Pentingnya Belajar Bahasa Arab untuk Memahami al-Qur’an

JAKARTA (AQLNEWS) – Seorang dosen dan pakar bahasa Arab dari Yaman, Syaikh Dr Muhammad ‘Ali Jibron Al Yamany, mengulas pentingnya mempelajari dan menguasai bahasa Arab untuk memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an secara sempurna. Hal itu disampaikan saat berkunjung ke AQL Islamic Center di hadapan jamaah shalat Mahhrib, Selasa (9/5/2017).

Dia mengatakan, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab sehingga bahasa Arab tidak dikhususkan hanya kepada orang Arab. Tidak ada perbedaan antara orang Arab dan non-Arab dalam memahami al-Qur’an. Kemuliaan itu tergantung bagaimana memahami al-Qur’an, dan pemahaman yang paling benar tentu menggunakan bahasa Arab.

Hal itu disampaikan oleh Syaikh Dr Muhammad ‘Ali Jibron Al Yamany, saat berkunjung ke AQL Islamic Center, Jakarta, Selasa (9/5/2017).

Menurut peraih gelar doktor di bidang Ilmu Bahasa Arab ini, ada empat cara untuk memahami al-Qur’an. Pertama, memahami al-Qur’an dengan al-Qur’an. Cara inilah yang paling utama, yaitu memahami satu ayat dengan ayat lain yang senada.

Kedua, memahami al-Qur’an dengan Sunnah (hadits). Apa yang tidak dipahami dalam al-Qur’an dan tidak ditemukan ayat yang senada maka penafsirannya lewat hadits Nabi SAW. Ketiga, memahami al-Qur’an dengan memahami dari atsar atau penafsiran oleh para sahabat. “Mengapa dari sahabat? Karena para sahabat hadir bersama Rasulullah SAW ketika al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi SAW. Setiap sahabat punya pendapat masing-masing tentang tafsir al-Qur’an. Maka tidak heran jika ada perbedaan pendapat di antara sahabat mengenai tafsir al-Qur’an tetapi perbedaan itu tidak menimbulkan perselisihan yang menimbulkan perpecahan,” katanya.

Keempat, jika tidak ada penjelasan dari tiga poin di atas maka pahamilah dengan menggunakan bahasa Arab.
Jika tidak ada penjelasan al-Qur’an dari cara yang pertama, kedua, dan ketiga, maka cara keempat adalah dengan memahami bahasa Arab.

Menurut dia, jika tidak ada pembahasan sebuah ayat dari ayat lain, tidak pula dari hadits Nabi, maka penjelasan para sahabat sangat membantu. Namun, jika tidak ada juga dari sahabat, maka penjelasan ayat itu dikembalikan ke makna katanya dalam bahasa Arab.

Dalam al-Qur’an ada hukum, syariat, nasehat, perintah, dan larangan. Lalu bagaimana memahami semua itu jika tidak menggunakan bahasa Arab. Mungkin ada yang memahaminya tapi tidak mendalam karena hanya lewat terjemahan. Jika hanya lewat terjemahan saja, bagaimana bisa memahami dan mengamalkannya secara mendalam? Bagaimana pula medapatkan nilai yang terkandung dalam al-Qur’an jika tidak paham bahasa Arab?

Firman Allah SWT:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkan itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.” (QS an-Najm:1-3)

Apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW adalah wahyu sehingga apa yang dikatakannya bukan berasal dari hawa nafsu. Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW itu dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Semua yang ada di dalam al-Qur’an itu adalah kebenaran.

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ. فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ.

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan” (Q.S. an-Najm:4-10)
Allah SWT mengutus Jibril untuk menyampaikan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Yang membawa wahyu kepada Rasulullah SAW itu adalah penghulu para malaikat yaitu, Malaikat Jibril AS. Bahkan Allah SWT menjelaskan dalam surat an-Najm bagaimana Dia menurunkan al-Quran dan tahap-tahap Jibril menyampaikan wahyu kepada utusan-Nya.

Jika kita membaca al-Qur’an tapi tidak memahaminya bagaiman kita bisa menyampaikannya kepada orang lain. Bagaimana kita menyampaikan apa yang tidak difahami kepada orang lain. Padahal al-Qur’an itu diturunkan supaya kita menyampaikan kepada orang lain.

Semakin kita memahami ayat-ayat al-Qur’an maka keimanan kepada al-Qur’an akan semakin dalam daripada hanya sekedar membaca tanpa memahami maknanya.

Ada seorang Arab ketika mendenga surat ath-Thur dibacakan ia jatuh tersungkur dari kudanya. Karena dia memahami makna dari ayat surat ath-Thur, sama seperti Umar bin Khattab ketika mendengar surat ini dibacakan ia menjadi sakit. Pemahaman terhadap ayat al-Qur’an membuat hati bergetar dan tersentuh jiwanya sehingga membuat Umar sakit dan orang Arab itu terjatuh dari kudanya.

Apa yang membuat orang memilih Nasrani, melakukan maksiat dan meninggalkan perintah Allah SWT? Karena kurang pahamnya mereka terhadap al-Qur’an. Padahal al-Qur’an adalah jalan lurus yang ditunjukkan oleh Allah SWT untuk para hamba-Nya.

Imam Syafi’i ketika membaca surat al-Ashar mengatakan, “Seandainya Allah SWT hanya menurunkan surat ini, maka sebenaranya bagi manusia itu sudah cukup”

Satu hal yang harus diingat adalah bahwa Imam Syafi’I sebelum mempelajari al-Qur’an dan fikih beliau adalah ahli bahasa arab. Ulama-ulama bahasa mengakui keunggulan imam Syafi’I dalam pemahamannya terhadap bahasa arab.

Ada banyak ulama-ulama non-Arab yang sangat ahli dalam bahasa Arab. Hal ini membuktikan bahwa bahsa Arab itu bukan hanya bagi orang arab. Seperti Imam Hambal, Imam Bukhari, Abu Daud, an-Nasa’i, Ismail bin Muhammad al-Jauhari dan penulis kamus bahasa arab ash-Shihah bukan orang Arab, kamus al-Munawir juga bukan orang Arab dan banyak sekali ulama-ulama yang terkenal bukan asli orang Arab.

Ulama-ulama itu bisa melebihi orang Arab dalam keilmuan dan bahasa karena mereka fokus mempelajari dan mendalami bahasa Arab. Sehingga lewat pemahamannya terhadap bahasa Arab mereka bisa memahami al-Qur’an dan sunnah secara mandalam.

Makanya untuk memahami al-Qur’an diperlukan bahasa arab dan tidak mungkin kita memahami al-Qur’an tanpa bahasa Arab. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!