Puasa Digital

“Mblung kamu lagi puasa?” tanya Paimo kepada Sirojan Muniron yang dipanggil Gemblung. “Iya dong. Alhamdulillah tadi bisa sahur dan sampai saat ini masih belum pernah bolong-bolong.” “Ah, menurutku kamu belum puasa.” Celetuk Paimo. “Lho, kok bisa kamu bilang begitu, emang kamu Tuhan? Aku kan sudah menjalankan syariat-syariatnya, kok dibilang belum puasa,” balas Gemblung tidak terima.

“Gimana bisa dibilang puasa, wong sejak tadi aku perhatikan kamu asyik dengan gadget, berselancar di dunia maya, menaburkan status-status yang sebenarnya tidak begitu penting, bahkan terkadang tanpa sadar ngegosipin atau nggibahin orang lain. Kalau itu yang dinamakan puasa, kok menurutku masih kurang pas.”

Melihat dua sahabat sedang asyik berdialog, Paiman ingin urun rembuk dengan mereka berdua. “Mblung, Mo, sebelum berdebat panjang, harus diselesaikan dulu konsep puasa menurut kalian. Sebab, jika masing-masing belum mengetahui hakikat puasa, sama saja dengan debat kusir. Setahuku, dalam al-Qur`an terkait puasa ada dua idiom yang disebut, yaitu: shaum dan shiyâm.

“Emang maksudnya apa Man?” Gemblung dan Paimo serempak bertanya. “Kata shiyâm (QS. Al-Baqarah [2]: 183) yang diwajibkan itu kan mengandung syariat tersendiri di mana hanya diwajibkan kepada orang-orang beriman. Syariatnya, sebagaimana petunjuk Qur`an dan Hadits, menahan diri dari makan, minum dan berhubungan intim dengan suami istri serta segala hal yang bisa membatakkannya. Itu sudah sah puasanya.”

“Adapun shaum merujuk kepada Surah Maryam [19] ayat dua puluh tujuh. Maksudnya, maryam menahan diri dari berbicara. Jadi, mengontrol lidah agar tidak ngomong sesuatu yang tak bermanfaat juga dinamakan puasa dalam level shaum. Secara sederhana, seolah yang dinamakan shiyâm adalah yang berkaitan dengan masalah menahan syahwat perut dan di bawah perut. Sedangkan shaum mengendalikan diri dari yang ada di dada dan di atasnya.”

“Jadi shiyâm dan shaum harus disatupadukan ya Man?” tanya Gemblung. “Ya jelas toh. Bukankah kamu pernah mendengar hadits nabi: ‘Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak mempunyai sebuah keperluan pun untuk meninggalkan makan dan minumnya.’” (HR. Bukhari). Ada juga hadits lain: ‘Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.’ (HR. Thabrani). Artinya, menahan syahwat perut dan di bawah perut saja tidak cukup, perlu pengendalian-pengendalian lain agar puasa menjadi sempurna.”

“Benar apa yang dirasakan Paimo. Orang yang secara wadag ngaku  berpuasa tapi sibuk dengan dunia digital, gadget dan konco-konco (teman-teman)-nya, sehingga kehilangan kontrol untuk tidak menggosipi orang lain, dan nge-share berita yang tidak jelas alias hoaks, maka belum dikatakan sempurna. Seharusnya dia juga harus puasa digital. Menjaga dan mengendalikan diri dari status-status dan berbagi berita yang bisa merusak puasa.”

Di antara hal yang menunjukkan bagusnya kualitas keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).

“Aku pernah dengar Sarikhuluk berkata soal ini,” lanjut Paiman, “Yang namanya shiyâm harus beriring shaum. Bila tidak, puasa hanya akan kehilangan ruh dan subtansi. Banyak orang ngaku berpuasa secara jasmani, tapi masyaallah status-statusnya di FB, Twitter, dan aktivitas di gadget lainnya mencerminkan orang yang berbuka alias tidak puasa. Bukankan Kanjeng Nabi pernah dawuh (bersabda) : “Di antara hal yang menunjukkan bagusnya kualitas keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).

“Jadi, Mblung dan Mo, menurut pandanganku, orang yang ngaku berpuasa, tapi tidak bisa mengontrol syahwat digitalnya (baik berupa nulis, ngeshare, ngomong, nonton dll), maka puasa belum sempurna, bahkan bisa membuat gagal. Makanya, puasa digital juga perlu.” Dialog yang sepontan di Pendopo Al-Ikhlas itu segera disudahi ketika ada tamu yang lagi mencari Sarikhuluk.

Sebarkan Kebaikan!