Perniagaan Terbaik: Baca Qur’an, Shalat, dan Infak (2)

ORANG yang paling sibuk di dunia ini adalah orang yang tidak sempat membaca Al-Qur’an. Ia disibukkan dengan dunia dan karirnya karena lupa Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an bukan dengan mencari waktu-waktu luang apalagi di sisa-sisa waktu. Membaca Al-Qur’an adalah dengan meluangkan waktu di setiap kesempatan. Saat diam dalam perjalanan, menunggu antrean, terjebak macet, dan dalam berbagai kesempatan lain, keluarkan mushaf atau Qur’an digital. Lebih baik lagi ada target-target tertentu agar bisa istiqamah bersama Al-Qur’an.

Pernah suatu waktu, saat Pak Kapitra mendampingi kliennya di-BAP (berita acara pemeriksaan) oleh penyidik kepolisian, sejak pemeriksaan sampai selesai, dia hanya membaca Al-Qur’an di samping kliennya. “Jadi semakin lama dia (kliennya) diperiksa, semakin banyak yang saya baca,” katanya.

Kedua, menjadikan masjid sebagai rumah Allah, tempat sebaik-baiknya menjumpai Allah, dan berlama-lama untuk berbagai ibadah. Khususnya untuk shalat-shalat sunnat dab wajib, mengaji, dan iktikaf. Bagi Pak Kapitra, masjid adalah rumah tujuan, kemana pun ia pergi. Setengah jam sebelum azan adalah waktu yang baik berada di masjid. Karenanya, dalam sebuah rapat ia pernah marah karena dicegat saat akan ke masjid setengah jam sebelum azan. “Ini karena kebiasaan yang buruk, kenapa harus menunggu azan baru mau ke masjid?” katanya.

Saat akan bepergian, Pak Kapitra tak pernah luput menanyakan di mana masjid terdekat. Jika acara digelar setelah shalat lima waktu, maka masjid adalah tujuan pertamanya. Bahkan, kata dia, dirinya saat ini sudah sakau dengan masjid. Shalat di mushala bukan lagi tempat bagi dia dalam mendirikan shalat lima waktu. “Karenanya saya tidak pernah ke mal lagi kecuali ada rapat di mal itu,” kenangnya.

Dalam berbagai urusan duniawi, Pak Kapitra tidak pernah takut meninggalkannya saat azan berkumandang. Ada keberkahan yang didapatkan dari masjid sehingga semua urusan dimudahkan. Bahkan, ia pernah mendapat fee ratusan juta karena diminta memediasi sebuah konflik besar. Karena masuk waktu shalat, ia tinggal kedua pihak yang berkonflik dan meminta keduanya  berbicara dengan baik. Jika sampai selesai shalat masalahnya belum selesai, ia berjanji membatu semaksimal mungkin. “Sepulang dari masjid, masalahnya sudah selesai dan saya dikasi fee, padahal saya belum menengahi,” katanya.

Jika dalam membaca Al-Qur’an ia punya target, dalam shalat pun demikian. Jika jumlah rakaatnya mau disebut, mungkin Anda terperangah. Intinya, silakan menghitung sendiri berapa rakaat shalat wajib, berikut shalat-shalat sunnah yang dianjurkan. Mulai dari shalat sunnah tahiyatul masjid, dhuha, rawatib, wudhu, tahajud, syuruk, dan lainnya. Anda akan menemukan angka yang luar biasa.

Bayangkan jika semua shalat sunnat itu dikerjakan di masjid kecuali shalat tahajud. Terlebih lagi jika shalat tahajud pun dilaksanakan di masjid. Masya Allah. Bukankah semua ini jalan menuju surga yang dijanjikan? Yang pasti, mendirikan shalat itu adalah satu di antara pernigaan kepada Allah yang tidak pernah merugi. “Aduh, saya nggak tahu. Semoga saja shalat saya diterima Allah dan setelah itu saya siap mati,” kata pria yang memimpikan hidupnya menjadi marbot masjid ini.

Masjid adalah tempat mulia. Memuliakannya tak cukup dengan kata dan cara memandangnya. Tapi memuliakan masjid adalah menghanyutkan kehidupan ini ke dalamnya. Masjid tak cukup hanya dikunjungi saat shalat wajib tapi mendiaminya berjam-jam adalah cara memuliakannya. Masjid adalah sumber kehidupan. Ia memancarkan cahaya kehidupan dan sinarnya menyirnakan kesilauan dunia. Sinarnya akan menerangi bumi ini jika umat Islam menjadikannya sebagai kekuatan untuk bangkit, pusat peradaban, dan istana tidak ada apa-apanya di banding ruang kecil marbot, sebuah ruangan para pecinta masjid. Wallahu a’lam. (bersambung/ Penulis adalah ketua media AQL Islamic Center)

Sebarkan Kebaikan!