Pentingnya Intropeksi Diri Dalam Kehidupan

Jika kita ingin intropeksi diri, kebanyakan waktu yang diberikan untuk Allah atau untuk perut? Kebanyakan tenaga kita gunakan untuk menghamba kepada Allah atau malah menghamba kepada mahluk? Coba kita intropeksi diri lagi.

Kebanyakan dedikasikan tenaga, waktu, dan harta hanya mengabdi kepada hawa nafsu, padahal semua itu berasal dari Allah. Banyakan mana kita bawa untuk mengabdi kepada Allah atau mengabdi kepada hawa nafsu. Maka mari kita mengevaluasi diri dari hal yang paling subtantif. Kita terus berkarya, tapi apakah hal itu semakin mendekatkan diri kepada Allah atau malah menjauhkan?

Kemudian, karena shalat menjadi momen yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka coba tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah sudah benar dilakukan untuk Allah atau hanya sekedar ritual saja?

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162)

Selanjutnya, untuk lebih menguak dan mencabut kesombongan dalam diri kita, coba renungkan firman Allah subhana wa ta’aala dalam surat az-Zumar ayat 9

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Allah lebih mendahulukan sujud daripada berdiri dalam ayat ini, padahal secara aplikatif berdiri lebih dulu dari pada sujud. Kenapa Allah mendahulukan sujud? kondisi dekat-sedekatnya seorang hamba dengan Allah adalah pada saat sujud. Lalu apakah kita sudah merasakan getaran cinta di dalam sujud? Pertanyaan ini sengaja dikemukakan untuk lebih mengorek-ngorek kesombongan diri hingga tercabut sampai keakar-akarnya.

Manusia-manusia malam yang sedang beribadah mempunyai orientasinya sendiri. Orang yang memperhatikan kedekatan dengan Allah pasti akan selalu mengejar momentum bisa dekat dengan kekasihnya dan di antaranya adalah waktu malam. Selain untuk membangun suasana keakhiratan di dalam jiwa juga untuk mengejar ridha-Nya.

Orang-orang yang membangun kedekatan dengan melakukan praktek sujud serta berdiri di malam hari, karena ingin merasakan dua hal penting seperti yang disebutkan dalam surat az-Zumar ayat 9. Merasakan akan kegetiran goncangan azab di akhirat dan mengharapkan keridhaan Allah subhana wa ta’aala. Sebab kondisi membangun keakhiratan itu tidak bisa di siang hari. Secara normal dan mulus untuk membangun suasana keakhiratan itu cocoknya pada malam hari.

Allah telah mejadikan malam sebagai waktu yang paling syahdu untuk berdua dengan-Nya dan menjadikan sujud sebagai momen yang paling dahsyat untuk merasakan getaran cinta-Nya.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar: 9)

Tentu sangat berbeda orientasi orang yang mengetahui kedahsyatan waktu malam untuk mendekatkan diri kepada Allah daripada orang yang tidak mengetahui. Allahu a’alam bish shawab

*Gubahan M

Sebarkan Kebaikan!