Ramadhan Bulan Perjuangan dan Kemenangan

RAMADHAN adalah bulan perjuangan dan kemenangan. Perjuangan-perjuangan krusial dan kemenangan-kemenagan gemilang selama hidup Nabi Muhammad SAW kebanyakan terjadi, bahkan sepeninggal beliau terjad di bulan Ramadhan. Maka tidak berlebihan jika bulan agung ini disebut sebagai bulannya para pejuang dalam menggapai kemenangan. Sementara yang lain menyebutnya Syahru al-Jihâd wa al-Intishaaraat (Bulan Jihad dan kemenangan). Artinya, orang yang menjalaninya dengan kemalasan, pasti akan mengalami kerugian.

Dalam buku berjudul Nidâu al-Rayyân fî Fiqhi al-Shaumi wa Fadhli Ramadhân (1417: 312- 320) Dr. Sayyid bin Husain Al-‘Affâni mencatat perjuangan militer nabi di bulan Ramadhan: Pertama, ekspedisi Hamzah. Pada tahun awal Hijriah, Rasullah sudah mengirim ekspedisi militer yang dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthallib kemudian Ubaidah bin Harits untuk menggentarkan musuh.

Kedua, pertempuran Badar Kubra. Pertempuran ini terjadi pada tahun kedua Hijriah. Perang Badar ini menjadi tonggak kebangkiatan umat Islam sebagai pembeda antara yang haq dan bâthil.

            Ketiga, menyiapkan skuat militer untuk menghadapi orang kafir Qurays yang hendak menuntut balas atas kekalahan mereka pada Perang Badar. Peristiwa ini terjadi pada tahun ketiga Hijriah.

Keempat, persiapan penggalian parit untuk menghadapi Perang Khandaq. Kejadian ini berlangsung pada tahun kelima Hijriah. Menurut catatan sejarah, sebelum berlangsungnya Pertempuran Khandaq di bulan Syawal, sebulan penuh Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabatnya menggali parit.

Kelima, eskpedisi militer Ghalib bin Abdullah. Pada tahun keenam Hijriah, Rasulullah SAW mengutus sariyah (ekspedisi militir yang dipimpin sahabat) Ghalib dengan membawa 130 pasukan untuk menyerang Abdullah bin Tsa`labah yang secara terang-terangan menentang orang Islam. Pada pertempuran ini umat Islam mendapat kemenangan gemilang.

Keenam, pembebasan kota Mekah. Pada tahun kedelapan Hijriah (20 Ramadhan), tetpatnya bulan Ramadhan, terjadi kemenangan agung di kota Mekah. Pada bulan istimewa ini, Nabi Muhammad beserta sahabatnya mampu menduduki Mekah dengan damai tanpa pertumpahan darah. Dalam salah satu komentarnya, Rasulullah sampai berujuar, “Sekarang adalah hari kasih sayang, bukan hari pembantaian.” Pada waktu itu, 360 patung yang berada di dalam Ka’bah bisa disingkirkan.

Ketujuh, penghancuran patung. Pada tahun kedelapan (bulan Ramadhan), patung Hubal, Uzzah dan Suwa bisa dihancurkan. Sedangkan patung Lata baru dihancurkan pada tahun kesembilan pada bulan Ramadhan.

Kedelapan, kembali dari pertempuran Tabuk. Pada tahun kesembilan Hijriah, Rasulullah beserta rombongan sahabat baru pulang dari Perang Tabuk yang mendapat kemenangan.

Dari beberapa perjuangan Rasulullah SAW dalam gelanggang jihad militer tersebut, bisa dipetik pelajaran berharga: bahwa Ramadhan yang dilalui nabi adalah Ramadhan yang penuh perjuangan. Bayangkan, dari tahun pertama Hijriah sampai kesembilan Hijriah, hampir tidak pernah sepi dari perjuangan, khususnya di bidang jihad militer.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika teladan baik ini terus diteladani oleh generasi setelahnya. Pertempuran Buwaib (13 H), Naubah (31 H), pembebasan Rodos (53 H), Tharif (91 H), pembebasan Andalusia (91 H), jatuhnya Zaragoza, Cisilia (264 H), Harim (559), Karam (584 H), dan ‘Ainun Jalut (658 H) adalah di antara contoh perjuangan di medan jihad yang bertepatan pada bulan Ramadhan.

Bahkan, kemerdekaan Indonesia pun terjadi pada hari Jum’at, tanggal 9, bulan Ramadhan, tahun 1364 Hijriah (Suryanegara, Api Sejarah II (2017), 162).”

Karenanya, Ramadhan seyogianya diisi dengan semangat perjuangan. Bukan sekadar ibadah tahunan yang akan pupus di tengah jalan. Bagaimana mungkin kita akan terampuni dari dosa, tanpa ada perjuangan sungguh-sungguh?. Kita tentu tidak ingin menjadi orang rugi di bulan Ramadhan yang digambarkan nabi, “(yaitu) orang yang Ramadhan sudah berlalu, tapi dosa-dosanya tidak terampuni.” (HR. Tirmidzi).

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!