Puasa Sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan

JAKARTA (AQLNEWS) – BERTEMPAT di Masjid Ar-Rahman AQL Islamic Center Tebet, Ustadz. Asep Shabari LC menyampaikan tausiyah yang cukup menarik. Topik yang diambil pada tarawih kelima bulan Ramadhan kali ini adalah “Puasa Sebagai Jalan Kebahagiaan”. Dalam pembukaannya beliau menyatakan, “Ramadhan bagaikan musim semi bagi orang beriman.”
            Setiap orang pasti menghendaki kebahagiaan. Akhir terminal kebahagiaan bagi seorang muslim  adalah kebahagiaan di sisi Allah. Kebahagiaan yang diharapkan ditandai kelayakan masuk surganya Allah. Momentum Ramadhan adalah merupakan “paket” yang disediakan Allah untuk menggapai kebahagiaan.

Tidak mengherankan jika tujuan akhir syariat puasa adalah takwa (QS. Al-Baqarah [2]: 183). Takwa intinya satu titik yang memastikan kebahagiaan. Karena definisi takwa ialah menjadikan benteng antara antara diri manusia dan azab Allah. Jadi puasa adalah sarana yang paling efektif untuk membangun benteng takwa. Demikian juga semua paket puasa di bulan Ramadhan adalah mengarah ke situ.

Selain itu, puasa –sebagaimana pendapat Ibnu Qayyim yang sering menggunakan analogi menarik dalam analisis kejiwaan manusia- sebagai imunitas (daya tahan yang bagus) manusia. Dengan berpuasa jiwa dan raga bisa dibangun dengan seimbang. Ironisnya, dii luar bulan Ramadhan manusia cendrung meng-anaktiri-kan rohani dibanding jasmani. Mereka baru peduli rohani –secara umum- jika masuk Ramadhan. Maka ketika manusia ingin bahagia kemudian dibatasi hanya dalam soal materi, maka ini berbahaya.

Malaikat dan iblis disuruh sujud ke Adam ketika jasad dan ruh Adam menyatu (QS. Al-Hijr [15]: 29) dan dianugerahi ilmu oleh Allah SWT (QS. Al-Baqarah [2]: 31). Kesalahan Adam dahulu ketika berada di surga ialah karena menuruti iblis bahwa kebahagian itu adalah materi dengan memakan pohon kekelan dan kekuasan yang tak akan sirna (QS. Thaha [20]: 120). Di sini terjadi ketidak seimbangan antara jasmani dan rohani. Karena itu, doa Adam adalah :

{رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [الأعراف: 23]

(QS. Al-A’raf [7]: 23).

            Puasa beserta paketnya adalah latihan menjaga jarak dari berbagai materi agar terhindar dari ketidak seimbangan yang dominan di luar Ramadhan. Untuk menjaga keseimbangan ini kita butuh ilmu. Yaitu dengan mendekatkan diri dengan al-Qur’an (sebagai sumber ilmu).

Kenapa di perang Badar Kubra orang-orang kafir Qurays  bisa digilas umat Islam? Karena mereka tidak paham tidak mendasari gerakannya dengan ilmu (QS. Al-Anfal [8]: 65). Karena itulah, kita butuh ilmu, terlebih di akhir zaman. Suatu saat  Ibnu Mas’ud pada orang zamannya:

إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ: كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيلٌ سُؤَّالُهُ، كَثِيرٌ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيهِ قَائِدٌ لِلْهَوَى. وَسَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ: قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ، الْهَوَى فِيهِ قَائِدٌ لِلْعَمَلِ، اعْلَمُوا أَنَّ حُسْنَ الْهَدْيِ – فِي آخِرِ الزَّمَانِ- خيرٌ مِنْ بعض العمل

“Sesungguhnya kalian berada pada zaman yang banya fuqaha (ulama) nya dan sedikit oratornya. Minim pengemisnya dan banya pendermanya. Amal menjadi panglima atas hawa nafsu pada masa ini. Kelak akan datang masa sesudah kalian di mana sedikit ulamanya dan banyak oratornya. Di samping itu, banyak peminta-minta, dan sedikit penderma. Yang menjadi panglima saat itu adalah hawa nafsu atas amal. Ketahuilah di akhir zaman, petunjuk (ilmu) yang baik  –di akhir zaman- lebih baik daripada sebagian amal.” (HR. Bukhari dalam Adabu al-Mufrad).

Apa yang diprediksikan Ibnu Mas’ud sekarang benar-benar terjadi. Pada masa ini, ulama kian sedikit. Yang banyak adalah orator-orator agama, walau ilmunya sedikit. Maka sekali lagi, kebutuhan kita terhadap ilmu di akhir zaman sangatlah mendesak dan urgen untuk menggapai kebagaiaan hakiki.

Terakhir, kata beliau, “Untuk menggapai kebahagiaan hakiki –sebagaimana pembahasan tadi- maka manusia harus menyeimbangkan unsur jasmani dan rohani kemudian dilandasi dengan ilmu.” Dengan demikian, insyaallah kita bisa sukses. Wallahu a’lam.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!