ArtikelOpini

Peran Pemuda Sebagai Agen Perubahan

“Hari ini adalah sejarah untuk masa depan” kata Buya Hamka. “Perjuangan masa kini sesungguhnya hinggap di bahu para pemuda. Meneruskan tongkat estafet perjuangan generasi sebelum mereka.” Lanjutnya.

Namun pemuda yang dimaksud Buya Hamka bukanlah pemuda tanpa isi. Para pemuda Islam harus menguasai ilmu agama maupun ilmu umum agar mampu menjadi penerang bagi kehidupan umat Islam saat ini. Agar tidak menjerumuskan. Agar menegakkan keadilan dengan ilmu, bukan hawa nafsu. Pemuda dan Intelektualitas inilah yang akan menentukan jejak masa depan.

Sebagai tulang punggung perubahan, pemuda juga tidak boleh alergi membicarakan politik. Karena dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah telah dijelaskan tata cara memilih pemimpin dan tata cara megelolah Negara serta bagaiamana menjalankan misi keadilan dalam sebuah masyarakat. Indonesia menjadi salah satu pilar peradaban Islam, dan pemuda Islam Indonesia tidak boleh ketinggalan dalam mengambil kesempatan itu.

Akan tetapi, Indonesia pemilik kuantitas muslim terbesar di dunia masih lemah pada sisi kualitas. Salah satunya adalah lemahnya kaderisasi kepemiminan pemuda Islam, pada tingkat eksekutif maupun tingkat non-eksekutif. Hal ini dikatakan oleh Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir dalam dialognya bersama Ustad Felix Siauw di Turki beberapa hari lalu. Menurut UBN, saat ini ada kemandulan dalam melahirkan pemimpin-pemimpin Islam. Tentu ada beberapa faktor penyebabnya.

Mengenai krisis kepemimpinan itu, Ustad Felix Siauw memberikan pandangan bahwa hal tersebut adalah hasil pembinaan masa lalu. Negara dibentuk bukan atas dasar perang pemikiran yang diberikan kepada anak-anak muda. Pemahamam yang selalu diajarkan kepada anak muda adalah agama dan politik itu berbeda, harus dipisahkan. Artinya jika hendak beragama maka jangan berpolitik. Jika ingin berpolitik maka tidak boleh beragama. Narasi-narasi seperti ini yang terus digaungkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Anak muda yang terbiasa dengan cara pandang itu akan memisahkan agama dan politik. Bagi mereka politik tidak boleh dibicarakan dalam masjid dan agama tidak boleh dibawa dalam mengelolah Negara. Ini adalah kehancuran yang menghambat kemajuan kualitas muslim terbesar di dunia ini.

Namun satu hal yang harus disyukuri, saat ini, di Indonesia, anak muda sudah menangkap sinyal dan mulai terjung ke dunia politik dan membawa bendera Islam. Misalnya, anak muda yang terjung ke media sosial sudah melirik peristiwa-peristiwa politik. Ketika melihat ketidakadilan mereka gerah dan berusaha melakukan perlawanan semampu yang mereka bisa lakukan.

Tetapi dalam kondisi seperti ini, pemuda juga tidak boleh bergerak sendiri. Menurut Ustad Felix ketika ditanya apa yang harus dilakukan pemuda dalam kondisi demkian, “Kita harus berkaca pada Ashabul kahfi,” ucapnya.

 

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

 

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (QS. Al-Kahfi: 13)

Pemuda masa kini harus berkaca pada pemuda kahfi. Pemuda kahfi dijanjikan oleh Allah hidayah dan hal itu tidak diberikan kepada selain mereka. Ada sesuatu yang diberikan kepada pemuda yang tidak diberikan kepada kaum tua. Mentadabburi ayat di atas, syarat untuk menjadi “pemuda kahfi” adalah beriman kepada Allah Swt.

Tidak hanya hidayah tambahan, tapi juga diberikan kesadaran untuk berdoa meminta petunjuk ketika salah.

 

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

 

Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS. Al Kahfi: 14)

Hal inilah yang membuat mereka selalu dibimbing oleh Allah Swt. Walakin, dalam konteks kekinian, Allah memberikan wewenang kepada para Ulama sebagai ahli waris nabi untuk membimbing para pemuda. Ulama dan orang shaleh adalah perantara Allah untuk membimbing para pemuda. Ulama juga harus sadar bahwa pemuda adalah asset mahal masa depan Islam maka mereka harus mengfokuskan kaderasasi kepada para pemuda. Pemuda harus dibimbing agar tidak jalan sendiri.

Menurut Ustad felix, pemuda itu terbagi dua, pemuda kahfi yang mendapat bimbingan dan pemuda “khawarij”, yaitu pemuda yang berjalan sendiri karena tidak mendapat bimbingan.

Pemuda tidak dibenarkan passif atas persoalan yang terjadi, harus berpartisipasi aktif. Partisipasi yang didasari dengan keimanan kepada Allah dan selalu bersinergi dengan ulama agar mendapat bimbingan dalam bertindak. Ada dua kesadaran yang harus dimiliki, pertama kaum tua harus sadar bahwa kemampuan mereka hanya penggagas ide dan pemudalah yang menjalankan ide itu. Kedua pemuda juga harus sadar agar tidak pasif harus berpartisipasi aktif dan selalu meminta bimbingan para Ulama.

Pemuda adalah pelopor perubahan suatu bangsa. Pemuda adalah pundak kebangkitan peradaban Islam. Tidak salah jika Rasulullah SAW dalam pidato pertamanya mengumpulkan 90% anak-anak muda. Karena yang akan dilakukan adalah perubahan. Pemuda adalah harapan Islam pada masa depan. “Sebab itu pelajarilah Islam. Pelajarilah dasar akidahnya sehingga mantap, lalu kuatkan dengan ibadah, sampai menjadi darah daging.” Pesan Buya Hamka.

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close