Ramadhan Bersama Nabi

BULAN Ramadhan, dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW menempati kedudukan yang penting. Pada waktu puasa pertama dilaksanakan (2 H) misalnya, dimulai dengan pertempuran bersejarah yang diabadikan al-Qur`an dengan sebutan yaumal furqaan (QS. Al-Anfal [8]: 41)., sebagai tonggak sejarah yang membedakan antara yang haq dengan yang batil.

Kala itu, lembah Badar menjadi saksi bisu kemenangan umat Islam yang begitu monumental ini. Pasalnya, seribu pasukan kafir Qurays, tak berdaya melawan kekuatan umat Islam yang berjumlah sekita 300-san. Selain itu, merujuk kepada pertempuran yang terjadi di bulan Ramadhan di zaman nabi, kesemuanya berujung kemenangan. Selain Badar Kubra, ada beberapa ekspedisi militer yang terjadi, misalkan pengiriman pasukan Hamzah untuk menghadang kafilah dagang Qurays,dan lain sebagainya. Lebih menarik dari itu, pembebasan kota Mekah pada tahun kedelapan Hijriah, berlangsung dengan damai dan kemenangan gemilang tanpa darah bersimbah. Memang sangat layak jika dikatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan.

Sebulan sebelumnya, empat syari’at sekaligus diturunkan sebagai persiapan menjelang Ramadhan: kewajiban puasa, kewajiban zakat, perpindahan kiblat dan shalat Idul Fitri. Keempat syariat ini seakan menggambarkan bahwa bulan Ramadhan membutuhkan persiapan matang untuk sukses menghadapi setiap ibadah yang ada di dalamnya. Persiapan materil, spiritual, mental, dan sosial menjadi kandungan tak nyata dari keempat syariat tersebut.

Terkait dengan amalan unggulan nabi –di samping ibadah lain- pada bulan Ramadhan, paling tidak ada beberapa yang tercatat dalam hadits: Pertama, puasa. Puasa yang disertai keimanan dan harapan. Bukan sekadar menahan diri dari syahwat fisik, tapi juga mengontrol diri dari berbagai syahwat non-fisik seperti kemaksiatan dan lain sebagainya. Kedua, shalat malam. Disertai dengan keimanan dan harapan tulus kepada Allah SWT.

            Ketiga, tilawah al-Qur`an. Beliau langsung disimak oleh Jibril setiap kali bulan Ramadhan. Semakin tahun intensitasnya semakin tingga. Dalam rekaman hadits, menjelang meinggal, beliau dua kali disimak oleh Jibril. Keempat, sedekah. Beliau di luar Ramadhan dikenal sebagai sosok dermawan. Lebih-lebih ketika bulan Ramadhan, dalam hadits beliau digambarkan seperti angin yang berhembus. Sedekah ini menggambarkan bahwa Ramadhan juga sebagai sarana untuk peduli sosial.

Kelima, i’tikaf. I’tikaf ini amalan rutin nabi yang biasa dilakukan sepuluh hari terakhir. Barangkali sebagai relaksasi spiritual yang mendekatkan hamba dengan Pencipta. Pada Ramadhan akhir, beliau malah beri’tikaf sebulan penuh. Istri-istrinya pun melanjutkan amalan ini sepeninggal beliau.

Sejak Ramadhan 2 Hijriah, bila dilihat dari kuantitas, kualitas ibadah yang dilakukan nabi, grafiknya selalu naik. Mungkin nabi hanya delapan atau sembilan tahun menjumpai Ramadhan, tapi waktu yang relatif singkat itu mampu dimanfaatkan dengan baik untuk membangun hubungan harmonis dengan Allah SWT dan hubungan hangat secara sosial melalui sedekah.”

Sejak Ramadhan 2 Hijriah, bila dilihat dari kuantitas, kualitas ibadah yang dilakukan nabi, grafiknya selalu naik. Mungkin nabi hanya delapan atau sembilan tahun menjumpai Ramadhan, tapi waktu yang relatif singkat itu mampu dimanfaatkan dengan baik untuk membangun hubungan harmonis dengan Allah SWT dan hubungan hangat secara sosial melalui sedekah. Ramadhan bersama nabi menggambarkan: loyalitas, totalitas, integritas dalam mengaktualisasikan peran manusia sebagai ‘abdullah (hamba Allah) yang pandai mengendalikan diri. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!