Ramadhan Bulan Tadabbur al-Qur’an

ORANG yang bertadabbur al-Qur’an akan merasakan bahwa al-Qur’an itu berasal dari Tuhannya dan tidak akan menemukan kontradiksi antara Qur’an dan hatinya, antara Qur’an dan kenyataan, antara satu surat dengan surat yang lain, dan antara satu ayat dengan ayat yang lain.
Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW mendirikan shalat dari pertengahan malam sampai menjelang subuh hanya mengulang-ulang satu ayat yaitu di dalam surat al-Maidah ayat 118. Allah SWT berfirman:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Maidah: 118)

Doa pemimpin ini adalah permintaan Isa al-Masih untuk kaumnya. Doa ini kemudian diulangi oleh Rasulullah SAW di dalam rukuk dan sujudnya. Inilah yang disebut dengan tadabbur al-Qur’an yaitu sebuah pendekatan atau berinteraksi dengan al-Qur’an lewat ketajaman mata hati serta merenungi maknanya berulang-ulang secara mendalam sampai menemukan rahasia di balik al-Qur’anul Karim.
Keuntungan orang yang sudah bertadabbur al-Qur’an adalah dia akan merasakan bahwa al-Qur’an itu berasal dari Tuhannya dan tidak akan menemukan kontradiksi antara Qur’an dan hatinya, antara Qur’an dan kenyataan, antara satu surat dengan surat yang lain, dan antara satu ayat dengan ayat yang lain. Allah SWT berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisa’: 82)

Untuk membuka hati yang telah terkunci, lakukanlah dengan mentadabburi al-Qur’an. Al-Qur’an sering kali salah diinteraksi oleh orang yang beriman. Banyak orang mampu membeli motor, mereka mampu membeli handpone, dan bisa membeli properti mahal, tapi mereka tidak tertarik untuk membeli mushaf al-Qur’an dan terjemahannya. Di majelis ilmu, kampus, dan masjid, tidak banyak umat Islam selalu membiasakan diri membaca terjemahan al-Qur’an dari awal sampai akhir. Padahal, mereka sadar tidak paham bahasa Arab. Seharunsya kita membaca terjemahan jika tidak paham bahasa Arab, mendalami maknanya, dan menyelami mutiara-mutiara yang terpendam di dalamnya. Bahkan, ada umat Islam dari Ramadhan tahun lalu hingga tahun ini tidak pernah mengkhatamkan al-Qur’an dan tidak pernah memberikan waktu khusus untuk al-Qur’an. Maka, betapa keras hati orang yang demikian seperti orang yang telah mati hatinya.

Akan tetapi, tadabburi ayat al-Qur’an lewat kitab tafsir kemudian dalami dan lihat kenyataan alam ini maka kan terbuka mata hati yang telah terkunsi. Hati yang selama ini terkunci dan tidak pernah tertarik untuk mengkhatamkan al-Qur’an tiba-tiba akan terbuka dengan mentadabburi al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24)

Jika ada di antara kita yang sekali seumur hidup tidak pernah membaca terjemahan al-Qur’an sampai akhir karena tidak faham isinya maka artinya hati sedang terkunci mati. Lalu bagaimana membuka hati yang terkunci itu? Untuk membuka hati yang telah terkunci adalah dengan mentadabburi al-Qur’an. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!