Perniagaan Terbaik: Baca Qur’an, Shalat, dan Infak (1)

Azhar Azis

SUATU malam di Jonggol, selepas shalat Isya di ruang Kepala Sekolah AQL Islamic School (AQLIS). Duduk di antara kami KH Bachtiar Nasir, pimpinan AQL Islamic Center yang juga pengasuh pondok pesantren AQLIS Jonggol. Di sisi kanannya adalah penasihat hukumnya, Kapitra Ampera, dan dua rekan Pak Kapitra sesama pecinta masjid. “Yang satu ini adalah sopir Grab, dan di sampingnya Gojek,” kata Pak Kapitra memperkenalkan keduanya.

Duduk di sisi kiri Kiyai adalah para asatidz, pengurus yayasan, dan dewan syariah AQL Islamic Center. Saya duduk di samping salah seorang teman Pak Kapitra. Jamuan makan malam itu terasa ada yang beda. KH Bachtiar Nasir bukan baru kali ini saja ia memperkenalkan siapa sebenarnya ahli hukum yang mendampinginya itu. Sebelumnya Pak Kapitra yang bergelar doktor itu juga dihadirkan dalam sesi talk show pada acara Tadabbur Kamis Malam di AQL Islamic Center. Dia adalah aktivis masjid, pecinta masjid, dan “penduduk masjid” yang hatinya begantung pada masjid, bukan hanya pada waktu-waktu shalat lima waktu.

Ada banyak kisah inspiratif dan pengalaman spiritual terlontar dari bibir Pak Kapitra yang juga alumni Ponpes Modern Gontor tersebut. Hidup dan segala aktivitasnya kini semuanya digantungkan di bawah kubah masjid, di mana pun ia berada. Ada dua hal yang dibahas pada malam itu yang bisa menjadi inspirasi kita. Semuanya adalah pengalaman hidup ketua tim advokat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) itu.

Pertama, hidup bersama Al-Qur’an dengan rutin membacanya setiap hari. Bahkan, siapa sangka jika ahli filsafat yang menempuh pendidikan hingga ke Jerman ini menjadikan target membaca Al-Qur’an 10 juz setiap hari? Membayangkannya tentu tidak sulit, namun merealisasikannya  yang teramat sulit. “Ah, tidak sulit juga kalau sudah terbiasa. Kalau saya sudah baca Qur’an, saya sangat menikmatinya. Selepas zuhur sampai datangnya waktu ashar, saya selalu gunakan untuk mengaji,” sergah Pak Kapitra dalam obrolan ringan malam itu, tapi khidmat.

Jika dalam sehari tidak selesai membaca 10 juz, ia merasa berutang. “Hari ini saya masih berutang 5 juz ustadz. Di lain hari, Pak Kapitra juga pernah bilang, wah hari ini saya berutang 4 juz. Kata-kata ini menyentak saya dan saya tanya ada apa sebenarnya dengan Pak Kapitra ini,” papar KH Bachtiar Nasir, mencoba mengingat-ingat kembali beberapa kali kebersamaannya dengan Pak Kapitra.

“Dalam hidup ini kita harus punya target. Beruntunglah orang yang punya target akhirat. Ini adalah perniagaan yang tidak pernah merugi selamanya,” kata KH Bachtiar Nasir sambil menyitir sebuah ayat tentang tiga macam perniagaan dengan Allah SWT.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al-Qur’an), mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 30).

Terlebih menghadapi bulan Ramadhan yang segera tiba, perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Ini juga yang terus menerus menjadi pesan KH Bachtiar Nasir dalam berbagai kesempatan, dalam khutbah Jumat, subuh berjamaah, atau tabligh akbar, dalam tausiah dan sambutan-sambutannya, “perbanyaklah membaca Al-Qur’an”. Al-Qur’an adalah penyelamat kehidupan, tuntunan hidup, petunjuk pada kebenaran, dan navigasi menuju surga di akhirat kelak. (Bersambung/ penulis adalah   Ketua Media AQL Islamic Center) 

Sebarkan Kebaikan!