Rahasia Dahsyatnya Istighfār

SUATU waktu, seorang tabi`in kenamaan, Hasan al-Bashri(21-110H/ 642-728M), didatangi beberapa orang yang ingin mengadukan permasalahannya. Orang pertama mengadukan kemarau panjang. Orang kedua, mengeluhkan kefakiran. Orang ketiga, meminta tips agar dianugerahi anak. Orang keempat bersambat kebun yang kering.

Uniknya, semua –olehnya- dijawab dengan jawaban yang sama, ‘Bersitighfarlah (mohon ampunlah) pada Allah!’. Mereka pun mempertanyakan jawaban. Akhirnya beliau menjawab, ‘Itu sama sekali bukan perkataanku. Allah sendiri yang berfirman dalam al-Qur`an mengisahkan Nabi Nuh `alaihis salam:

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا ١٠ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا ١١ وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا ١٢

10. maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun 11. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat 12. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”(Qs. Nuh: 10-12)[al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 18/302]. Sungguh dahsyat. Empat permasalahan dijawab dengan satu jawaban, yaitu: istighfar(memohon ampunan Allah).

Senada dengan kisah di atas, suatu saat Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu memimpin shalat istisqō(meminta hujan). Di dalam doanya, tak lebih dari (mengucapkan banyak) istighfār, sehingga menimbulkan pertanyaan dari kalangan rakyat, ‘Kami tak melihat engkau shalat istisqō`.’ Beliau pun menjawab, ‘Aku meminta hujan dengan (melihat) bintang langit (yang menandakan) turunnya hujan. Kemudian ia membaca Surah Nuh: 10-11[yang menunjukkan dengan istighfar, maka Allah akan turunkan hujan lebat dari langit].’ (Hr. Sa`id bin Manshur, Baihaqi).

Mengapa hanya dengan istighfār, mampu menyelesaikan begitu banyak problem kehidupan, apa rahasia yang terkandung di balik kedahsyatan kalimat istighfār? Pada tulisan ini akan diuraikan jawabannya.

Berkaca pada kisah Adam `alaihis salam, karakter manusia memang sangat rentan berbuat salah. Saat diberi aturan agar tak mendekati pohon larangan di surga, akibat godaan iblis akhirnya ia bersama istri melanggar titah. Dari sini lahirlah syari`at memohon ampun, taubat. Perhatikan baik-baik doa Adam berikut:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٢٣

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”(Qs. Al-A`raf: 23). Jadi, kata kunci pertama adalah karena manusia adalah mahluk yang rentan berbuat salah.

Terkait tabiat manusia yang rentan berbuat salah, dijelaskan dengan gamblang oleh nabi shallallahu `alaihi wasallam: “Setiap anak(keturunan) Adam, pasti banyak berbuat salah. Sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah, adalah mereka yang banyak bertaubat.”(Hr. Tirmidzi). Tapi, yang menjadi catatan penting di sini –sesuai dengan kisah Adam-, kesalahan yang dilakukan bukan unsur kesengajaan, tapi kekhilafan. Jadi, tidak benar jika –dengan dalil ini- orang bisa berbuat salah semaunya, dan mempermainkan istighfar dan taubat.

Tidak mengherankan jika salah satu dari al-asmā al-husnā(nama-nama Allah yang sangat indah), ialah: al-Ghōfir, al-Ghofūr, al-Ghoffār, yang semunya intinya menunjukkan bahwa Allah Maha Pengampun. Dengan demikian, sejak awal sudah menjadi ketetapan: jika ada kesalahan atau dosa, pasti ada ampunan. Allahlah Yang Maha Mengampuni. Jadi, kata kunci kedua, istighfār adalah sebuah mekanisme yang sejak awal dibuat Allah ta`ala untuk memproteksi kesalahan-kesalahan yang rentan mendera manusia agar mereka kembali pada jalur yang benar.

Sepanjang dakwahnya, para nabi pun tak pernah jemu-jemu mengingatkan umatnya untuk beristighfar. Sebagai contoh –tanpa bermaksud membatasi- Nabi Nuh `alaihis salam(baca: Nuh, 10), Hud `alaihis salam(baca: Hud, 52), bahkan Muhammad shallallahu `alaihi wasallam mengingatkan umatnya supaya beristighfar.

Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam sendiri dalam kesehariannya sangat rajin ber-istighfar. Dalam suatu riwayat dijelaskan:

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : سَمعتُ رَسُول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يقولُ : (( وَاللهِ إنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِ فِي اليَومِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً )) رواه البخاري.

Bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, ‘Demi Allah, sunngguh aku benar-benar beristighfar dan bertaubat pada Allah dalam sehari sebanya tujuh puluh kali.’”(Hr. Bukhari). Bahkan –menurut riwayat Muslim-, beliau beristighfar dalam sehari sebanyak seratus kali. Dengan demikian, kata kunci ketiga ialah, istighfār merupakan bagian penting yang diperingatkan para nabi kepada pengikutnya.

Melihat kenyataan ini, tidak mungkin manusia terlepas dari istighfār, karena memang rentan berbuat salah. Bahkan, sekiranya tidak ada satu pun manusia yang berbuat salah, pasti Allah yang akan mengembalikannya pada garis semula:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ تَعَالَى بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَومٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ تَعَالَى فَيَغْفِرُ لَهُمْ )) رواه مسلم .

Dan demi yang jiwaku berada di tanganNa, sekiranya kalian tidak berbuat dosa, pasti Allah menghapus kalian, dan mendatangkan kaum yang berdosa lalu beristighfar pada Allah ta`ala, lalu mengampuni mereka.”(Hr. Muslim). Kata kunci keempat, istighfār adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dipungkiri.

Istighfār sendiri –bila ditinjau berdasarkan kaca mata al-Qur`an dan as-Sunnah-, mengandung banyak keutamaan, di antaranya: Pertama, dianugerahi hujan lebat dari langit. Kedua, diberi tambahan kekuatan. Ketiga, dilimpahkan harta dan anak. Keempat, dikaruniakan kebun. Kelima, dianugerahi sungai(baca: Hud, 52 dan Nuh, 10-12).

Abu Daud meriwayatkan keutamaannya:

(( مَنْ لَزِمَ الاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجاً وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجاً وَرَزَقهُ مِنْ حَيثُ لاَ يَحْتَسِبُ )) . رواه أبو داود

Sabda nabi: “Barangsiapa yang rajin(menetapi) istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari tiap kesempitan. Menjadikan kelapangan bagi setiap kegundahan, dan memberikan rizki dari jalur yang tak disangka-sangka.” Meskipun riwayat ini lemah –karena ada rawi yang bernama Hakam bin Mush`ab al-Qurasyi-, namun secara makna, bersesuaian dengan ayat al-Qur`an yang telah disebutkan tadi. Jadi, kata kunci kelima, istighfār mengandung banyak keutamaan yang bisa menyelesaikan problematika kehidupan.

Kesimpulannya, rahasia di balik istighfār ada lima: Pertama, karena manusia rentan berbuat salah. Kedua, lalu Allah sebagai Maha Pengampun membuat mekanisme istighfār sebagai proteksi bagi kesalahan manusia. Ketiga, para nabi pun sangat rajin mengingatkan pengikutnya di sepanjang zaman. Keempat, istighfar adalah keniscayaan dari Allah. Kelima, mengandung banyak keutamaan bagi problematika kehidupan. Mahmud Budi Setiawan (Penulis AQL Pustaka)

Sebarkan Kebaikan!