Ramadhan Bersama Sahabat Nabi

DI antara pembaca mungkin ada yang penasaran bagaimana para sahabat mengisi waktu-watunya di bulan Ramadhan. Dalam kondisi normal, setidaknya ada delapan amalan yang dilakukan para sahabat pada bulan Ramadhan: puasa wajib, shalat malam, sedekah, tadarus al-Qur`an, berdiam diri di masjid bakda shubuh hingga terbit matahari, iktikaf, umrah dan memburu malam kemuliaan yang biasa disibut lailatul qadar.

Para sahabat –sesuai dengan petunjuk nabi- mengawali puasa dengan mengakhirkan sahur, menahan diri dari segenap yang membatalkan dan merusak puasa serta menyegerakan waktu berbuka. Di samping itu, dalam berpuasa mereka memperkokoh pondasi keimanan, serta optimistis terhadap rida Allah SWT. (HR. Bukhari Muslim).

Sedangkan shalat Malam atau yang biasa disebut juga tarawih. Pada saat nabi masih hidup, shalat Tarawih tidak selalu dilaksanakan secara berjamaah, karena khawatir diwajibkan. Sepeninggal beliau, sejak masa Umar bin Khattab RA, shalat malam dilakukan secara berjamaah dan tiap malam. Dalam menunaikan shalat Tarawih ini –sebagaimana puasa- mereka dasari dengan keimanan dan harapan terhadao rida Allah SWT.

Patut untuk diteladani, shalat Malam para sahabat bukan hanya dilakukan di bulan Ramadhan, tapi secara kontinu mereka lakukan di luar bulan Ramadhan. Terkait ini Aisyah pernah mengingatkan, “Jangan pernah melewatkan shalat malam, karena Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau sedang malas, maka beliau shalat dengan duduk.” (HR. Abu Daud).

Sebagaimana nabi, dalam bulan Ramadhan mereka meningkat kedermawanannya. Pada bulan agung ini mereka semakin rajin bersedekah. Mereka melakukan demikian karena meneladani Rasulullah SAW yang digambarkan Ibnu Abbas, “Beliau lebih dermawan di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, Muslim). Bentuk sedekah yang sering diberikan mereka di bulan Ramadhan ialah: memberi makan dan menyiapkan buka (ta`jil) bagi orang-orang yang berpuasa.

Sahabat semisal Abdullah bin Umar RA, setiap kali berbuka, beliau selalu menyertakan orang miskin dan anak yatim. Anda bisa membayangkan betapa besarnya sedekah mereka di bulan Ramadhan. Apa yang mereka lakukan terinspirasi dari hadits nabi yang menyatakan bahwa orang yang menyiapkannya, akan diberi ganjaran tanpa mengurangi ganjarannya sedikit pun (HR. Ahmad, Nasai).

Hal lain yang dilakukan sahabat ialah tadarus al-Qur`an. Pada momen agung ini, mereka bersungguh-sungguh dalam membaca al-Qur`an. Utsman bin Affan misalnya, menyelesaikan bacaan al-Qur`annya setiap hari sekali. Abdullah bin Amru bin `Ash mampu mengkhatamkan al-Qur`an seharian (walaupun diperintah Rasul minimal tiga hari). Ada yang menkhatamkannya selama tiga malam sekali, ada yang tujuh malam sekali, sampai ada juga yang sepuluh malam sekali baru bisa khatam. Itu semua menggambarkan betapa semangatnya mereka dalam membaca al-Qur`an.

Di samping itu, mereka terbiasa duduk di masjid bakda shalat shubuh hingga terbit matahari. Mereka meneladani kebiasaan nabi duduk di masjid setelah subuh hingga matahari terbit (HR. Muslim). Di sisi lain, mereka juga tahu bahwa orang yang duduk di masjid pada waktu tersebut, ganjarannya bagaikan haji dan umrah secara sempurna (HR. Tirmidzi). Selanjutnya biasa dilanjutkan dengan ibadah lain seperti shalat Dhuha.

Iktikaf di masjid pada bulan Ramadhan juga menjadi amal unggulan mereka. Momen i`tikaf dijadikan mereka sebagai wahana untuk mengevaluasi, relaksasi spiritual dan mendekatkan diri secaran intensif dengan Allah subhanahu wata`ala.

Selain itu, ketika bulan Ramadhan di antara mereka ada yang mengamalkan umrah sebagaimana hadits nabi, “Umrah di bulan Ramadhan setara pahalanya dengan ibadah haji bersamaku.” (HR. Bukhari, Muslim). Melihat betapa besar keutamaannya, maka tidak mengherankan jiga umrah di bulan Ramadhan menjadi bagian dari amal unggulan mereka.

Di sepuluh akhir bulan Ramadhan, selain iktikaf mereka juga memburu malam kemuliaan (lailatul qadar). Nabi sendiri memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk mencarinya, bahkan keluarganya pun dibangunkan untuk menjemput malam kemuliaan tersebut. Dalam hadits Bukhari ditegaskan, “Barangsiapa yang melakukan qiyamul lail (shalat malam) di malam kemuliaan, atas dasar keimanan dan mengharap ridhaNya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Demikianlah cara sahabat mengisi waktunya di bulan Ramadhan. Semoga, kita bisa meneladani mereka dan mampu memanfaatkan momentum ini dengan semaksimal dan sebaik mungkin. Wallahu a’lam.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!