Rahasia agar Doa Kita Dikabulkan Allah SWT

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. Al-A’raf: 180)

Asmaul husna hanya untuk Allah SWT dan kita diseruh untuk berdoa dengan nama-Nya. Banyak keterangan dari hadis yang menyebutkan bahwa berdoa dengan nama Allah itu dijamin terkabulnya doa dan diberi apa yang kita minta dalam doa. Salah satu riwayat yang menjelaskan dari hal tersebut adalah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, dan Imam Nasai;

Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkannya, dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi permintaannya(HR. Ahmad 12946, Abu Daud 1497, Nasai 1308, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Akan tetapi, penyelewengan terhadap asma Allah dalam menafsirkannya selalu ada, sehingga dalam ayat di atas diberikan peringatan untuk meninggalkan orang yang menyelewengkan asma-Nya. Misalnya, al-Laata wa Uzzah diselewengkan dari kata al-Ilah wal Aziz termasuk juga pengucapan astaga yang seringkali menggantikan Astagfirullah. Tidak hanya penyelewengan dalam bentuk pergantian lafazh tapi seringkali lafaznya benar tapi dialeknya yang sengaja diselewengkan. Orang yang sengaja menyelewengkan asma Allah kelak akan merasakan akibat dari perbuatannya itu.

Penjelasan tentang asmaul husna juga terdapat dalam surat al-Isra’ ayat 110 dan angjuran untuk berdoa dengan asma-Nya.

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا* وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu. Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra’ :110-111)

Rasulullah SAW dalam membimbing umatnya tidak sekedar menyeruh saja, namun lansung mempraktekkan agar ajaran itu meresap dan umatnya juga tidak keberatan dalam menjalankan sunnah itu. Salah satu contoh aplikatif dari cara beliau berdakwah adalah beliau mengajarkan umat untuk berdoa dengan asma Allah. Seperti yang diriwayatlkan oleh Abdullah ibnu Mas’ud RA tentang doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika mendapatkan masalah dalam hidup.

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya I/391)

Orang yang paling jelek dalam berdoa adalah orang yang mencurhatkan keterlambatan Tuhan dalam mengijabah doa hamba dan berdoa dengan nada tidak menerima takdir. Hikmah dari berdoa dengan nama Allah itu adalah mengakui bahwa kita hanya seorang hamba yang tinduk pada hukum Allah dan percaya terhadap keadilan-Nya. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW dalam berdoa agar mulus permintaannya kepada Allah, beliau mengatakan memohon dengan perantaraan dengan semua nama yang Dia miliki yang Dia namakan untuk diri-Nya sendiri. Berdoalah kepada Allah dengan nama yang dia namakan sendiri untuk diri-Nya dan jangan membuat nama sendiri, seperti ya Ma’ruf, Allah tidak pernah menamai dirinya dengan lafazh ma’ruf.

Berkaitan dengan mengenal Allah seindah nama-Nya, sahabat meresapi pesan Rasul dengan resapan penuh iman. Abdullah ibnu Mas’ud contohnya, dia menghafal lima ayat dalam surah an-Nisa lalu berkata, “aku merasakan kebahagiaan di lima ayat surah an-Nisa dan ulama-ulama tidak pernah merasakan nikmat itu kecuali aku”. Asma Allah yang ada dalam lima ayat itu berkaitan dengan tawwabar rahima dan gafuran rahima. Allah sebagai maha penerima taubat dan maha pengampun yang menjadikan Abdullah ibnu Mas’ud merasakan kebahagiaan yang dahsyat dan kepuasan pintu gerbang dari berbagai persoalan.

Ali bin Abi Thalib lain lagi, “saya heran dengan orang yang berputus asa, frustasi dan bunuh diri padahal keselamatan selalu ada pada dirinya”. Sahabat bertanya kepada Ali, “apa itu wahai Ali?”. Dia menjawab, “Astagfirullah”. Ada orang-orang tertentu yang diberi ilham oleh Allah bahw satu nama bagi dia luar biasa efeknya terhadap diri orang itu.

