Pilih Ikut Musa AS atau Fir’aun?

JAKARTA (AQLNEWS)- Umat Islam sejak dilahirkan memang selalu dihadapkan dengan pilihan. Antara kebaikan dan keburukan, keimanan dan kekafiran, surga atau neraka, serta ikut Malaikat atau setan. Jika memilih jalan surga, maka tantangannya tentu tidak ringan. Dalam sebuah acara Tabligh Akbar, Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir memulainya dengan terlebih dulu bertanya kepada hadirin. “Seandaianya kita hidup di zaman Musa AS, apakah kita ikut Nabi Musa atau ikut Fir’aun?”

Dengan analogi janji-janji politik yang dihadapkan dengan umat Islam, dia melanjutkan, “tapi yang membuat kartu Mesir ini dan itu adalah Fir’aun, yang membuat jalanan bagus di Mesir juga Fir’aun. Yang juga selalu merasa benar dan menyalahkan orang lain adalah Fir’aun. Merasa bersih bahkan merasa jadi tuhan.”

Dalam kondisi demikian, jika umat Islam tidak berpegang pada al-Qur’an, maka mereka pasti akan terjebak dengan pilihan dan iming-iming sehingga terjerumus dalam kebatilan. Itulah yang menjebak Bani Israel waktu itu karena hanya menggunakan logikanya dalam bertindak maka mereka akan tersesat dalam perbudakan harta benda, kekuasaan, dan dunia.

Tabligh Akbar bertema “Dengan Spirit 212, Mari Jadikan Momentum untuk Kembali kepada al-Qur’an di gelar di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (8/4/17). Hadir Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dan Pembina Majelis Ta’lim Alamadad Habib Soleh bin Muhsin Alhabsyi.

Dalam buku Masuk Surga Sekeluarga karya KH Bachtiar Nasir, dalam kepemimpinan Islam tidak dibenarkan umat Islam memilih pemimpin kafir. Pemimpin kafir sudah jelas tidak bisa mendatangkan keberkahan dari langit dan di bumi.

Misalnya di Jakarta, pemimpin yang dianggap mendatangkan manfaat adalah pemimpin yang berjanji mampu mengatasi banjir dan kemacetan serta menjanjikan lapangan pekerjaan seluas- luasnya. Padahal, banjir maksiat dan banjir miras (minuman keras) jauh lebih berbahaya. Kemacetan aqidah pun lebih berbahaya lagi.

Dalam konteks memilih pemimpin, menurut KH Bachtiar Nasir, tidak ada kaitannya dengan etnis tertentu melainkan berdasarkan ideologi. Bagi muslim adalah pemimpin muslim. Karenanya, dia mengimbau masyarakat agar tidak gampang membenci etnis atau bangsa tertentu dan selalu menjaga ahlakul karimah untuk membuktikan bahwa Islam itu Rahmatan lil ‘Alamin. “Jika ada orang yang membenci dan memfitnah sebuah suku, maka mampukah kita meminta maaf ke seluruh warga suku yang difitnah itu, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati? Kalau dimaafkan bagus, tapi kalau tidak, maka akan diminta bertanggung jawab sampai di akhirat” ungkapnya.

Dia juga mengingatkan bahaya fitnah yang marak di Pilkada DKI. Padahal fitnah itu lebih dahsyat dosanya daripa membunuh. “Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (Al-Baqarah 191)

Diayat lain juga disebutkan “Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” (Al-Baqarah 217).

“Tidak usah fitnah orang lain dan tidak usah serang orang lain. Ini adalah ahlak umat Islam. Yang kita benci perbuatannya, bukan orangnya,” tuturnya dalam tausiyah itu.

Menurut dia, Indonesia dengan beragam budaya dan etnis tak jarang menimbulkan ketegangan antarsuku bahkan antaragama. Terkadang tidak sadar sampai menyebarkan berita hoaks dan fitnah melaui perbincangan hangat dan bahkan banyak orang yang tidak sadar padahal ia sedang melakukan dosa besar, yaitu menyebarkan fitnah di medsos. “Jangan sampai kebencian kita kepada seseorang membuat kita buta sehingga memfitnahnya dan menyebarkan fitnah. Lihat berita hoaks dan fitnah dan hoaks lansung di-share tanpa takut firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 191 dan 217,” katanya.

Kemenangan akan datang jika ditolong oleh Allah SWT. Iza aa-a nashrullahi wal gath (QS an-Nashr: 1). Dan kemenangan itu tergantung Allah, banyak orang yang menjabat tapi tidak berkuasa. Karena hakikat kemenangan itu hanya diberikan kepada orang-orang yang Allah ridhai. Koruptor secara materi mereka high class tapi level itu tidak bisa membawanya pada kebahagiaan. Karena kebahagiaan hakiki hanya buat mereka yang hatinya dekat dengan Allah swt.

Hanya para pecundang yang menggunakan fitnah sebagai motor komunikasinya. Tugas utama kita menyampaikan, sementara hidayah adalah milik Allah. “Maka tidak usah memfitnah etnis, agama, dan suku lain jika mereka tidak sejalan dengan kita,” katanya. *

reporter : muhajir

editor : azh pawennay

 

Sebarkan Kebaikan!