RAJAB; Bulan Hijrah, Dakwah dan Jihad

PERISTIWA-PERISTIWA yang terjadi pada bulan Rajab sepanjang dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan tiga pelajaran penting yang patut diteladani: Pertama, hijrah. Kedua, dakwah. Ketiga, jihad.

 

Hijrah

            Hijrah pada intinya adalah pindah. Pindah menuju yang lebih baik. Perpindahan ini bisa menyangkut tempat, kesadaran, sikap, maupun perbuatan. Selama hidup nabi ada beberapa hijrah yang berarti perpindahan tempat: Hijrah Habasyah I, Habasyah II dan Hijrah ke Madinah. Sedangkan hijrah secara kuantitatif –sebagaimana hadits nabi- misalnya: perpindahan dari kemaksiatan menuju ketaatan.

            Ketika kaum kafir Qurays semakin gencar menyakiti dan menyiksa umat Islam di Mekah (pada tahun kelima kenabian), ada opsi brilian yang ditawarkan Rasulullah kepada sahabat-sahabatnya, yaitu: hijrah ke negeri Habasyah. Pertimbangannya, di sana ada raja yang adil sehingga mereka bisa hidup aman dan tak akan dizalimi.

Pada bulan Rajab, mereka pun berangkat menuju Habasyah. Setidaknya ada 12 pria dan 4 wanita yang mengikuti rombangan hijrah ini. Mereka baru kembali pada bulan Syawwal saat mendapat isu keislaman penduduk Mekah (‘Uyuun al-Atsar, I/152).

Uniknya, pada bulan Rajab (9 H) pula nantinya Najasyi (Ashamah bin Abjur) raja penduduk Habasyah yang dikenal adil ini wafat (al-Bidayah wa al-Nihayah, V/39). Rasul pun mengumumkan berita kewafatannya seraya menginstruksikan shalat ghaib kepada sahabat-sahabatnya.

 

Dakwah

            Selain hijrah, peristiwa yang tidak kalah penting pada bulan ini adalah: dakwah. Sepanjang hidupnya, Rasulullah selalu menegakkan dakwah. Delegasi Anshar kepada nabi; delegasi suku Mudhar; delegasi Bani Sa’ad Dhimam bin Tsa’labah pada bulan Rajab adalah bukti bahwa dakwa menjadi pusat perhatian beliau.

Pada tahun 11 kenabian, secara intensif nabi mendakwahkan Islam pada musim haji. Pada waktu itu yang menerima dakwahnya adalah orang yang berasal dari suku Hamdan. Kemudian pada tahun berikutnya tepatnya pada bulan Rajab, datang utusan dari Anshar untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Utusan Anshar ini nanti akan menjadi embrio dakwah di Madinah dan yang paling antusias dalam menyambut kaum muhajiran (al-Bidayah wa al-Nihayah, III/146).

Pada bulan Rajab (5 H), Rasulullah mendapat utusan 400 orang dari Mudhar. Mereka bermaksud hijrah dan masuk Islam. Kemudian Rasulullah menyuruh mereka kembali ke daerahnya, karena mereka juga dihitung sebagai kaum muhajirin di mana pun berada (al-Thabaqah al-Kubra, I/291).

Pada bulan ini pula Bani Sa’ad mengirim Dhimam bin Tsa’labah untuk menimba secara langsung tentang Islam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah mendapat penjelasan yang memuaskan, akhirnya ia masuk Islam kemudian kembali dan berdakwah kepada kaumnya (al-Thabaqah al-Kubra, I/299).

 

Jihad

            Ada beberapa peristiwa jihad yang terjadi pada bulan ini: pengiriman sariyah Abdullah bin Jahsyin dan perang Tabuk.

Pada bulan Rajab tahun kedua Hijriah, Rasulullah mengutus Abdullah bin Jahsyin bersama delapan orang sahabat melakoni sariyah (okspedisi militer). Ekspedisi ini menjadi cikal bakal meletusnya perang Badar Kubra. Pada sariyah ini Ibnu al-Hadhrami dari kalangan musuh terbunuh. Di samping itu, juga menawan dua orang kafir (Utsman dan Hakam bin Kisan) dan mendapat ghanimah untuk pertama kalinya (al-Bidayah wa al-Nihayah, III/248-249).

Pada tahun kesembilan Hijriah, tepatnya bulan Rajab dilancarkan perang Tabuk. Perang ini juga dinamakan Ghazwah ‘Usrah yang artinya perang sulit (al-Sirah al-Nabawiah, V/195). Dinamakan sulit karena pada waktu itu kondisi Madinah musim panas pada puncaknya demikian juga lagi panen kurma. Hanya pribadi-pribadi tangguh yang tetap ikut serta berjuang.  Figur sekaliber Abu Bakar, Umar, Utsman misalnya turut menyumbangkan hartanya dalam perang ini. Bahkan, orang-orang yang tak memiliki kendaraan atau harta (yang dalam sejarah disebut al-bukkaaun) pun antusias berkontribusi dengan kadar yang dimampu.

            Jihad tidak selalu perang, ada banyak variabel lain yang juga masuk kategori jihad, seperti: jihad melawan hawa nafsu, orang fasik, dan setan (Minhaaj al-Muslim, 269).

Dari beberapa peristiwa tersebut, etos hijrah, dakwah, dan jihad perlu digalakkan kembali di bulan Rajab ini. Bukan karena bulan Rajabnya, tetapi nilai sejarah yang terkandung di dalamnya (hijrah, dakwah dan jihad) yang senantiasa relevan sepanjang zaman.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!