Perayaan Hari Natal dan Tahun Baru dalam Tinjauan Sejarah

PADA bulan Desember, ada dua isu utama yang sering menjadi perdebatan dalam tubuh umat Islam, khususnya di Indonesia, yaitu: perayaan Natal (baik mengucapkan selamat, ikut merayakan atau atribut lainnya) dan perayaan malam tahun baru di penghujungnya. Terkait masalah ini, ada yang mengharamkan, ada pula yang membolehkannya. Penulis tidak membahas hukum fikihnya yang diperdebatkan antara kedua kubu, tapi lebih menyoroti sisi historis; sehingga pembaca nanti bisa menyimpulkan sendiri mengenai masalah ini dengan arif dan bijaksana.

Bila ditilik dengan kaca mata sejarah, baik mengenai perayaan Natal atau Tahun Baru Masehi, ada fakta-fakta menarik yang perlu dipertimbangkan oleh umat Islam agar tidak gampang ikut-ikutan serta latah mengikuti tradisi di luar Islam tersebut.

Pertama, mengenai hari lahir Yesus yang selama ini dirayakan pada tanggal 25 Desember, dalam internal Kristen sendiri masih diperdebatkan. Dr. Adian Husaini dalam bukunya Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal (2015: 177) mencatat beberapa contoh. Remi Syaldo (Budayawan dan Seniman Kristen) misalnya, menyebut bahwa sapaan Natal, “Merry Christmas”, baru terlembaga pada abad ke-16, dan perayaannya bukan pada 25 Desember, melainkan 6 Januari.

Sementara Pendeta Asali M. Div, menyatakan bahwa banyak literatur yang menyebutkan bahwa tanggal 25 Desember merupakan peringatan Dewa Matahari yang di Romawi dikenal dengan Sol Invictus. Di sisi lain, sampai abad keempat –menurutnya- kelahiran Yesus diperingati pada 6 Januari, kemudian untuk menghormati Dewa Matahari, diubah menjadi 25 Desember.

Kedua, tahun Masehi yang acuan utamanya adalah kelahiran Yesus adalah tidak akurat. Biarawan (rahib) Dionysius Exiguus yang membuat penanggalan ini ternyata salah Hitung Tanggal Kelahiran Yesus. Maka tidak mengherankan jika Paus Benediktus XVI dalam buku Jesus of Nazareth The Infacy Narratives (2012: 61-62) menyatakan: “The starting-point for our reckoning of time -the calculation of Jesus’ date birth- goes back to the monk Dionysius Exiguus (+ c. 550), who evidently miscalculated bay a few years. The historical date of the birth of Jesus is therefore to be placed a few years earlier.” Intinya, penanggalan yang dibuat Dionysius Exiguus salah perhitungan, seharusnya kelahiran Yesus malah beberapa tahun sebelumnya.

Ketiga, pada penentuan beberapa bulan Mesehi pun terdapat kekeliruan konsep. Tapi karena sudah menjadi konsensus, maka berjalan begitu saja. Dalam Majalah Mingguan Hidup yang diterbitkan Yayasan Hidup Katolik (1992: 34) misalnya disebutkan: “September berasal dari kata Septem yang artinya bulan ketujuh.  Oktober Berasal dari kata Octo yang artinya kedelapan. Nopember Berasal dari kata Novem yang artinya sembilan. Desember Berasal dari kata Deca yang artinya sepuluh. Mengapa nama-nama bulan itu ada yang berlainan, ini disebabkan sebelum ada kalender Julian orang menghitung satu tahun menjadi sepuluh bulan. Sehingga mengacaukan perhitungan dimulainya musim-musim di Eropa.”

Keempat, atribut Natal seperti: Santa Claus adalah cerita yang bercampur mitos. Konon legenda ini berasal dari seorang pendeta bernama Nicholas. Cerita ini bercampur dengan legenda kaum pagan. Tidak mengherankan jika Paus Paulus VI menanggalkan perayaan ini dari kalender resmi gereja pada tahun 1969 (Adian Husaini, 2015: 175)

Kelima, peringatan Natal adalah bagian dari ritual keagamaan Kristen. Pakar Kristologi, KH. Abdullah Wasi’an –sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Adian dalam buku: Penyesatan Opini (2002: 9-10)- Natal adalah peringatan hari kelahiran Yesus Kristus yang dianggap sebagai anak Tuhan.

            Dari lima poin tersebut, pembaca bisa menilai bahwa secara historis perayaan Natal dan Tahun Baru mengandung banyak problem: kesalahan penentuan tanggal lahir Yesus yang dijadikan permulaan tahun baru; dalam internal Kristen sendiri pun masih terdapat perbedaan mengenai penentuan lahir Yesus; kandungan tradisi serta mitos-mitos pagan yang mempengaruhi; kekeliruan konsep bulan; dan adanya unsur teologi yang bertentangan dengan Islam (seperti: peringatan lahirnya Yesus sebagai anak Tuhan, padahal dalam Islam Isa adalah hamba dan nabi Allah subhanahu wata’ala).”

Dilihat dari beberapa problem tersebut, apa benar perayaan Natal dan Tahun Baru tidak berpengaruh atau berimplikasi pada akidah muslim? Jelas memiliki implikasi. Di sisi lain, umat Islam sudah memiliki hari raya sendiri untuk dirayakan. Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah. Pada waktu itu, penduduk Madinah memiliki dua hari (yang dikhususkan) untuk bermain (dirayakan). Beliau pun bertanya, “Kedua hari ini hari apa?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari di mana kami bermain pada masa jahiliyah.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkomentar, “Sesungguhnya Allah telah mengganti untukmu dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Abu Daud)

Di samping itu, jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memperingatkan mengenai bahaya mengikuti tradisi agama lain. Bila tidak diindahkan, maka umat Islam akan mengikuti mereka sekalipun itu akan mengantarkannya pada kehancuran:

لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟

Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereke masuk lubang Dhab (sejenis kadal) niscaya akan kalian ikuti, para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?’  (jawab Rasulullah), ‘Siapa lagi.’” (HR. Bukhari, Muslim). Berdasarkan hadits ini, semoga umat Islam bersikap secara arif dan bijak dalam menyikapi problem yang tiap tahun diperdebatkan ini. Wallâhu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!