditunjang dengan kendaraan dan peralatan yang memadai, mereka jelas merasa di atas angin. Bekal mereka dalam menghadapi perang dahsyat ini adalah kuantitas, kekufuran, dan kemaksiatan.

Ketika pihak muslim mendengar Qurays sudah siap menyerang Madinah, mereka juga melakukan persiapan. Hanya saja, dalam pertempuran ini, Rasulullah tidak mewajibkan para sahabat untuk ikut serta. Yang ikut dalam pertempuran ini hanya mereka yang betul-betul tulus dan tidak ada halangan untuk berjihad. Secara jumlah memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan tentara Qurays. Waktu itu, jumlah kaum muslimin hanya tiga ratus tiga belas atau empat belas orang. Mereka berangkat dengan bekal keimanan, ketaatan dan pengorbanan tulus.

Sebelum berangkat, Rasulullah SAW memastikan loyalitas umat Islam (Muhajirin dan Anshar). Setelah bisa dipastikan, beliau bersabda, “Atas berkat Allah, berangkatlah.” Sebelum pertempuran berkecamuk, Rasulullah sudah SAW mendapatkan berita dari Allah bahwa umat Islam akan memenangkan pertempuran ini. Dibuatlah singgasana khusus untuk Rasulullah SAW atas saran Sa’ad. Dan di tempat itu beliau tidak henti-hentinya bermohon kepada Allah dengan linangan air mata tulus. “Ya Allah, jika Engkau tidak menangkan kelompok haq ini, maka Engkau tidak akan disembah selamanya.

Pada momen Ramadhan ini, di lembah Badar (tempat strategis yang diinisiasi oleh Hubab bin Mundzir) berlangsunglah pertempuran sengit antara kelompok yang  asyik dengan kesyirikan, merasa nyaman dengan tradisi syirik dan kemaksiatan serta menjadi penentang utama terhadap kebenaran. Melawan kelompok yang bermodal keimanan dan ketaatan serta tawakkal tingkat tinggi. Menariknya, pada perang ini, Allah menurunkan tentara-tentaranya. Para malaikat misalnya, sampai turun tangan membabat kaum kafir Qurays.

            Akhir kemenangan memang di tangan umat Islam. Tapi yang perlu dicatat, dalam momen Ramadhan (saat diwajibkan puasa sebulan penuh), mereka berjuangan sekuat tenaga, berusaha secara maksimal, bermunajat, dan bertawakkal. Mereka yakin akan firman Allah, “Betapa banyak kelompok sedikit mengalahkan kelompok yang banyak atas izin Allah dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 249).”

Karenanya, di kemudian hari saat Umar bin Khattab menjadi Khalifah, nasihat utama bagi tentara muslim yang berjihad adalah, “Sesungguhnya kalian ditolong bukan karena kuantitas dan kelengkapan logistik kalian, tapi karena kemaksiatan musuh dan ketaatan kalian. Jika kalian sama-sama bermaksiat, maka pasti akan kalah, karena secara kuantitas dan perbekalan mereka jauh melampau kalian.”

Perjuangan di lembah Badar pada momentum Ramadhan ini setidaknya mengingatkan muslim bahwa Ramadhan adalah momentum melejitkan perjuangan. Hanya pejuang-pejuang sejati yang bisa meraih kemenangan di bulan ini. Kemenangan berupa takwa yang ditularkan pada bulan-bulan lain hingga berjumpa Ramadhan kembali. Wallahu a’lam.

Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!