Peran Ibu dalam Melahirkan Ulama (Bagian I)

IBU sangat berperan besar dalam melahirkan ulama. Bagaimana tidak, dibandingkan dengan seorang ayah, ibu lebih banyak memiliki waktu luang dan secara total bisa mendidik anak.  Di sisi lain, ibu memiliki kedekatan emosional dengan anak-anak yang jauh lebih besar dan sangat antusias dalam memberikan yang terbaik buat mereka. Profesinya adalah melahirkan generasi yang membanggakan di dunia. Maka, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ibu adalah madrasah. Tentu saja dengan catatan, kepentingan umat Islam menjadi pusat perhatiannya.

Karena itulah, sangatlah tepat jika Hafidz Ibrahim dalam syairnya bersenandung:

Ibu laksana sekolah                

            Jika disiapkan (dengan baik) maka lahir generasi berperangai (berkepribadian) baik

Ibu bagaikan taman               

            Jika rajin disiram maka daunnya akan bertumbuh lebat

Ibu seperti gurunya  guru pertama    

            Yang prestasinya menyebar ke segenap ufuk

Aku tidak pernah melihat tempat makhluk (yang paling pas)

            Untuk mendidik anak seperti pangkuan ibu

Pangkuan ibu adalah madrasah yang bisa (membuat) baik

            Pendidikan anak lelaki dan perempuan

Akhlak bayi dinilai baik

            Berdasarkan akhlak wanita yang melahirkannya

(al-I’lâm, VI/76).

            Ibu-ibu agung seperti Ibunda Zaid bin Tsabit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Rabi’ah, Sufyan Ats-Tsauri, Imam Syafi’i. Imam Ahmad, dan Imam Bukhari bisa dijadikan teladan untuk melahirkan ulama dari rahim ibu.”

Saat Zaid bin Tsabit berusia tiga belas tahun, dirinya sangat ingin berpartisipasi dalam gelanggang jihad Badar Kubra. Sayangnya, ia ditolak karena usianya masih sangat muda. Akhirnya ia pulang, hatinya pilu, matanya berkaca-kaca di hadapan ibunya. Ketika ibunya melihat kondisi Zaid, ia membesarkan hati anaknya. “Jika kamu belum bisa berkontribusi di medan tempur, maka berkontribusilah sesuai kemampuanmu di bidang keilmuan.”

Rupanya kata-kata ibunya ini membuatnya asanya kembali tumbuh. Pemuda yang dibakar gelora jihad ini akhirnya menekuni bidang keilmuan. Di usianya yang relatif muda, ia sudah banyak menghafal ayat-ayat al-Qur`an. Ketika Rasulullah tahu potensinya, Zaid disuruh belajar bahasa orang Yahudi (HR. Abu Daud, Ahmad, Hakim). Zaid pun bisa mempelajarinya hanya dalam waktu tujuh belas malam.

Di kemudian hari, ia mengemban amanh menjadi penulis wahyu yang agung. Saat menulis wahyu di masa Abu Bakar, usianya baru dua puluh tiga tahun. Demikianlah peran ibu Zaid yang pandai membesarkan hati dan menemukan potensi anaknya sehingga mendorong anaknya menjadi ulama.

Ibu Mu’awiyah bin Abu Syufyan pun tidak kalah baik dalam mendidik anaknya. Sewaktu ada yang mengatakan bahwa kelak anaknya ini akan menjadi pemimpin besar. Dengan segera ia menjawab, “Celakalah aku jika ia tidak menjadi pemimpin besar.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, VIII/118). Mu’awiyah pun dididik dengan sangat baik. Puteranya ini kelak menjadi salah seorang penulis wahyu dan menjadi Khalifah Bani Umayyah. (Bersambung)

*Disadur dari tulisan  Dr. Ragib As-Sirjani oleh Abu Kafilah 

Sebarkan Kebaikan!