Kemudian, persoalan jumlah asmaul husna seringkali menjadi perdebatan bagi banyak orang, ada yang mengatakan asmaul husna itu hanya ada 99. Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Syifa’ Al-‘Alil, bahwa jumhur ulama berpendapat hadits “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama …” tidak menunjukkan bahwa itulah batasan jumlah nama Allah, sebagaimana bila seseorang berkata, “Si Fulan punya 100 budak yang membantunya berdagang dan dia juga punya 100 budak yang membantunya berjihad.” Adapun Ibnu Hazm berpendapat bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa nama Allah hanya terbatas 99. (Dinukil dari Al-Mujalla, 9:1)

Nabi SAW bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى تِسْعَةً وَ تِسْعِيْنَ اِسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحَدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama – seratus kurang satu; barang siapa yang menghitungnya (ahsha’), akan masuk surga.” (Hadits shahih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; lihat: Shahih wa Dhaif al-Jami’ Ash-Shaghir)

Akan tetapi, seperti yang digambarkan oleh ibnu Qayyim bahwa jumlah 99 itu bukan batasan. Menurut pendapat jumhur ulama, asmaul husna berjumlah tidak terbatas.

“Tidak ada satu pun orang yang tahu berapa pastinya jumlah asmaul husna. Dalilnya adalah doa Nabi SAW, ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang menjadi milik-Mu, baik yang Engkau sendiri yang menyebut diri-Mu dengannya – yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, yang engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau yang Engkau simpan sebagai hal gaib yang hanya Engkau yang tahu.’

Dengan demikian, Allah SWT memiliki nama yang sangat banyak. Beberapa di antaranya adalah yang Allah sebutkan dalam Al-Quran. Ada pula yang Allah ajarkan kepada Rasul-Nya dan itu tidak termaktub dalam Kitab-Nya.

Adapun hadits yang berbunyi, ‘Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama; barang siapa yang menghitungnya akan masuk surga,’ maka hadits ini bukanlah menjadi pembatasan (bahwa nama Allah hanya 99). Akan tetapi yang benar, 99 nama tersebut menunjukkan bahwa orang yang menghitungnya akan masuk surga. Jadi, bukan berarti total nama Allah hanya sembilan puluh sembilan dan tidak ada lagi selain itu.

Kalimat semacam ini biasa diungkapkan dalam keseharian. Misalnya kita berkata, ‘Saya punya 100 dirham. Saya bersedekah sejumlah itu.’ Kalimat ini tidak menutup kemungkinan bahwa kita ternyata punya dirham yang lain yang tidak kita sedekahkan.

Imam An-Nawawi menguraikan dalam Syarh Shahih Muslim, “Ulama telah bersepakat bahwa hadits ini bukan menunjukkan nama Allah itu terbatas jumlahnya. Bukan pula bahwa Allah tidak punya nama lain selain sembilan puluh sembilan nama itu. Hadits tersebut hanya menunjukkan bahwa orang yang menghitung (ahsha’) 99 nama tersebut akan masuk surga. Maksudnya hanya untuk memberitakan bahwa orang bisa masuk surga bila menghitung sembilan puluh sembilan nama tersebut, bukan untuk memberitakan bahwa nama Allah terbatas (sembilan puluh sembilan saja).” (Al-Mujalla Syarh Qawaidul Mutsla, 9:3)

Sebagai penutup, tidak perlu larut dalam memperdebatkan jumlah asmaul husna tapi yang harus dicapai adalah, bagaimana kebahagiaan Ibnu Mas’ud ketika meresapi asma Allah dan bagaimana Ali bin Abi Thalib mampu bahagia di atas masalahnya hanya lewat istgfar.

Siapa yang mengenal Allah maka pelajarilah asmaul husna karena itu merupakan jembatan untuk bisa mengenal pemiliknya. (Dinukil Dari Tausiyah UBN)

*Gubahan M

Sebarkan Kebaikan!