Tadabbur
Trending

Pemimpin Menurut Alquran, Belajar dari Kisah Thalut dan Jalut

BANYAK orang meyakini, “Tak ada yang baru di bawah matahari.” Ungkapan ini membenarkan sejarah panjang perjalanan manusia yang menggambarkan pergulatan antara watak dan ambisi, menuliskan keadaan perang dan damai, kezaliman dan keadilan, serta kegemilangan peradaban dan kehancurannya.

Karena adanya siklus dan gambaran yang sama dalam perjalanan peradaban manusia di muka bumi ini, selain kesamaan sifat-sifat khusus yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Allah memerintahkan manusia agar mencermati peristiwa-peristiwa masa lalu dan kemudian mengambil pelajaran darinya.

Sejarah memberi kita pelajaran bahwa apa yang telah menimpa generasi terdahulu juga akan menimpa generasi berikutnya. Apa yang akan dihadapi sebenarnya juga pernah dihadapi generasi sebelum kita. langkah terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencermati apa yang sudah terjadi dan mencoba menyelesaikan apa yang sedang terjadi.  “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang yang punya wawasan.” (QS. Alhasyr : 59).

Indonesia yang saat ini akan menggelar pesta demokrasi, maka kisah tentang Thalut yang dilukiskan dalam Alquran bisa menjadi pelajaran dalam memilih pemimpin.

Thalut adalah nama seorang raja Bani Israil pada era Nabi Daud As.. Ia menjadi raja saat Nabi Daud menjadi panglima perang. Saat itu Bani Israil terombang-ambing oleh kekosongan pemimpin pasca Nabi Musa As.. Beberapa orang dari Bani Israel menghadap kepada Samuel, seorang nabi, agar mengangkat seorang raja atau pemimpin di antara mereka.

Nabi Samuel mendapat wahyu agar memilih Thalut sebagai pemimpin Bani Israel. Tapi demikianlah sifat dasar Bani Israel, mereka menolak Thalut dengan alasan bukan dari keluarga mampu mereka menyatakan bahwa kalangan mereka sendirilah yang lebih pantas dan berhak atas kepemimpinan itu. Thalut juga bukan keturunan Yahuda ataupun Lewi (keluarga bangsawan di kalangan mereka).

Sebagai seorang nabi, Sameul terus meyakinkan bahwa sosok Thalut yang diremehkan itu adalah orang yang berwawasan luas, berpengetahuan tinggi, dan memiliki postur tubuh yang perkasa. Hal tersebut termaktub dalam Alquran.

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu’. Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dari padanya, sedang diapun tidak diberikan kekayaan yang cukup banyak?’ (Nabi mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugrahinyai lmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Albaqarah : 247)

Singkat cerita, Jalut sang raja Zalim tewas di tangan Daud saat melawan pasukan Thalut yang hanya berjumlah sedikit. Hingga pada gilirannya sepeninggal Thalut, Daudpun menjadi raja.

Allah berfirman yang artinya: “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena melupakan hari perhitungan.” (QS Shaad : 26).

Dari cerita singkat di atas, kita dapat menarik pelajaran bahwa standarisasi kepercayaan kepada seorang pemimpin bukan terletak pada harta kekayaannya. Pemimpin harus berwawasan luas serta berpengatuhan tinggi. Selain secara akal, pemimpin juga harus memiliki fisik yang prima.

Pemimpin harus mampu menekan kemauan yang bersumber dari hawa nafsu, sehingga ia berkewajiban meletakkan keadilan di atas segala kepentingan yang ada. Lebih dari semua itu, yang paling mendasar sebagai pemimpin harus memiliki karakter keimanan yang baik. Sebab tidak selalu keputusan dalam menempuh kebijakan yang baik dan benar itu sekedar mengandalkan kekuatan akal-fikiran. Pada waktu tertentu, ia sungguh membutuhkan bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt. yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatunya. *Ditulis dari Kajian Ustadz Bachtiar Nasir, Kamis Malam, (28/2/2019).

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close