Peran Ibu dalam Melahirkan Ulama (Bagian II)

KISAH lain yang tidak kalah menarik adalah ibu dari seorang ulama bernama Rabi’ah al-Ra`yi, guru Imam Malik. Tatkala suaminya diutus ke Khurasan pada masa pemerintahan Umawiyah, Rabiah masih dalam kandungan. Ia berpesan kepada ibu Rabi’ah agar mendidik anaknya dengan baik supaya menjadi ulama. Diberilah ia uang tiga puluh ribu dinar.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, saat ia kembali dari Khurasan, ia memasuki Masjid Madinah. Rupanya di situ ada ulama besar yang dikerumuni banyak orang.  Ketika ditanya siapa gerangan ulama tersebut, ternyata anaknya sendiri Rabi’ah bin Abdurrahman. Saat pulang ke rumah, ia menceritakan perihal anaknya kepada istrinya. Kemudian istrinya bertanya, “Kamu lebih suka mana, kehilangan uang tiga puluh ribu dinar atau melihat anaknya menjadi ulama?” dengan tegas ia menjawab, “Tentu aku lebih suka melihat anakku jadi ulama. Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakannya.” (Ibnu Khillikan, Wafayaatu al-A’yaan. II/289-290).

Di balik kebesaran ulama sekaliber Sufyan Ats-Tsauri, ada seorang ibu hebat. Sewaktu Sufyan hendak menuntut ilmu karena keprihatinan akan lenyapnya ilmu, ibunya di garda depan dalam mendukung anaknya. Ia meyakinkan anaknya tidak perlu mengkhawatirkan masalah biaya. Ibunya yang berprofesi sebagai pemintal kain membiayai pendidikannya. Di antara nasihat emasnya kepada Sufyan Ats-Tsauri adalah, “Duhai ananda, jika kamu menulis sepuluh huruf, maka lihatlah apakah kamu bertambah takut, santun dan tenang, jika tidak maka ilmu itu hanya membahayakan dan tidak bermanfaat bagimu.” (Ibnu Jauzi, Shafwatu al-Shafwah, III/189).

Nasihat Ibunda Sufyan Ats-Tsauri: “Duhai ananda, jika kamu menulis sepuluh huruf, maka lihatlah apakah kamu bertambah takut, santun dan tenang, jika tidak maka ilmu itu hanya membahayakan dan tidak bermanfaat bagimu.” (Ibnu Jauzi, Shafwatu al-Shafwah, III/189).

Imam Malik bin Anas sewaktu kecil sama sekali tidak ada keinginan untuk menjadi ulama. Justru beliau ingin belajar musik dengan harapan di kemudian hari menjadi penyanyi. Akan tetapi, ibunya tidak rela dengan keinginan Malik. Dengan tangan dingin ibunya, akhirnya keinginannya bisa diarahkan kepada pencarian ilmu. Di kemudian hari, ia menjadi ulama besar. Ilmulah yang bisa mengangkat nilai sebuah rumah meski kusam, dan meninggikan derajat orang meskipun dari kalangan orang yang fakir atau tidak mampu.

Imam Syafii sejak kecil menjadi anak yatim. Ibunyalah yang bekerja dengan keras untuk mendidik anaknya agar menjadi ulama. Di kemudian hari Imam Syafi’i benar-benar menjadi ulama besar. Imam Ahmad pun demikian, kepiawaiannya dalam bidang hadits dan fikih tidak bisa dilepas dari peran seorang ibu. Shafiyah binti Maimunah (Ibu Imam Ahmad) saat suaminya berusia tiga puluh tahun sudah meninggal dunia sehingga Ahmad yatim sejak kecil. Sepeninggal suami, dia tidak menikah lagi seperti kebanyakan wanita, ia memilih hidup janda demi mendidik anaknya. Akhirnya, perjuangannya tidak sia-sia. Anak kesayangannya ini menjadi ulama besar.

Kesuksesan Imam Bukhari dalam medan keilmuan hadits juga tidak terlepas dari peran ibunya yang begitu besar. Meski sejak kecil terlahir yatim, bahkan sempat buta, tapi ibunya tidak mau menyerah dengan keadaan. Dididiklah anaknya dengan sangat baik, diarahkan ke arah keulamaan. Pada usia enam belas tahun, ia sendiri yang mengantar Bukhari ke Mekah untuk naik haji dan ditinggal belajar di sana. Pada akhirnya Bukhari menjadi ulama besar dengan segudang prestasi.

Demikianlah beberapa contoh peran seorang ibu dalam melahirkan ulama.  Seorang ibu yang peduli dengan kebangkitan umat, dan bekerja dengan keras untuk mewujudkannya melalu kaderisasi ulama. Sehingga, manfaatnya bisa dirasakan oleh umat Islam secara umum. Wallahu a’lam.

*Disadur dari tulisan  Dr. Ragib As-Sirjani oleh Abu Kafilah 

Sebarkan Kebaikan!