Pesan KH Bachtiar Nasir Menjelang Sidang Putusan Kasus Penodaan Agama

MEDAN (AQLNEWS) – Selasa, 9 Mei 2017, adalah hari dijatuhkannya vonis terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama dalam sidang Kasus Penodaan Agama. Majelis hakim diharapkan menjatuhkan hukuman seadil-adilnya dan berdasarkan pada fakta persidangan tanpa intervensi dari pihak siapa pun.

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) KH Bachtiar Nasir berpesan agar umat Islam tetap tenang disertai zikir dan tawakkal kepada Allah SWT.

“Tujuan aksi simpatik itu adalah bermunajat kepada Allah SWT. Disinilah persimpangan penting tauhid umat Islam bahwa perjuangan jika tidak dibarengi dengan tawakkal di awal, tawakkal di tengah, dan tawakkal di akhir, maka perjuangan itu akan sia-sia. Orang-orang yang tidak bertawakkal dalam perjuangannya pasti akan putus asa. Marah itu mudah tapi melawan itu susah. Maka teruslah berzikir dan bertawakkal maka Insya Allah tanggal 9 umat Islam bersyukur,” ungkap Pimpinan AQL Islamic Center di Masjid Taqwa Lubuk Pakam Jl.Dipenogoro, Medan, Sumatera Utara, Ahad (7/517).

Tablig akbar yang diadakan oleh Gerakan Anti Penodaan Agama Islam (GAPAI) Sumut itu dipadati jamaah yang sangat antusias mendengar tausiah KH Bachtiar Nasir.

Melihat psikologi umat yang marah terhadap sistem hukum di Indonesia, KH Bachtiar Nasir meminta, jangan hanya menjadi orang yang marah tetapi harus melawan. Tentu melawan dengan cara-cara yang cerdas dan konstitusional. “Apa bedanya orang marah dan melawan?” Tanya beliau kepada jamaah

Menurutnya melawan itu adalah mempersiapkan strategi jitu untuk menghadapi lawan dan agar tidak menjadi korban-korban yang memang menginginkan agar anak bangsa perang saudara.
“Kalau marah belum tentu melawan dan melawan sudah otomatis sedang marah. Banyak orang yang marah tapi tidak berani melawan. Melawan itu berarti mengetahui kekuatan kita dan kekuatan lawan. Melawan itu berarti membangun infrastruktur perlawanan secara benar dan melawan itu berarti menyiapkan segenap amunisi dan strategi kekuatan untuk mengalahkan lawan. Maka kita butuh yang panjang agar perlawanan itu lebih efektif dan berhasil sesuai yang direncanakan,” tegasnya.

Salah satu bentuk perlawanan yang efektif itu adalah dengan memperkokoh barisan umat Islam agar tercipta barisan yang kuat sehingga tidak mudah terprovokasi. “Untuk itu, jangan hanya menjadi sekumpulan orang tapi buatlah barisan. Jika dalam shalat kita bisa bisa berbaris rapi maka laksanakan itu di luar. Jangan hanya menjadi sekerumunan orang tapi kokohkan barisan. Inilah sebetulnya esensi kita sama-sama dalam berukhuwah” jelasnya.

Dia melanjutkan, umat Islam bukan sekadar kerumunan oranh tapi sudah menjadi barisan yang mempunyai kekuatan dan diperhitungkan.

“Maka harapan saya adalah, selalu berbaik sangka kepada Allah SWT. Apapun perjuangan kita jika tidak berbaik sangka kepada Allah, maka kita tidak akan mendapatkan pertolongan Allah SWT. Kedua, dalam perjuangan menegakkan Islam teruslah berzikir kepada Allah SWT,” imbuhnya.

Tentu, dia berharap majelis hakim memberikan hukuman setimpal kepada terdakwa. Salah satu dasarnya adalah surat edaran Mahkamah Agung tahun 1994 bahwa, penoda agama harus dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya. Namun, sebagai anak bangsa yang taat hukum, beradab, dan berjuang secara konstitusional, umat Islam harus tertib dan damai.

“Saya yakin Allah pasti turunkan keadilan-Nya untuk Indonesia. Karena Allah-lah yang telah memilihkan al-Maidah 51 untuk Indonesia dan Dia pasti menangkan agama-Nya. Maka sekarang ini kita serahkan proses peradilan dan tidak usah diintervensi. Kalau sampai ada kedzaliman, Allah pasti akan turunkan keadilan-Nya dan pasti Dia akan menyiksa orang-orang yang dzalim dan pasti Allah akan bangkitkan tentara-Nya untuk melawan kedzaliman. Bertawakkallah kepada Allah karena keputusan Allah pasti baik,” tegasnya. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!