Polisi Pertaruhkan Kredibilitas dalam Kasus Teror Mobil

JAKARTA (AQLNEWS) – Kredibilitas pihak kepolisian akan diuji dalam kasus teror mobil di lokasi Tablig Akbar dan peringatan Isra’ Mi’raj di Cawang, Jakarta Timur Sabtu (15/4) malam. Aksi teror kepada umat Islam tidak lagi menggunakan botol atau bom molotov melainkan dengan cara-cara membakar mobil di area tabligh akbar.

Pembakaran mobil yang diduga dilakukan secara sengaja itu ditujukan untuk meneror jamaah yang ikut pengajian dan juga kepada Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab. Saat kejadian, Laskar FPI menemukan delapan jeriken besar berisi bensin di dalam dua mobil yang berada di dekat mobil yang terbakar lalu meledak, yakni di mobil Kijang Kapsul bernopol B 7208 EQ dan mobil Kijang Grand bernopol B 1552 AH. Pihak FPI mengindikasikan kejadian itu disetting dan ingin mencelakai umat Islam yang hadir.

“Kita minta keadilan kepada kepolisian untuk menuntaskan dan melakukan investigasi kepada orang-orang yang sudah jelas (melakukan teror),” ungkap Koordinator Tim Advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Kapitra Ampera pada saat jumpa pers di Masjid Al-Ittihad, Tebet, Jakarta, Minggu (16/4/17).

Kapitra mengatakan, umat Islam harus berprasangka baik bahwa polisi akan bekerja cepat menuntaskan kasus tersebut. “Kalau tidak ini celah untuk kepolisian karena informasinya sudah sampai. Kita akan lihat kredibilitasnya minimal setelah pilkada ini harus segera (ditahu pelakunya),” ungkap pria yang bergelar doktor ini.

Bagaimana mungkin aksi itu tidak disebut sebagai teror kalau sebuah mobil jelas-jelas dibakar dan terguling ke arah jamaah yang tengah mengikuti tabligh akbar? Kapitra berasumsi bahwa kejadian itu tidak lepas dari panasnya situasi politik menjelang Pemilihan Gubernur DKI putaran kedua, Rabu, 19 April 2017.

“Gubernur itu bukan anugrah tapi tanggung jawab bagaimana melayani rakyat bukan malah meneror rakyat. Gubernur itu bukan sesuatu yang menjadi primadona sehingga semua kehidupan terfokus kepadanya. Gubernur itu adalah pekerjaan berat karena semua perbuatan itu akan dimintai pertanggung jawaban. Untuk itu tidak diperlukan cara-cara yang ilegal dan tidak bermartabat untuk mendapatkannya,” kata advokat yang dekat dengan masjid ini.

Menurut dia, ada kesengajaan yang sistematis untuk mencelakai jamaah tablig akbar yang dihadiri Habib Rizieq itu. “Ada empat mobil, tiga mobil sebagai instrument kejahatan dan satu mobil dipakai untuk evakuasi. Polisi bisa saja mengatakan ini bukan teror namun itu adalah presepsi. Realitanya berbeda. Teror itu sesuatu yang menimbulkan ketakutan kepada orang lain,” tegasnya.

Karenanya, tim advokasi GNPF siap mengawal proses hukum atas kasus tersebut sembari memantau semua proses politik menjelang Pilkada DKI. Kepastian hukum diperlukan dari pihak kepolisian agar umat Islam tidak resah dan bingung terhadap apa yang sebenarnya terjadi. “Umat juga diminta tetap waspada dan menjaga kedamaian dan tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum,” katanya.

Pihak FPI juga menyerukan kepada umat Islam agar tetap tenang, tidak terprovokasi, dan menyerahkan kasus tersebut kepada aparat yang berwenang. Dia mengimbau agar umat Islam tidak mengambil tindakan sendiri. Kini, semua pihak akan menunggu hasil kerja pihak kepolisian.

“Kami mendesak Polri dan TNI untuk segera mengusut tuntas peristiwa tersebut dengan memburu para teroris, pelakunya, dan mengejar aktor intelektualnya serta membongkar semua jaringannya berikut penyandang dananya,” kata Habib Muchsin bin Zeid al-Attas.

Habib Muchsin sempat menyebutkan ciri-ciri pelaku teror tetapi ia menegaskan agar menolak menuduh sebelum semuanya jelas. “Kita serahkan kepada yang berwajib dan berwenang,” katanya.

Sekjen Dewan Syuro DPD FPI DKI Jakarta Habib Novel Bamukmin menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Menurut dia, teror tersebut terjadi pada Ahad dini hari sekitar pukul 01.30 WIB setelah Habib Rizieq selesai berceramah. “Usai Habib ceramah, ada teror mobil yang diduga dibakar dengan bensin, lalu terjadi ledakan kecil usai Tabligh Akbar,” ujarnya. *

Reporter : muhajir

Editor : azh pawennay

Sebarkan Kebaikan!