Peran Ayah dalam Mencetak Pemimpin Masa Depan

Ahmad Rusli dalam kertas kerjanya  (1999) menyatakan, “pemimpin adalah individu manusia yang diamanahkan memimpin subordinat (pengikutnya) ke arah mencapai matlamat yang ditetapkan”. Sedangkan Miftha Thoha dalam bukunya Prilaku Organisasi (1983 : 255) mengemukakan, “Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya”.

Saat ini di Indonesia terjadi krisis kepemimpinan yang parah, terbukti dengan hubungan yang buruk antara orang yang dipimpin dengan pemimpinnya. Krisis kepemimpinan terjadi hampir pada semua tingkatan mulai dari tingkat yang terendah yaitu keluarga hingga tingkat yang tertinggi yaitu negara.

Melihat fenomena ini, pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir dalam khutbahnya di masjid Al Azhar, Kebayoran, Jakarta Selatan (12/1/18) menawarkan sebuah solusi dengan meneladani sosok Nabi Zakaria AS dalam mencetak pemimpin masa depan yang beriman kepada Allah.

KH Bachtiar berpendapat bahwa untuk melahirkan pemimpin masa depan, pendidikan leadership terlebih dahulu dimulai dari rumah. Tentu dalam hal ini ayah menjadi sosok yang paling bertanggung jawab sebagai pemimpin rumah tangga.

Al-Qur’an dengan jelas memberikan pedoman tentang bagaimana ayah mendidik sisi leadership anaknya. Termaktub dalam surat Ali Imran ayat 38-41 tentang bagaimana sosok Zakaria mampu melahirkan pemimpin yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Zakariah yang menjadi pengasuh Maryam melihat keajaiban yang diberikan kepada wanita paling suci itu. Sehingga dia terinspirasi untuk menjadi ayah yang shalih.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (QS. Ali Imran: 38).

Hal pertama kali yang dilakukan oleh Zakaria untuk merealisasikan mimpinya adalah berdoa. Ini adalah cara pandang seorang ayah untuk melahirkan pemimpin masa depan yang beriman kepada Allah.

Zakaria ketika berdoa, ada kekhusyuan dan ada tawakal yang sangat kuat kepada Allah. Dalam mihrabnya dengan nada lembut ia memohon kepada Allah meminta keturunan yang berasal dari sisi-Nya. Secara hukum kausalitas ia tidak mungkin mempunyai anak, sebab ada tiga tembok kemustahilan; faktor fisik, faktor usia, dan istrinya yang mandul.

Namun, dari kasus Zakaria kita mengambil pelajaran bahwa tidak semua yang terjadi di dunia ini sesuai dengan kausalitas, tapi segala sesuatu terjadi Karana kehendak Allah. Dengan doa, harapan Zakaria dikabulkan. Dia diberi anak yang bahkan namanya berasal dari Allah Swt.

Untuk itu, seorang ayah tidak serta Merta mempercayakan pendidikan anaknya ke sekolah, tapi dia yang akan pertama kali menjadi rektor untuk anaknya sendiri. Ayah sukses adalah yang menjadikan rumahnya sebagai tempat pendidikan untuk membentuk intelektualitas anak dan membentuk mental kepemimpinannya.

Pelajaran lain dari kisah Zakaria adalah dia sudah menjadi teladan sebelum mempunyai keturunan. Sehingga dia mampu melahirkan keturunan yang shalih dan tentu mampu pemimpin kuat.

Selain meneladani Zakaria dalam mendidik anak, ayah juga dituntut untuk selalu mengawasi anaknya di tengah alur kesesatan yang saat ini terjadi. Seperti mengawasi anak dalam bermedia sosial, sebab, dalam media sosial anak bisa berteman dengan orang yang paling baik dan orang paling jahat. Maka peran orang tua sangat penting untuk mengawasi anaknya agar tidak terjerumus ke dalam arus kesesatan.

Memang arus kesesatan sangat deras, tapi bagi ayah teladan selalu yakin bahwa Allah itu Maha menerima doa Hamba-Nya.

إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” (QS. Ali Imran: 38)

Seorang ulama pernah berkata, “Allah pasti mengabulkan semua doa, tapi Dia tidak mengabulkan semua harapan”.

Dengan demikian harapan yang tidak diikuti dengan doa, maka harapan itu tidak akan pernah terwujud. Ironisnya, masalah ini yang banyak menimpa para ayah saat ini, punya harapan mempunyai anak shalih tapi tidak pernah berdoa. Untuk itu para ayah, seringlah mendoakan kebaikan untuk anak tercinta, dan apa pun bentuk harapan kita iringi dengan doa.

*Gubahan M

Sebarkan Kebaikan!